
π»π»π»π»π»π»π»
Telur ayam!! Hujan gak suka sama telur bebek.
Air semakin mengernyitkan dahinya, ia yang tak mengenal pemuda itu langsung berdecak pinggang.
"Siapa Lo?" tanya Air dengan nada kesal.
"Fajar" jawab pemuda itu sambil mengulurkan tangan.
"Gue tanya Lo siapa! bukan mau tau siapa nama Lo!" sentak Air semakin kesal.
"Oh, maaf" ujarnya dengan senyum hangat walau Air memperlakukannya dengan sangat tak baik. Jangan harap Air akan bersikap ramah pada siapapun yang mencoba mengusik miliknya.
Keduanya saling berhadapan dengan sorot mata yang jauh berbeda, Air dengan tatapan nyalangnya sedangkan Fajar dengan tatapan hangatnya.
.
.
.
"Fajar" seru Hujan yang tiba-tiba datang menghampiri dua pria itu.
Air yang menoleh pada istrinya langsung meraih bahu Hujan.
"Hai, Jan" sapa Fajar yang lagi-lagi mengulurkan tangannya, namun kali ini Air lah yang menyambut.
"Gak usah pegang-pegang istri orang!" sentak Air tak suka.
"Maaf"
Hujan yang tau jika suaminya sedang marah hanya bisa diam sambil memeluk pinggang Air agar emosi bayi buayanya itu sedikit reda.
"Kapan pulang?" tanya Hujan basa basi.
"Mau apa sih?, kepo banget sama urusan orang!" sentaknya pada sang istri.
"Ay..."
"Pulang kemarin sore, Aku baru mau kerumah kamu bawain martabak telur ayam kesukaanmu" jawab Fajar
"Lo gak usah repot-repot, Hujan udah gue beliin martabak kalo perlu langsung sama ayamnya gak pake telornya lagi'' timpal Air geram.
"Ah, iya. Udah tanggung pesen, biar nanti aku bawa pulang aja" ucap Fajar masih dengan sangat sopan.
__ADS_1
Air yang di panggil pelayan tadi pun langsung menoleh karna pesannya sudah siap.
"Kami duluan ya" pamit Hujan dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Hati-hati, sampai jumpa lagi ya" jawab pria tersebut yang lebih dewasa dari mereka.
.
.
BRAAAAAAKKKK
Air membanting pintu mobil mewahnya dengan cukup keras, rasa kesalnya kini sudah tak bisa ia tahan lagi.
Sedangkan Hujan yang duduk di sebelanya masih diam tak berani bicara apapun jika Air tak bertanya lebih dulu.
"Siapa?" tanya Air akhirnya.
"Temen" jawab Hujan.
"Jawab yang bener, Jan!"
Hujan menghela nafasnya, ia memberanikan diri menoleh kearah sang suami yang sama sekali tak memberinya senyum seperti biasa.
"Emang Lo barang?, di titipin!"
"Lo kan tau kelurga gue gak sesempurna keluarga Lo, Ay!" ketus Hujan, kadang ia benci jika harus mengingat betapa kesepiannya ia saat kecil, harus berpindah tempat saat Bunda ada tugas mendadak.
Dari teman satu ke satunya lagi meski hanya menumpang tidur semalam.
"Tapi kan sekarang keluarga gue udah jadi keluarga Lo"
Hujan tak menjawab, ia sedang tak ingin berdebat lebih panjang dengan bayi Buayanya itu, ia mencoba memejamkan matanya sejenak agar bayangan ia sering menangis di malam hari karna sepi bisa hilang dari memorinya.
.
.
.
.
Sampai dirumah, Hujan langsung menemui Bunda sedangkan Air masuk kedalam kamar sang istri, ia rebahkan tubuh lelahnya di tengah kasur empuk yang ia beli saat pertama kali menginap.
Pemuda itu memilih menyibukkan diri dengan bermain Ponsel.
__ADS_1
*
Diluar kamar, tepatnya di meja makan kini Hujan dan Bunda sudah duduk berdampingan sehabis membereskan semua makanan yang tadi di belinya di jalan.
"Jan.. udah sebulan kalian menikah, apa keluarganya menuntutmu untuk segera hamil?" tanya Bunda langsung tanpa basa-basi.
"Enggak. Gak pernah ada pembahasan anak, Bun" jawab Hujan jujur.
"Lalu Air?" tanya Bunda lagi, kini raut wajahnya semakin serius.
"Sama. Gak pernah bahas masalah anak, lagian dia masih segitu manjanya yang ada aku pusing kalo punya bayi, mana anak mana suami" kekeh Hujan, membayangkannya saja sudah membuatnya sakit kepala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jadi kamu selama ini pakai pengaman, kan?
ππππππππππ
Jawab Jan π€π€π€
Gue juga kepo tauuuuuuuuuu..
kemaren banyak yang udah nebak π€£π€£π€£π€£
like komen nya yuk ramai kan β€οΈπ
__ADS_1