
ππππππππππ
Usai mandi dan merapihkan diri bersama dengan Baby Bear, Air membawa putranya itu ke kamar orang tuanya karna Hujan masih meringkuk dan merintih menahan sakit di atas tempat tidur.
"Jan, kerumah sakit yuk" ajak Air yang mulai sangat khawatir dengan keadaaan istrinya.
"Aku gak apa-apa, nanti juga sembuh" jawab Hujan dengan mata terpejam dan Air tahu jika istrinya itu sedang menikmati rasa sakitnya.
"Aku gak mau nunggu kamu makin parah, kasian Baby Bear nanti ASI nya kamunya gak enak, Jan"
Air terus merayu meski Hujan berkali-kali menolak, Hujan seakan masih takut dengan rumah sakit karna untuk mengecek kesehatan pasca lahiran dan imunisasi Samudera pun Hujan meminta dokter yang datang ke rumah.
"Aku panggil dokter aja kalau gitu ya, Sayang"
"Hem, iya" jawabnya lemas.
Air meraih ponselnya di atas nakas untuk menghubungi dokter pribadi Hujan yang sengaja di minta tinggal satu apartemen dengan keluarga Rahardian, semua itu dilakukan agar memudahkan sang dokter jika ada sesuatu yang mendadak pada menantunya itu.
"Tunggu lima menit lagi ya, Dokter pasti dateng buat periksa perut kamu" Ucapnya sambil mengusap kepala Hujan yang ada kebasahan sisa buliran keringatnya.
"Kamu gak boleh sakit, aku gak bisa liat kamu begini, Jan"
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan mengalihkan fokus Air yang sedang memusatkan seluruh perhatiannya itu pada Hujan, ia menoleh dan mempersilahkan yang entah siapa dibalik pintu itu untuk masuk.
Cek lek
"Belum baikan?" tanya Melisa dengan Samudera di gendongannya. Bayi montok itu selalu nyaman dengan siapapun yang ia kenal.
"Masih sakit, Mah" jawab Hujan pelan menyembunyikan rintihannya.
"Bawa ke rumah sakit, Kak"
__ADS_1
"Aku udah minta Dokter Milla buat dateng periksa Hujan" sahut Air.
"Assalamu'alaikum, permisi" sapa sorang gadis dewasa berhijab putih dan berkacamata.
"Waalaikum salam, baru Air membicarakan mu, Dok" ujar Melisa saat dokter cantik itu masih berdiri di ambang pintu.
"Mari masuk"
Dokter Milla masuk sambil tersenyum, ia menyalami Melisa dengan menciun takzim punggung tangan wanita yang kini sudah bercucu itu.
"Satu Minggu gak ketemu rasanya makin mbul aja nih" goda Dokter Milla mengusap pipi Samudera sang putra mahkota Rahardian.
"Iya, tante dokter gak main main ya" sahut Melisa.
Dokter Milla hanya terkekeh kecil lalu mendekat kearah tempat tidur dimana Hujan meringkuk.
"Apa yang di rasa?" Tanya dokter Milla yang sudah duduk di sisi ranjang.
Dokter Milla mengeluarkan stetoskop dari tas kerjanya lalu memeriksa Hujan dengan sangat teliti.
"Kamu punya maag, 'kan?"
"Iya, Dokter"
"Sepertinya maag mu kambuh, terasa nyeri di bagian atas perut, 'kan?, sering bersendawa dan buang gas juga diare."
Hujan menjawab dengan anggukan kepala, ia tak berani melirik ke arah suaminya.
"Ya sudah, saya buatkan resep ya nanti di minum tepat waktu jika masih belum ada reaksi bisa langsung kerumah sakit" ucapnya sambil menyerakan selembar Kertas pada Air.
"Terimakasih"
"Sama-sama, saya pamit dan semoga lekas sembuh"
__ADS_1
Melisa dan Baby Bear mengantar Dokter Milla yang susah berpamitan pulang, kini tinggal Air dan Hujan yang berada di dalam kamar.
"Sehat lagi ya, sakitnya gak boleh lama-lama" ujar Air mencium kening Sang istri.
"Ya, aku mau sembuh aku takut. Aku gak mau ninggalin kalian secepat ini" Lirih Hujan dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu gak boleh ngomong begitu, kamu pasti sembuh" rayu. Air mencoba menenangkan.
"Aku takut mati, Ay"
.
.
.
.
.
.
.
Seandainya itu terjadi, aku akan meminta dua pertemuan pada Tuhan, satu di sini dan satu lagi di Surga!!
πππππππππππ
Akupun sama kak.. antara dua dunia
nyata dan halu π€£π€£π€£
Like komennya yuk. ramaikan
__ADS_1