Air Hujan

Air Hujan
Bab 199


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang masih menunggu hanya bisa merengut kesal saat suaminya tak kunjung datang menjemputnya di rumah utama, ia yang berjanji akan datang jam dua siang tapi nyatanya sudah jam tiga belum nampak juga batang hidungnya.


Calon ibu yang sudah rapih dengan dress biru lautnya itu hanya duduk gelisah di teras dengan tangan sibuk mengirim pesan pada sang suami.


"Pergi duluan gak boleh, sekarang malah gak nongol juga" gerutunya kesal.


Hujan yang sedikit melamun harus dikagetkan dengan kedatangan Oppa yang tiba tiba duduk di sisinya.


"Kakak belum datang?"


"Eh, belum Oppa" jawab Hujan sambil membenarkan duduknya agar tegak, meski sudah bertahun-tahun menyandang cucu menantu Rahardian tapi nyatanya ia masih saja sungkan di hadapan pria baya itu.


"Mau berapa hari menginap di rumah ibumu?" tanya Oppa lagi, ia tatap wanita cantik yang kini tengah mengandung cicitnya, sang penerus RAHARDIAN.


"Mintanya ke kakak sih tiga hari, tapi gak tau juga"


"Dimana pun, asalkan kamu harus hati hati ya. Jangan terlalu lelah dan banyak memikirkan hal negatif. Jaga selalu kesehatanmu" pesan Oppa dengan suara lembutnya seperti biasa, jika saja tak ada meja kaca yang menghalangi sudah bisa dipasti kan kepalanya kini sedang di usapnya pelan.


"Semoga kehamilan mu membawa kebahagiaan selalu untuk rumah tangga kalian, tak ada yang bisa lebih membahagiakan bagi Oppa kecuali melihat kaliah semua rukun, dan kini bertambahnya ke bahagiaan Oppa bertambah juga keinginan pria tua ini" Kekeh Oppa sampai menyipit kedua matanya.


"Oppa ingin memiliki umur panjang agar bisa menimang anak kalian, Bumi dan Cahaya" tuturnya lirih hingga Hujan harus bangun dan langsung memeluk.


"Hey, kenapa menangis?"


"Itu pasti, Oppa akan menjaga anakku kelak. Oppa akan bermain bersamanya setiap hari" ucap Hujan sambil terisak.


"Sudah.. Oppa tak ingin membuatmu jadi sedih seperti ini. Kamu cepat hubungin suamimu dan tanyakan keberadaannya karna ini sudah sore dan hampir gerimis" titah pria baya itu pada cucu mantunya.

__ADS_1


"Iya, Oppa"


Hujan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia cari lagi nama Kontak sumianya.


"Hallo kak, masih dimana?" tanya Ibu hamil itu saat Akhirnya sang suami mengangkat teleponnya.


"Kakak baru mau keluar dari resto, tunggu setengah jam lagi ya" Pintanya seraya memohon pada Hujan agar mau lebih sabar sediikit lagi menunggu kedatangannya.


"Hem, Baiklah." jawab Hujan pasrah, meski ia ingin sekali mengomel tapi ia masih tau diri untuk tidak melakukannya di hadapan orang tua.


Hujan yang sudah menutup teleponnya langsung membawa Oppa masuk kedalam rumah, ia akan memilih menunggu Air dalam kamar karna rintik gerimis sudah mulai turun.


Setelah mengantar Oppa keteras belakang, Hujan pun bergegas naik ke lantai dua.


Ia hempaskan tubuhnya di tengah kasur dengan menutup kedua matanya.


"Lumayan setengah jam kalo buat tidur" gumam Hujan.


.


.


Si cantik yang hampir saja terlelap harus terlonjak kaget saat ia merasa ada yang meniup wajahnya.


"Kak.. "


"Kok malah tidur?, jadi pergi gak?" tanya Air sambil membantu istrinya bangun.


"Dari pada nunggu lama bosen, mending tidur" sindir Hujan saat keduanya duduk berhadapan.

__ADS_1


"Aku abis rapat tadi, ada yang berkas yang tertinggal jadi lama" jelas Air sambil menciumi wajah sang istri.


"Oh, aku kira lagi makan siang sama cewek lain, Abisnya tadi rame banget" cetus Hujan.


"Kamu mau nuduh aku selingkuh?" Kekeh Air yang justru semakin gemas karna semenjak hamil Hujan menjadi posesif padanya.


"Hem, aku hanya menerka!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku gak mungkin selingkuh, kecuali Tuhan menciptakanmu lebih dari satu...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Awas loh kak.. tar bini lo selingkuh sama si Bumi 🀣🀣🀣

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan


__ADS_2