Air Hujan

Air Hujan
Bab 155


__ADS_3

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Hujan udah sadar, Tapi.... " Reza tak meneruskan ucapannya karna Air sudah berlalu masuk ke dalam kamar rawat inap Hujan.


"Ampun... sakit."


"Sakit"


"Jangan lagi.. tolong"


"Lepas.. perih"


"udah.. "


Air yang berdiri di ambang pintu menyaksikan sendiri saat dokter dan suster menyuntikkan obat penenang pada Hujan.


Gadis itu terus berteriak meminta tolong, rasa tak takutnya membuat ia sulit di dekati oleh siapapun.


Perlahan Hujan kembali terlelap, jeritan nya kini berganti menjadi gumaman gumaman kecil namun mampu menyayat hati orang yang mendengarnya terlebih ia tertidur sambil terus menangis pelan.


"Maaf.. maafin kakak" bisik Air di telinga kanan istrinya, hatinya kini benar-benar hancur melihat Hujan yang biasanya galak dan keras kepala harus menahan rasa sakit seorang diri.


"Jangan takut ya, kakak disini sama kamu"


Air yang ikut berderaian air mata hanya bisa duduk disisi Hujan sambil menggengam tangannya.


Luka hatinya tak sebanding dengan apa yang di alami sang istri.


"Kak, mama sama papa keruangan dokter dulu ya" ucap Reza yang hanya di jawab anggukan oleh si sulung.


Bumi dan Langit yang masih terlelap di sofa pun di tinggalkan begitu saja, kejadian ini sungguh menguras tenaga dan otak keluarga Rahardian.


.


.

__ADS_1


.


"Hal yang di takutkan akhirnya terjadi" ucap sang dokter saat pasangan suami istri Reza dan Melisa sudah duduk di hadapannya.


"Traumanya cukup berat karna ini termasuk kekerasan dan pelecehan seksual dimana area sensitif pasien di rusak dalam keadaan sadar oleh beberapa orang" jelas si dokter lagi di sela helaan nafas berat.


Pria berjas putih itu sampai tak habis pikir jika musibah ini bisa terjadi pada keluarga pemilik rumah sakit tempat ia berkerja selama lebih dari sepuluh tahun itu.


Karna semua orang hanya tau tentang sakitnya si bungsu.


"Lakukan dan hubungi semua dokter terbaik" jawab Reza.


**


Keduanya kembali ke kamar dimana kini sang menantu terbaring tak berdaya.


Melisa mendekat kearah si sulung yang menunduk di atas tangan Hujan, isakan tangis masih jelas terdengar.


"Mama sama Papa pulang aja, kalian harus istirahat. Biar kakak yang jaga Hujan" lirih Air.


"Biar mama disini temenin kakak ya"


"Enggak, mama pulang aja. Kalian istirahat, kakak gak mau mama sakit" pinta si sulung seakan memohon.


Wanita empat anak itu akhirnya mengangguk pasrah, ia menyetujui permintaan putranya untuk beristirahat di apartemen.


"Kamu juga istirahat ya, mumpung Hujan juga lagi tidur. Kalian harus saling menguatkan" pesan Melisa yang kini sudah si rangkul oleh Reza.


"Papa anter mama pulang dulu ya, Cepat hubungi Papa jika terjadi sesuatu"


Air hanya mengangguk paham, ia yang sebenarnya juga lelah tapi harus tetap siaga di sisi sang istri.


Selepas Reza, Melisa, Bumi dan Langit pulang, kini hanya tinggal Air di dalam kamar mewah rumah sakit menemani Hujan. Masih terdengar gadis itu bergumam meminta tolong meski kedua matanya tertutup.


Disini Air menjadi sosok suami yang siaga di sisi istrinya, ia mengusap buliran cairan bening di ujung mata Hujan.

__ADS_1


"Jan, kuat ya sayang"


"Aku disini, aku gak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi"


"Aku minta maaf!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf kamu bilang!!!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tukang sapu sigana nu datang🀣🀣🀣🀣


Alias mak Lampir😜😜😜

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan 😘😘


__ADS_2