
ππππππ
"Gak ada yang lain?" protes Air saat Hujan menyodorkan satu piring besar berisi aneka sayuran warna warni, udang, bakso, jamur dan suiran ayam.
"Makan aja yang ada, gak usah nyari yang laen" cetus Hujan.
"Bikin mie instan deh"
"Gak!" tegas Hujan dengan sorot mata tajam tak ingin di bantah.
Wanita yang sudah menjadi menantu Rahardian selama sepuluh tahun itu memang sedang menghukum suaminya, Air kembali gila pada permainan gamenya, Tiga malam ini ia hampir tidur di waktu subuh saking asiknya berperang di layar benda pipih yang ia pegang saat Sam sudah tidur.
"Ayolah, Moy. Aku laper banget nih" mohon Air setelah ia menggeser piring di depannya.
"Ya itu dimakan, nasinya hangat sama kerupuknya juga udah ada, terus yang kurang apa?" tanya Hujan.
Hanya dengan cara ini biasanya sang Suami sadar jika istri tercintanya sedang mengamuk, Air tak mempan di diamkan karna ia justru yang akan balik merajuk dan menggoda, ia juga tak kuat di beri sangsi puasa malam karna nyatanya ia masih bisa mengacak-acak area kebun kecilnya untuk si ekor buaya main basah basahan.
Hujan juga tak bisa pergi dari rumah, karna para wanita Rahardian pantang keluar tanpa izin suami. Semua masalah kecil atau besar harus selesai di dalam rumah.
__ADS_1
"Ayo habisin, dimakan yang banyak biar matanya kuat melek, Kak" sindir wanita yang sudah melahirkan Samudera ke dunia.
"Kuat melek itu ngopi, bukan makan wortel sama brokoli" cetus Air, rasa laparnya benar-benar tak bisa ia tahan.
"Yang penting kenyang, sini aku suapin" ucap Hujan sambil meraih piring berisi nasi lalu ia juga menambahkan sayuran yang di masaknya barusan.
"Gak mau!" tolak Air.
"Biasanya juga seneng kalau aku suapin, Kak"
Air tetap menggelengkan kepala, ia malah memilih mengigit kerupuk udang dalam toples kaca.
"Ya udah, hari ini gak usah makan, kakak maen game sambil tahan laper sana"
"Ya udah ini makan"
Perdebatan pun terus terjadi, tak ada yang mau mengalah sama sekali membuat energi Air benar-benar terkuras habis. Mau tak mau dan suka tak suka akhirnya ia membuka mulut saat tangan halus sang istri sudah berada di depannya dengan sendok berisi nasi dan wortel.
"Nah, coba dari tadi, udah abis nih sepiring"
Oeeekk..
__ADS_1
Rasa mual mulai menjalar ke perut Air, ia tak bisa menerima si wortel masuk kedalam mulutnya.
"Telen!"
"Gak bisa, aku enek" jawabnya tak lagi bisa mengunyah.
Air bangkit dari duduk kemudian berlari ke wastafel untuk memuntahkan apa yang ada dalam mulutnya.
Keringat sebesar biji jagung membanjiri kening dan lehernya. Tubuhnya langsung lemas karna bulu halusnya meremang.
"Enak, kak?" tanya Hujan saat Menghampiri suaminya.
"Gak enak, Moy"
"Nah, nanti kalau kamu sakit karna kurang istirahat lebih parah dari ini rasanya, mau? gak enak makan di tambah minum obat, siapa yang rasa, aku? bukan, kan? bahkan dua adek kembar kamu yang dulu dalem perut sama kamu bareng-bareng aja gak bakal mau nalangin minum obat!"
Hujan terus saja mengomel panjang kali lebar, ia yang seorang dokter tentu tahu batas kemampuan seseorang jika terus bergadang. Bukan hanya ia yang nanti repot pasti kedua mertuanya pun akan pusing tujuh keliling mengurusnya.
.
.
__ADS_1
.
Ok, ini yang terakhir aku main game. Maaf dan terima kasih karna selalu menegurku dengan caramu sendiri.