Air Hujan

Air Hujan
bab 55


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Semua kini sudah berkumpul di meja makan, hanya Cahaya yang tak ada karna sedang berada di luar bersama Oppanya, pria baya itu sedang ingin makan malam dengan cucu perempuan satu satunya itu.


"Kok kakak gak di ajak?" protes Air saat tahu adiknya itu tak ada.


"Ribet bawa kamu, kursi restauran jatoh jatohan terus" sahut Reza sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Enggak, Pah"


Air semakin merengut kesal saat Reza malah terus mengejeknya.


Semua hanya tersenyum sambil sesekali tergelak mendengar drama perseteruan antara Dua pria tampan beda generasi itu.


"Kamu harus biasa ya" ucap Melisa pelan pada menantunya itu.


"Iya, Mah. lucu tapinya" kekeh Hujan.


Ia memang mengagumi kedekatan sang suami dengan kedua orangtuanya itu, hal yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.


Andai orangtuanya masih hidup, tentu hal sama akan ia lakukan juga, Bukan?"


Rasa sayangnya Reza memang terlalu luar biasa, di umur si kembar yang sudah menginjak sembilan belas tahun, ia masih sering memeluk dan bercanda bahkan saling ejek pun sering mereka lakukan.


.


.


Saat Makanan tandas tak bersisa, Tiga pria tampan itu langsung menuju ruang tengah, sedangkan Melisa dan Hujan masih di dapur untuk membereskan sisa makan malam tadi.


"Jan.."


Gadis itu menoleh dengan cepat saat mama mertuanya memanggil.


"Apa, Mah?"


"Apa kakak menyusahkanmu dan Bunda saat ia menginap kemarin?" tanya Melisa.


"Enggak, Mah" jawabnya cepat.

__ADS_1


"Air masih manja, sabar ya" pinta Melisa pada menantunya itu.


"Iya, mah, Aku tau kok. Air tuh emang manja banget kalo mau apa-apa gak ngerti harus ada" seru Hujan, ini adalah waktu yang tepat untuk mengorek kebiasaan Suaminya itu.


"Hem, dia juga masih sering nangis kalo sedih, dan saat itu dia hanya butuh pelukan"


"Tapi kakak lebih seneng peluk pisangnya dari pada aku, Mah" Hujan terkekeh lagi, awal tidur memang memeluknya tapi pas ia bangun si pisang lah yang menggantikannya.


"Hem.. udah kebiasaan dari kecil, gimana dong?"


"Gak apa-apa, Mah"


"Mama harap kalian bisa terus bersama, jodoh kalian langgeng hingga akhir. Doa mama hanya itu, Kalian bahagia ya" ucap Melisa mengusap lengan menantunya itu.


"Bertengkar memang hal yang biasa terjadi, tapi jangan berlarut-larut, Jika bisa kalian selesaikan hari itu juga, Ok"


Hujan mengangguk sambil tersenyum, mendengar kata bertengkar sungguh itu adalah hal rutin yang ia dan Air lakukan sedari awal bertemu meskipun bukan pertengkaran besar yang penuh dengan emosi yang meluap-luap.


Pertengkaran mereka hanya sebatas tak mau ada yang mengalah, Adu argumen tapi selalu berakhir dengan sebuah pelukan.


.


.


Reza dan Air saling berbisik sambil di selingi dengan gelak tawa.


"Berisik banget, sih" dengus Bumi kesal, ia yang masih berstatus anak bawang tentu hanya bisa mendengar samar-samar apa yang di bicarakan Papa dan kakaknya itu.


"Gak mau!" seru Air dengan wajah bingungnya.


"Cobain dulu kak" kekeh Reza sambil menahan tawa.


"Geli, papa!" kata Air lagi, otaknya sedang melanglang buana entah kemana.


"Aku gak mau macem macem, Ah!" kata si sulung sambil menggelengkan kepalanya.


Reza mencubit pipi anak kesayangannya itu penuh dengan rasa bangga. ia lalu menangkup wajah Air dengan kedua tangannya.


"Kak.."

__ADS_1


"Apa?" jawab Air.


"Kakak gak perjaka lagi kok gak ganteng sih?" goda Reza yang langsung membuat Air menjerit histeris.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Huaaaaaa.... Hujan nakal.....


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Iseng banget kan si gajah..


gangguin cebongnya Mulu..


itu ngomong ngomong bisik2 kalian bahas apa?


kok gue curiga si gajah ngajarin banyak gaya gak beres 🀭🀭🀭🀭 gaya 1236910 🀣🀣🀣🀣


Like komen nya yuk ramai kan ❀️

__ADS_1


__ADS_2