Air Hujan

Air Hujan
bab 212


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah membersihkan diri keduanya pun bergegas keluar dari ruangan kerja sang direktur menuju lift khusus para petinggi yang langsung menuju lobby parkiran.


Tangan yang saling menggengam seakan menjadi bukti betapa tak inginnya mereka terpisah satu sama lain.


"Mau langsung apa mau cari jajanan dulu?" tawar Air saat sudah berada di dalam mobil.


"Sambil jalan aja deh, nanti kalo ada yang aku mau, aku bilang" jawab Hujan yang belum merasa lapar.


"Kakak mau makan?"


Air menoleh sebentar lalu menggelengkan kepalanya.


"Udah nambah dua kali, kenyang" kekehnya sambil bersiap menghindar karna Hujan biasanya akan menyerangnya dengan cubitan di perut dan juga pinggang.


Obrolan ringan dan candaan receh mereka bincangkan selama perjalanan menuju pantai di luar kota, dengan sesekali menepi untuk membeli makanan di pinggir jalan sekedar untuk mengusir bosan dan kantuk bagi si ibu hamil yang sudah menguap berkali-kali.


"Tidur aja, Jan"


"Enggak, nanti kakak jenuh kalo aku tidur" tolak Hujan yang tak ingin suaminya fokus sendiri dengan jalanan yang lurus membentang di hadapan mereka kini.


"Gak apa-apa, dari pada nanti pas ada sunset kamu malah bikin pulau, hahaha" balas Air sambil tertawa terbahak-bahak namun malah membuat Hujan merengut kesal.

__ADS_1


"Aku yang katanya bau iler aja masih di ciumin mulu" dengus Hujan sambil mencibir.


"Nah itu dia! Aroma iler tuh paling memabukkan, ckck"


#JOROK..


****


Mobil akhirnya sampai diarea parkiran Hotel karna Air tak ingin sang istri harus kelelahan jika harus bolak balik dalam satu waktu, jalan terbaiknya adalah menginap satu malam sekaligus honeymoon dadakan bagi mereka yang kini sudah tak lagi memiliki banyak waktu di luar jika sedang berdua karna alasan pekerjaan yang menumpuk seakan tak ada habisnya.


Ditambah hitungan kurang dari empat bulan lagi nanti sudah ada malaikat kecil di antara mereka, tentu waktu dan fikiran pasangan suami istri ini akan fokus pada si bayi mungil yang sampai detik ini belum di ketahui jenis kelaminnya.


"Yuk turun, istirahat dulu sebentar. Masih ada waktu hampir dua jam lagi buat liat sunset" ajak Air sambil membuka seat belt nya dan juga Hujan.


"Terimakasih" ujarnya pada wanita di balik meja yang terlihat begitu anggun di tambah senyum manis yang pasti membuat siapapun terpesona padanya.


"Sama-sama, Tuan. Semoga hari anda menyenangkan" balas Si gadis bermata coklat itu yang menatap suami Hujan dengan begitu intens.


Wanita hamil lima bulan itu langsung bergelayut manja di lengan sang suami saat berjalan menuju lift, Air hanya melirik sesekali karna bahasa tubuh dan mata Hujan sangat berbeda, Dirinya seakan ingin membuktikan pada dunia jika pria yang berada di sisinya ini adalah miliknya tapi sorot matanya seakan mengatakan kalau ia sedang tak baik baik saja.


Cek lek


Pintu terbuka lebar saat Pria tinggi putih itu menempel kan card locknya. Keduanya masuk masih dengan langkah beriringan.

__ADS_1


Hujan melempar tasnya ke tengah meja, kemudian berjalan menuju balkon yang langsung berhadapan dengan Air laut yang membentang luas di hadapannya kini, ia pejam kan matanya seraya menikmati hembusan angin laut.


"Kenapa?" tanya Air yang memeluknya dari belakang.


"Aku cemburu" jawab Hujan tegas. Ia memang tak pernah menyembunyikan perasaan itu dari suaminya.


.


.


.


.


.


Untuk apa cemburu? bukankah kamu tahu bagaimana perasaanku? mencintaimu bagai Air laut yang pasang surut selalu ada, namun air laut tak pernah berubah rasa.


☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


Hati gue cenat cenut kaya kesetrum kak...🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2