Air Hujan

Air Hujan
bab 140


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Jailangkung apa sih, Ay?" tanya Hujan yang sepertiya tak paham.


"Tuh, depan kita!" jawab Air yang tersenyum menyeringai ke arah Devan.


Pria yang bekerja sebagai asisten Hujan di rumah sakit itu pun langsung menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya sendiri.


"Aku?"' seru Devan bingung.


"Au ah!" timpal Air sambil melengos pergi bersama istrinya, Hujan yang kaget di bawa paksa oleh Air hanya bisa menoleh sambil mengangguk kan kepalanya sekali kearah Devan.


Pria itupun langsung membalas dengan senyum kecil di ujung bibirnya.


.


.


.


"Ay, Gak boleh gitu loh!" kata Hujan saat keduanya sudah berada di dalam mobil untuk kembali pulang.


"Gitu, gimana?" tanya Air sambil menahan rasa kesalnya.


"Kamu, tadi bilang kak Devan jalangkung kan?"


Pemuda tampan itu diam seribu bahasa, ia memilih fokus pada jalan di hadapannya dari pada harus meladeni protes sang istri yang bisa saja berujung pertengkaran.


Hujan yang tahu suaminya sedang kesal pun hanya bisa bersandar di kursi mobil sambil memejamkan matanya, keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


.


.


Tak ada yang saling bicara walau mereka sudah berada di dalam kamar apartemen, niat hati ingin mampir sebentar untuk jalan jalan usai dari pemakakaman pun akhirnya urung di lakukan.


"Jan, kok diem aja sih!" keluh Air yang meringkuk di tengah kasur dengan pisang dalam pelukannnya, sedangkan Hujan duduk dimeja belajar menonton drama kesukaaanya di laptop.


"Bukannya kakak yang diemin aku?" sindir Hujan.


"Enggak!" elak pemuda berusia dua puluh satu tahun itu.


Hujan hanya menoleh sebentar, tak akan habisnya memang meladeni pria pe cemburu seperti Air, ia yang begitu posesif dalam menjaga sang istri semakin mengikat Hujan dengan rantai emasnya.

__ADS_1


"Terus kenapa pulang?" tanya Hujan.


"Kan janji mau jalan-jalan abis ziarah?" tambahnya lagi sambil merengut kesal.


"Kamunya diem aja, kirain gak jadi" Jawab Air mencoba mengelak.


"Kamu yang diem, aku yang disalahin!" protes Hujan, gadis cantik Itu langsung menutup layar laptopnya kemudian bangun dari duduk.


Air yang melihat istrinya hendak keluar pun sontak berteriak.


"Jan, mau kemana?"


Hujan tak menjawab, ia malah membanting pintu dengan sedikit keras.


"Nyebelin!" dengus Air kesal sambil mengigit ujung bantal kesayangannya.


*******


Usai makan malam, Melisa meminta Hujan untuk menemaninya keluar sebentar. Dan otomatis kini hanya tinggal Reza dan Air yang berada di ruang tengah, keduanya sedang menonton pertandingan basket lewat layar TV LED yang menggantung di dinding.


"Pah.. "


"Hem" jawab Reza saat si sulung memanggilnya.


"Apa sih?"


"Bisa gak ganti asisten Hujan sama cewek, jangan si Devan?" rengeknya manja seperti biasa jika sedang menginginkan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Reza bingung.


"Kakak gak suka!" tegasnya.


"Gak suka apa cemburu?" kekeh Reza yang bisa menebak ekspresi wajahnya anak kesayangannya.


"Dua duanya, pah"


Reza mengusap kepala Air yang ada dalam pelukannya, ia akan mencoba memberi pengertian pada sang putra.


"Kak, Selama ini gak ada masalah kan?, Devan kerjanya profesional, gak ada hubungan apa-apa sama istri kamu. Gak ada yang harus kamu khawatirkan, Kelak kamu pun akan punya asisten atau bahkan sekertaris perempuan nantinya saat memimpin perusahaan.


Gimana kalau justru Hujan yang bersikap seperti ini sama kamu?" tanya Reza yang membuat Air diam sejenak.


"Kakak gak mau ada ceweknya kalau nanti kerja"

__ADS_1


"Gak bisa, peran perempuan pasti dibutuhkan, Kak" jawab Reza.


Air diam dengan sesekali membuang nafas kasar, ia tak lagi fokus pada apa yang ia tonton meski berkali-kali papanya berteriak dan mengumpat kesal atas pertandingan basket yang sedang di siarkan.


.


.


Hujan yang sudah kembali pulang, segera masuk kedalam kamar disusul Air yang langsung memeluknya dari belakang.


Pemuda yang kini sedang menekan banyak rasa dalam hatinya hanya bisa mendekap sang istri begitu erat.


"Jan... "


"Hem"


"Jawab dong?" pinta Air.


"Apa?"


"Gitu doang sih?" protes Air yang tak suka Hujan semakin mengabaikannya.


"Mau apa lagi sekarang?" tanya Hujan, ada rasa gemas dan kesal dalam hatinya dengan sikap cemburu tak jelas sang suami.


.


.


.


.


.


"Kemarin baikan, hari ini diem-dieman, besoknya sayang-sayangan lagi, lusa berantem gak jelas dan saling gak perduli, segitu rumitnya hubungan kita. Tapi kalo gak sama kamu aku gak bisa, gak sama kamu rasanya beda. Gak sama kamu, aku gak mau!"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Iya dah, suka suka lo aja Aer comberan 🀣🀣🀣


Berantem lo kan gak gue pakein formalin jadi gak pernah awet πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Besok ribut lagi ya, Ok 🀭🀭🀭

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2