
ππππππ
"Aku mencintaimu" Air mencium lama kening Hujan dengan sangat lembut sambil menekan lagi miliknya hingga tenggelam semua dalam kebun kecil.
Hujan yang merasa begitu sesak hanya bisa merintih apalagi saat Air memulainya meski dengan ritme yang sangat pelan, di tambah rasa sakit masih ia rasakan, bagaimanapun ini pertama kalinya bagi mereka setelah berpuasa bathin selama dua tahun.
Air menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri saat ia menyemburkan beberapa kali lahar panasnya secara langsung menembak dalam rahim Hujan.
Nafas keduanya begitu berat dengan debaran jantung berkali lipat.
Kepuasan dan bahagia sedang mereka rasakan secara bersama.
"Kak.. berat" keluh Hujan meminta Suaminya bangun dan turun dari atas tubuhnya
Air langsung tertawa kecil, ia hanya menggulingkan badannya lalu mendekap Hujan dengan sangat erat tanpa melepas miliknya yang masih tertanam, ia akan membiarkan si sangar menjadi imut kembali secara perlahan ditempatnya.
.
.
.
.
"Masih sakit?" tanya Air saat keduanya bangun di pagi hari.
"Perih" jawab Hujan yang kembali meringis.
Air menciuminya lagi bertubi-tubi sampai Hujan harus tergelak karna rasa geli dan bahagia.
"Aku mencintaimu, Sangat sangat mencintaimu"
Hujan menangkup wajah suaminya yang sejak semalam tak hentinya mengucapkan kata cinta karna ini pertama kalinya Ia dengar meski sudah empat tahun mereka membina rumah tangga.
"Akupun mencintaimu, Terima kasih atas rasa sabarmu" lirih Hujan yang malah menitikkan air mata.
"Kok nangis?"
"Aku TERHURAAAAA" ucap Hujan
"Heh, Itu kan kalimat ajaibnya kakak" protes Air sambil mencubit pipi Hujan yang tertawa.
.
__ADS_1
.
Puas bercanda dan saling menggoda di balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka, keduanya pun bergegas mandi dan bersiap diri.
"Gak apa-apa kan di tinggal lagi?" ujar Air sambil menyisiri rambut Hujan.
"Ada Mbak, ada mama" jawabnya sedih.
Air langsung memeluk sang istri dari belakang, menyesap harumnya tubuh Hujan yang selalu menjadi candu baginya.
"Hari ini gan bisa ikut, kakak lebih banyak di luar di banding di kantor. Kalo nanti kerjaan kakan full di kantor kamu baru boleh ikut ya. Hari ini sama mama dulu" Rayu Air yang tahu jika istrinya tak ingin di tinggalkan.
Dua tahun bersama dan bergantung dalam segala hal tentu sulit bagi Hujan tanpa suaminya.
Rasa kehilangan sudah ia rasakan padahal Air masih memeluknya dengan sangat erat.
"Sarapan yuk" ajaknya sambil bangun dari duduk lalu mengulurkan tangannya.
Keduanya keluar dari kamar dengan saling menggenggam, raut bahagia dan senyum di ujung bibir sama sekali tak lepas dari wajah mereka yang kini menuruni anak tangga.
"Pagi, Semuanya" sapa Air dan Hujan.
"Pagi sayang"
Air menarik kursi untuk Hujan sebelum ia duduk di kursinya sendiri.
"Aku mau ini"
"Habis sarapan baru makan buah, sekarang makan nasi dulu" timpal Melisa yang ikut merayu menantunya.
Hujan yang pasrah akhirnya menurut, ia menyiapkan satu sendok nasi dengan kuah sayur Khusus untuknya.
"Cukup, akun kenyang"
Air menghela nafas, mencoba tersenyum meski ia kesal karna sangat istri hanya memakan tiga sendok nasi saja.
"Tapi siang makan lagi ya?"
Hujan hanya mengangguk sambil menusukkan garpu ke buah apel.
Air yang kembali melanjutkan sarapannya sesekali melirik kearah Reza yang sedari tadi diam bahkan seakan tak menikmati makanannya.
"Pah... kakak basah loh" goda Air sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Bodo ah!!" jawab Reza kesal melirik tajam kearah istrinya yang cuek mengabaikannya.
"Gak kaya Papa" kekeh si sulung tak tahan menahan tawa.
"Kenapa?" tanya Reza bingung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kering kerontang....
ππππππππππππππ
Sabar bang.. tar gue timpuk anak lo ..
__ADS_1
cup.. cup.. sini aku peluk..di tumpang tindih juga gak apa apa π€ͺπ€ͺπ€ͺπ€ͺ
Like komennnya yuk ramaikan