
π»π»π»π»π»π»π»
"Maaf..." lirih Hujan saat keduanya sudah berada di kamar mereka, tempat selama setahun ini mereka melakukan begitu banyak hal suka duka tangis dan canda.
"Buat apa?" tanya Air sambil terus mengusap kepala sang istri yang sedang bermanja dalam dekapannya.
"Buat yang kemarin, yang minta buat Lo..."
Air mencium bibir Hujan sekilas saat gadis Cantiknya itu belum selesai melanjutkan ucapannya.
Kamu...
Hujan menatap intens manik mata suaminya, ada tatapan penuh harap disana.
"Maaf, buat kemarin yang minta kamu buang di luar " ucap Hujan yang merasa malu dengan yang ia katakan, ia sampai memejamkan kedua matanya sendiri.
Air membuang nafasnya kasar, jujur ia tak ingin membahasnya tapi Hujan sudah terlanjur memulai obrolan.
"Gak apa-apa, kakak juga yang salah. Main tinggal kamu aja, maaf juga ya" balas Air yang kini sudah berbaring saling berhadapan.
"Masalah itu...."
"Kakak tahu!" jawab Air cepat.
Hujan langsung berhambur memeluk suaminya, ia menumpahkan rasa sesal dan sedihnya dalam dekapan Air. Isak tangis lirih terdengar begitu pilu menyayat hati Pemuda tampan yang kini sedang menciumi pucuk kepala Hujan.
"Aku udah banyak bohongin kamu, kak"
"Gak apa-apa, kakak juga salah. Kita selalu bahas mau atau enggak punya anak tapi gak pernah cari solusinya bareng bareng harus gimana sampe kamu ambil keputusan sendiri tanpa berunding, itu sih yang bikin kakak kesel. Selama ini nunggu kamu cerita taunya kamu gak pernah mau terbuka dan mungkin kemarin itu puncaknya" ucap Air, nada bicaranya begitu serius tanpa rengekan manja seperti biasa.
"Aku gak pake apa-apa, atau pasang apapun, Sumpah!"
__ADS_1
Air tertawa gemas melihat raut wajah ketakutan istrinya yang meyakinkannya jika ia tak mungkin berbuat hal di luar batas.
"Kakak tahu" jawabnya sambil mencium kening dan kedua pipi Hujan.
"Kenapa sih kalian serba tahu, kok aku curiga kalian punya baskom ajaib" ketusnya dengan mimik polos namun seperti orang sedang berpikir berat.
"Otak kamu kejauhan!" balas pemuda tampan itu.
Air memeluk erat tubuh langsing sang istri, satu malam tak bersama saja sudah bagai menjungkirbalikkan dunianya.
" Jadi sekarang boleh gak?, terusin yang kemaren ya" bisik Air meminta haknya yang tertunda.
"Belom sih. Tapi aku takut jadi, soalnya kalo gak besok tentu lusa aku pasti halangan, kak" jelas Hujan. Ia tak ingin lagi menyembunyikan apapun dari suaminya.
"Terus gimana?, kepala kakak sakit" rengeknya yang malah mencumbu sang istri.
"Ikutin saran aku!" ucap gadis itu meski takut mengatakannya.
"Gak enak!" sahutnya lemas.
Air terus menikmati setiap inci tubuh polos gadisnya yang sudah ia lepaskan baju bagian atasnya. Dua buah bukit kembar yang selalu menantang untuk ia singgahi seperti sedang mengejeknya untuk segera meninggalkan banyak jejak disana.
Tak hanya satu, entah berapa yang ia buat dengan berbagai ukuran bahkan ia dengan Lucunya sering tertawa sendiri jika hasil karyanya begitu jelek
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Yah kegedean.
Ish.. kecil banget ya!
Kok gak merah?
Tanggung satu lagi deh..
Eh.. lagi deh!
Kenapa jadi banyakan disini?
Kurang ah...
Satu dua tiga empat lima.. mau ganjil apa genap, Jan?
πππππππππππ
Bikin yang seru.. ntar punya anak mah boro boro sempat ngitung ππππ
Udah bisa nyembur pas waktunya aja udah Alhamdulillah ππ
Nih anak lagi beraksi aja ngomong Mulu ya π€π€
Gak bisa diem gitu menikamati πππ
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈπ