Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 114


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Ini namanya ikan Teri" sahut Bunda.


"Telimakasih?" timpal Sam polos.


"Hahahahahahaha, gak pake makasih juga kali, De' cukup Teri nya aja woy!" Air tertawa terbahak-bahak sampai hampir saja menggigit bahu Hujan saking gemasnya jika saja istrinya itu tak menghindar.


"Lucu banget, Jan"


"Itannya tecil, telas banet" ucapnya lagi saat Sam menyicipinya.


"Gak usah banyak protes, dede makan sup ayam aja nih" kata Hujan yang tak enak hati dengan Bunda.


"Tapi dede mahu teli, teli na ada telulnya ya?"


"Hahahaha, kacang itu bukan telor, Dikira buaya kali ah bertelor!" Air kembali tertawa sampai ada buliran air bening di ujung matanya.


"PapAy betelul?"


"Haaaaaaaaaa... iya de' telur papAy ada dua" kini Hujan yang tertawa terbahak-bahak bahkan sambil mencubit dua pipi suaminya.


"Ih, apaan sih! malu tau" ucap Air yang langsung bersembunyi di balik punggung Hujan saat melihat Bunda ikut tertawa kecil.


"Dede mahu liat telul papAy"


"Enak aja!" sahut Air sembari menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulutnya.


Semuanya menikmati makanan yang memang cukup sederhana tapi entah kenapa begitu nikmat khususnya bagi Hujan yang memang merindukan masakan Bundanya yang jarang sekali ia rasakan.


Di selingi dengan celotehan celotehan Sam akhirnya hampir semuanya tandas tak tersisa, Hujan sampai menggeleng kan kepalanya saat melihat Air mengusap perutnya yang mendadak membuncit.

__ADS_1


"Masih mau nambah?" tanya Hujan.


"Gak, kenyang banget" tolak Air yang memang sudah menghabiskannya tiga piring nasi.


"Telul papAy pindah ke pelut" kekeh Sam yang hanya di balas cibiran oleh Air.


Hujan langsung membantu Bunda membereskan sisa makan siang mereka setelah anak dan suaminya itu pergi ke teras rumah untuk melihat anak kucing yang baru saja lahir dua hari lalu.


"Makin besar makin lucu, semoga kalian selalu bahagia" ucap Bunda yang berdiri di sisi Hujan saat mencuci piring piring kotor.


"Aamin, Bun. Bunda juga semoga panjang umur dan sehat selalu biar bisa lihat Hujan bahagia dan Sam besar nanti"


"Semoga, Jan"


Hujan berhambur memeluk Bunda yang dengan tulus mengurusnya selama delapan belas tahun, Wanita korban pemer kosaan yang akhirnya memilih untuk tidak menikah sama sekali.


Lain di dapur tentu lain juga di teras, dua pewaris Rahardian itu sedang heboh melihat anak kucing yang masih di susu i.


"Tucingnya olen ya? napa nda melah aja walnanya?" tanya Sam pada Air yang berjongkok disisinya.


"Bial taya tobeli, manis telus enak banet tauuuuuu"


"Tauuuuuuu... tau bulat di goreng dadakan, ckckck" kekeh Air lagi, ia tak pernah bisa untuk menahan tawa jika sedang mengobrol dengan putranya.


"Butan itu, pAy"


Obrolan keduanya tertenti saat Air bangun dari jongkok nya karna ia merasa ada getaran ponsel di saku celana yang ia kenakan. Ia langsung merogohnya untuk mengambil benda pipih tersebut.


"Papa" gumam Air dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Sedewasa apapun ia, hal yang paling membahagiakan baginya adalah ketika kedua orangtua nya menelepon saat ada jarak di antara mereka.


"Iya, Pah"

__ADS_1


"Dede mana?" tanya Reza langsung.


"Ada nih,"


Air langsung memberikan ponselnya pada Sang anak, membiarkan Gajah dan buntutnya itu mengobrol lewat sambungan video call.


"Dede lagi apa?" tanya Reza.


"Iyat tucing lagi num susu" jawabnya antusias.


"Udah makan belum? udah siang nih, jangan lupa makan sama bobo siang ya ganteng" pesan Reza pada sang cucu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dede dah mam tadi ama Teli...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Wah ngadu si tutut πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Like komennya yuk ramaikan. 😘😘😘😘


__ADS_2