
πππππππ
"Kita pulang kapan, Ay?" tanya Hujan sambil mengancingkan bajunya didepan lemari, sedangkan Air masih duduk di tepi ranjang fokus pada layar benda pipihnya.
"Besok pagi" Jawab pemuda itu tanpa menoleh, entah apa yang dilakukannya sampai sama sekali tak melirik sang istri yang sudah rapih.
"Naek apa?" tanya lagi
"Delman!" sahutnya lagi santai.
Hujan duduk disisi Air, ia paling kan wajah tampan sang Suami yang masih sedikit basah itu menghadapnya.
"Apa?" tanya Air bingung.
"Gak apa-apa" sahutnya lalu bangun.
Hujan keluar rumah berjalan tanpa arah, ini adalah hari terakhirnya di pulau pribadi milik mertuanya.
Laut lepas terbentang di hadapannya menyibak rambut panjangnya karna angin yang lumayan kencang.
Ada rindu untuk Bunda yang hampir sebulan ini sibuk menyiapkan pernikahannya, bahkan ia lupa kapan terakhir berdua dengan wanita yang selama ini membesarkannya seorang diri dengan status gadis namun bukan perawan.
Terkadang Hujan belum percaya dengan apa yang ia dapat saat ini, suami tampan, keluarga baru yang amat baik, adik perempuan yang manis bahkan harta yang berlimpah.
Uang maharnya dari Air yang masih utuh malah sudah di tambah lagi oleh mertuanya di dalam rekening lain dengan jumlah fantastis.
Jika dulu ia bingung mendapatkan uang, kali ini ia bingung menggunakan uang.
Roda kehidupan sedang membawanya berada di atas.
*****
Tanpa ia sadar ternyata Air mengikutinya dari belakang, Karna saat ia menoleh untuk menyebrang sosok tinggi putih sedang tersenyum padanya.
"Ngikutin?" ejek Hujan.
"Enggak, gue nyari angin" jawab Air semakin mendekat, ia raih tangan mungil istrinya untuk menyebrang jalan.
"Kalo Lo nyasar gimana?" tanya Air, ia sedikit kesal saat tahu gadis halalnya tak ada dirumah.
"Cuma kesini doang" balas Hujan santai.
Keduanya berjalan menyusuri tepi laut sambil bergandengan tangan tanpa ada yang mau memulai obrolan lebih dulu.
Sampai hari semakin sore akhirnya Air mengajak Hujan untuk pulang.
Gadis itu melihat Air mengirim pesan, dan lima menit kemudian sebuah mobil pun datang menghampiri.
"Kenapa gak jalan aja sih"
"Capek, gue gak mau buang-buang tenaga" kata Air sambil membuka pintu mobilnya.
"Kenapa?" tanya Hujan bingung.
__ADS_1
"Gue mau pake tenaga cuma buat hal yang menyenangkan aja, Kalo ada mobil ngapain harus jalan"
Hujan memutar bola matanya malas saat melihat sang suami tersenyum penuh arti.
Air yang membawa mobilnya sendiri meninggalkan supir di pinggir jalan.
"Kasian Ay, dia ditinggalin" kata Hujan sambil menoleh lagi kebelakang.
" Gue lebih sayang istri gue, ckck"
Hujan melempar pandangannya jauh ke luar sampai akhirnya mobil berhenti di garasi.
Waktu sudah hampir malam, keduanya kembali membersihkan tubuh mereka masing-masing.
Dan kini pasangan suami istri itu sudah ada di meja makan dengan hidangan yang separuhnya Hujan tak tau itu apa.
"Banyak banget, Ay"
"Makan aja yang Lo mau" sahutnya.
Mereka makan dengan lahap di selingi obrolan santai, Usai mengisi perut pasangan itu kembali masuk ke dalam kamar.
Air yang duduk di sofa depan TV meminta Hujan untuk mendekat padanya.
"Apa?" kata Hujan yang malah di tarik duduk di atas pangkuannya.
"Main tebakan lagi yuk" ajak Air dengan senyum menggoda.
"Lo curang, gue males" jawab Hujan.
"Syarat dan hukumannya apa?" goda Hujan yang ia tahu pasti ada udang di balik terigu.
"Haha, syarat dan Hukumannya enak" ucap Air sambil terkekeh.
"Gue kasih tebakan, kalo Lo salah satu masih gue biarin, salah dua kali Lo masih gue maklumin tapi kalo Lo salah tiga kali....." Air menggantung ucapannya.
"Apa?, Lo mau apa?" tanya gadis itu.
"Lo harus perkosa gue, OK!" ucapnya yang langsung membuat Hujan tersentak kaget.
Hujan menelan Saliva, ia meronta untuk bangun tapi pelukan Air begitu erat di perutnya.
"Oklah.." seru Hujan pasrah.
"Tebakan pertama ya, Air apa yang suci?" Tanya Air.
"Air Wudhu" jawab Hujan yang di balas anggukan oleh Air pertanda jawaban istrinya benar.
"Air apa yang warnanya putih?" tanyanya lagi
"Air susu" Hujan bertepuk tangan kecil.
"Air apa yang warnanya bening?" goda Air sambil memencet hidung Hujan.
__ADS_1
"Air putih lah" kekehnya senang.
"Air apa yang ganteng?" seru Air setelah mencium pipi sang istri.
"Air Hujan dong" seru Hujan semakin senang.
"Air apa yang bisa terbang?" ini adalah pertanyaan terakhir, pemuda itu berharap jawaban gadis cantiknya itu salah.
"Air apa ya?, Air dari langit" jawab Hujan yang di balas gelengan kepala.
"Air Terjun" serunya lagi berharap benar namun lagi-lagi Air menggeleng kan kepalanya.
"Air apa sih?, tar gue mikir dulu" kata Hujan panik.
"Ya udah cepetan, gue itung sampe lima ya" goda Air.
Hujan terus berpikir sambil mendengarkan Air berhitung.
"Satu.. dua.. tiga..empat..lima!!"
Air bertepuk tangan girang, sedang kan Hujan meronta ingin di lepaskan.
"Lo mau tau gak, air yang bisa terbang apa?, bisa jawab gak?" tanya Air lagi.
"Gak tau ah, gue nyerah! apaan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*AIR**ONMAN*...
β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
Nah kan, modus lagiππππ
__ADS_1
Bilang aja minta ganti gaya π€π€
Like komen nya yuk ramai kan