
ππππππππ
Sam yang sudah benar-benar kesal akhirnya menangis di pangkuan Reza, ia tak mau berbagi kue strawberry yang di beli Hujan saat pulang menuju rumah utama barusan. Sedangkan Cahaya masih asik saja mencicipi semua makanan yang ada di atas meja.
"Nanti kita beli lagi, sekarang bagi aunty nya dulu ya" ucap Reza sambil mengusap air mata cucu kesayangannya itu.
"Beli sama tobeli nya ya" pinta Sam sambil terus terisak lirih.
"Iya, Nanti kita beli strawberry yang banyak. Amma yang bikin kuenya ya" Reza terus saja merayu sampai lelehan air mata Sam behenti.
"Beli tobeli nya satu truck ya"
"Sekebon sekalian Tut, hahaha" timpal Cahaya. Entah kenapa si bungsu begitu iseng pada keponakannya yang sudah tahu sangat cengeng tapi masih suka di goda olehnya.
Sam yang barusan sedikit tenang kembali menjerit, akhirnya kini mau tak mau di bawa oleh Reza ke kamarnya untuk ia dekap seperti biasa hingga tertidur pulas.
.
.
.
"Dede nda mahu syekolah" ucapnya masih diatas ranjang sangat Gajah saat bangun pagi.
"Kenapa? udah siang loh ini, nanti Moy sama papAy yang anterin, yuk" rayu Melisa, kali ini wanita baya itulah yang harus sabar menghadapi sangat putra mahkota Rahardian untuk drama pagi hari.
"Ini Appa masih peluk peluk dede, Oey"
__ADS_1
Melisa yang baru sadar akhirnya menarik tubuh suaminya untuk melepaskan pelukannya, Reza memang susah bangun, hanya saja ia malas membuka matanya. Memeluk Samudera adalah hak ternyaman nya setelah sang Khumairahnya.
"Memang kalau udah gak di peluk mau sekolah?" tanya Reza dengan suara berat khas bangun tidur.
"Nda, Dede males"
Pasangan baya itupun hanya bisa membuang napas kasar, percuma saja sedari tadi berdebat dengan alasan pelukan jika ujung-ujungnya tetap tak ingin sekolah.
Namun, sesaat kemudian ketiganya menoleh kearah pintu saat benda itu terdengar mengeluarkan suara. Melisa bangun untuk membuka benda bercat putih tersebut.
Cek lek
"Mah, Dede mana?" tanya Air, si sulung yang sudah rapih dengan stelan jasnya.
"Tuh, masih di peluk papah" jawab Melisa sambil melirik kearah ranjang tempat dimana suami dan cucunya berada.
"Sakit, mah" sahut Air sambil mengusap lengannya.
"Bicara yang benar, kamu tuh kaya ngajakin temen aja" oceh wanita kesayangan Tuan besar Rahardian.
Sifat Air yang cuek dan masih manja seakan membuat ia merasa bukan memiliki buah hati melainkan adik kecil yang mewarnai rumah utama. Kehadiran Samudera yang masih menjadi satu-satunya memang selalu jadi hiburan saat mereka semua beranjak dewasa.
"Nda, dede mahu jalan jalan sama Appa" ucapnya masih di ranjang sedikit berteriak.
"Ya udah, papAy berangkat kantor ya" pamitnya kemudian yang memang sudah waktunya.
"Dadah papAy, Hati hati di jalan nanti siang tipon dede ya"
__ADS_1
"Iya, jangan nakal ya ganteng"
Air dan Samudera saling melambaikan tangan dan memberikan kecupan dari jauh, Sam terus saja terkekeh saat melihat papAynya di pukuli oleh Melisa karna sempat menggoda wanita baya itu juga.
"Appa jangan bobo lagi, ayo mandi terus jalan jalan" rengek Sam sambil menarik tangan Reza agar mau bangun.
"Hem, iya..."
Keduanya bangun dan masuk kedalam kamar mandi, Sam terus saja tertawa saat Reza menggendongnya dari belakang.
"Sini Appa buka bajunya"
Dengan cekatan, pria baya tampan itu membuka satu persatu piyama yang di kenakan cucunya. Si bocah menggemaskan itu pun kembali tertawa saat mereka kini sudah polos tanpa apapun.
"Kenapa ketawa?" tanya Reza.
.
.
.
Tutut Appa ciut, Nda besal kaya punya papAy...
__ADS_1