
πππππππ
"Dede jadi sekolah minggu depan?" tanya Melisa saat Hujan datang menggandeng Samudera di tangan kanannya.
"Jadi, Mah. Sam gak ngerti banget nih, padahal tanggung sebentar lagi ajaran baru" jawab Hujan sambil menarik kursi untuk putranya.
"Cie.. yang mau sekolah" ledek Reza pada cucu kesayangannya.
"Ntal Appa ntut dede ya tekoyah"
"Ngapain?" tanya Reza bingung.
"Ngapain lagi kalo bukan sebagai penerjemah omongan si tutut" timpal Air sambil terkekeh.
Semuanya tertawa di meja makan, Samudera yang lebih dekat dengan Reza tentu membuat keduanya sering berinteraksi jadi tak salah jika hanya Appanya yang mengerti semua yang di ucapkan Samudera.
Di usianya yang baru menginjak tiga tahun tentu banyak kosakata yang belum ia paham, mulai kalimat yang terbalik maupun tertinggal jika terlalu panjang .
"Ini apa de?" tanya Air sambil menunjuk sebuah toples besar yang tak pernah absen setiap hati karna itu salah satu kesukaan sisulung.
"Puyuk" jawabnya malas.
"Dede bisa ngomong kerupuk loh sebenarnya" ujar Melisa
"Cuma.........." balas Hujan sengaja menggantung ucapannya sambil melirik tajam kearah sang suami.
"Biangnya bengkok anaknya juga ikutan bengkok!"
*****
"Ayo berhitung dulu, nanti kalau ibu guru minta dede berhitung dede udah bisa" titah Reza yang mengajak bermain Sam di gazebo halaman belakang. Orangtuanya yang sibuk setiap hari membuat Sam hanya bergantung pada Appa dan Ammanya saja.
__ADS_1
"Mayes, dede mahu main ama culus" jawabnya yang masih memegang lima Dinosaurus kesayangannya di tangan.
"Ya sudah sambil berhitung ya ganteng, dede hitung nih Dinosaurusnya ada berapa, Ok" rayu Reza lagi.
"Nda, Ok, Appa"
"Appa marah ya, kalo dede gak nurut" ancam Reza seraya melipat tangannya di dada.
"Ok... dede tung tung culusnya"
Samudera merapikan mainannya kemudian di jejerkan lebih dulu, ia nampak berpikir dan merengut kesal saat Reza menambahnya dengan beberapa gelas.
"Kok banak banak sih" protes Sam, ia berhambur memeluk Melisa yang baru datang membawa Sepiring potongan buah untuk Reza dan Samudera.
"Kenapa?" tanya Melisa yang tahu jika Sam sedang merajuk.
"Appa akal, dede tung tung banak banak ih" adunya pada Amma.
"Cuma segini aja dek', gimana kalo suruh ngitung luas ini rumah" selak Reza, ada saja alasan sang cucu yang kadang sulit ia atur.
Samudera tetap menggeleng, ia yang memang sedang malas akan cukup sulit di rayu jika bukan kemauannya sendri. Tapi Reza dan Melisa akan selalu sabar menghadapinya jangan sampai cucu kesayangan mereka mengamuk.
"Ini banak benel ih, culusnya aja ya"
"Hitung semua! kalau salah atau kurang nanti di ulang" tegas Reza.
"Keh Appa" sahut Sam pasrah.
"Atu... uwa... tida.. empat.. ima" ucap Sam saat sudah menghitung semua Dinasaurus miliknya.
"Tambah lagi sama gelasanya, hitung dari awal"
__ADS_1
Sam melirik kearah Melisa yang menganggukan kepalanya tak lupa wanita cantik itu mencium pipi Samudra dulu sebelum ia melanjutkan drama berhitungnya.
"Ayo"
"Atu.. uwa.. tida.. empat.. ima"
"Terus!" kata Reza dan Melisa berbarengan.
"Enem... Jujuh.. Jajah.. Apan.. imbiyan.. puyuh" lanjutnya pelan.
Reza dan Melisa menghela napas berat, selalu saja seperti yang sudah sudah.
"Dede, hitungnya cukup Enam, tujuh, delapan sembilan dan sepuluh. Habis tujuh gak usah lanjut Gajah, ok" ucap Reza memberi pengertian.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dede nda mahu inggalin Jajah.. .
__ADS_1
.