
πππππππππ
"Pah, itu Baby Bear bukan anak Gajah!" cetus Air saat membuka pintu kamar kedua orang tuanya.
Ia yang masih berdiri di ambang pintu langsung masuk dan naik ke atas tempat tidur.
"Anak papa woy" ledek Reza semakin memeluk Samudera dengan erat.
"Anak kakak, papa bikin sana" Titahnya dengan wajah di tekuk.
"Bikin hampir tiap malem tapi gak jadi-jadi" jawab Reza yang malah usel usel gemas pada cucunya, Samudera yang merasa geli justru tertawa sambil menjerit.
"Kamu urus Hujan dulu sana, kalau udah baikan baru Sam sama Hujan lagi, biarin dia istirahat total jangan kamu ganggu" pesan Reza yang tak ingin justru mantu dan Cucunya itu sakit secara bersama.
"Hujan cuma sakit perut, bukan demam."
"Intinya tetep sakit!" tegas Reza tak ingin ada bantahan mengingat usia Baby Bear yang masih sangat rentan dengan segala macam penyakit.
Air yang mengalah kembali keluar dari kamar orang tuanya setelah menciumi kedua pipi bulat Samudera yang putih kemerahan jika sedang tersenyum, ia bergegas turun lagi ke bawah mengambil sarapan untuk Hujan.
Cek lek..
Dua wanita yang sedang mengobrol di sofa dekat TV itu pun langsung menoleh saat Air membuka pintu dengan sedikit keras, sebab nampan yang ia pegang ternyata menyulitkan Air memegang knop pintu kamarnya.
"Aku kenyang" ucap Hujan padahal Air belum memintanya untuk mengisi perut.
"Makan apa?"
Hujan hanya menunjuk beberapa bungkus bekas kue yang berserakan diatas meja serta beberapa lagi yang belum di buka.
Tak hanya satu macam tapi berbagai bentuk dan warna ternyata sudah masuk kedalam perut sang istri direktur Rahardian Group itu.
"Kamu udah makan kue Kutu?" tanya Air pada Hujan yang jawab gelengan kepala.
"Hujan mintanya dadakan, Aunty gak sampet cari" timpal Ameera dengan tangan dan mata fokus pada benda pipih di tangannya.
"Kok Gak minta sama kakak" protes Air yang kesal.
"Aku udah minta kue putu tapi kakak keukeh bilangnya kue kutu, kan aku takut" oceh Hujan.
"Takut apa?" kini Air dan Ameera bertanya secara berbarengan.
"Takut kakak gak nemu terus di bawain kutunya, Ooeeek!"
Hujan yang mual langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan Suami dan tantenya yang melongo dengan sikap aneh Hujan.
__ADS_1
"Coba kamu cari gih" titah Ameera pada keponakannya yang di jawab anggukan malas karna Air pun merasa lapar.
Si tampan dengan tubuh tinggi itupun berlalu keluar dari kamarnya lagi setelah mengambil beberapa kue untuk mengganjal perutnya yang kosong sedang minta di isi.
"Mau kemana?" tanya Melisa saat berpapasan dengan Air di ujung tangga.
"Cari kue kutu"
"Putu kali, kak" jawab Melisa membenarkan ucapan anak kesayangannya.
"Iya, bentuknya kaya apa sih?"
"Warna hijau, dalemnya ada gula merah yang atasnya di kasih kelapa"
"Kepala muda?" kekeh Air.
"Kepala buntung, kak!" cetus Melisa dengan lirikan tajam.
Air yang takut di timpuk sendal oleh mamanya buru buru turun sebelum benda itu benar benar-benar mendarat sempurna di kepalanya.
.
.
.
"Tuh dia tukang kue" ucapnya dengan mata berbinar.
Air langsung menepikan motor besarnya di salah satu ruko yang masih tutup, turun dan berjalan menuju pedagang kue pinggir jalan.
"Cari kue apa, Mas?" tanya seorang ibu ibu saat ia datang dan berdiri di depan meja yang terhampar aneka kue basah dan kering.
"Cari kue yang ijo, ada gula merah sama kepala di atasnya?" jawab Air pelan takut orang lain mendengar.
"Kelapa?"
"Nah iya itu, ada?" tanya Air memastikan jika ciri-ciri kue yang disebutkannya itu ada.
"Ada, mau berapa?"
"Sepuluh aja" jawabnya sambil memilih kue yang lain.
"Ada lagi?"
"Ini, ini, sama ini" jawab Air sambil menujuk beberapa kue yang ia makan selama si ibu tadi menyiapkan pesanannya.
__ADS_1
"Terimakasih"
Air yang sudah mendapatkan apa yang ia cari memilih langsung pulang, ia menjalankan motor besarnya itu dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di apartemen.
Dan sesampainya di gedung pencakar langit langkah kaki panjangnya pun segera bergegas naik lift.
.
.
Cek lek
Sampai di apartemen tak ada siapapun di ruang tengah membuat ia segera naik ke lantai atas kamarnya.
"Jan... " panggilnya saat membuka pintu kamar.
"Kamu dari mana?" tanya Hujan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Beli kue pesenan kamu, kue Kutu" jawab Air sambil menyodorkan bungkusan plastik.
"Aunty udah pulang?" Air mengedarkan Pandangan mencari sosok wanita berambut pirang.
"Di kamar mama lagi maen sama dede" jawab Hujan sambil mengeluarkan isi bungkusan tersebut.
"Abisin ya, aku carinya susah dan jauh" pinta Air dengan menaik turunkan alisnya.
"Gak, kamu aja yang abisin!" dengus Hujan kesal yang kemudian menyerahkan isi dari dalam plastik tadi pada sang suami.
"Kenapa?"
.
.
.
.
.
.
Ini tuh LUPIS bukan PUTU..
__ADS_1
Cari lagi gihπ€£π€£π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan...