
ππππππ
"Aku udah kirim pocong di pojokan kamar, awas kalo kakak gak tidur!" ancam nya lagi dengan nada ketus.
"Iya, Jan. Iya!"
Hujan yang menutup teleponnya secara sepihak membuat Air mendengus kesal, ia edarkan pandangannya ke sekitar kamar sambil meyakini dirinya sendiri jika Hujan hanya bercanda mengirimnya pocong di pojokan.
"Becandanya dia gak lucu banget" sungutnya kesal yang langsung mengambil jaket dan kunci motor di dalam laci nakas sisi tempat tidur.
Dengan kecepatan tinggi, kini Air melajukan sepeda motor besarnya itu menuju rumah Bunda, sebab tak ingin sesuatu terjadi padanya mengingat tak ada siapa pun di apartemen.
Hampir tiga puluh menit akhirnya ia sampai di depan pagar rumah bunda, Air merogoh saku jaketnya untuk meraih ponsel yang tersimpan disana, Ia mencoba menghubungi Hujan, meminta wanita itu segera membuka pintu untuknya.
"Hallo, Jan, kakak di depan nih cepet keluar ya!" titahnya pada Hujan, tak adanya jawaban dari sang istri, membuat ia langsung memutus sambungan telepon.
Tak sampai lima menit, Hujan keluar dengan wajah khas bangun tidur, Air yang melihat itu justru sangat gemas pada wanita yang sudah bersamanya selama lebih dari lima tahun.
"Maaf ya, kakak ganggu kamu" ucapnya tak enak hati.
"Hem" Hujan hanya berdehem dan langsung membalikkan tubuhnya berjalan lebih dulu masuk ke kamar setelah kembali mengunci pintu, sedangkan Air berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan kakinya.
CEKLEK
Senyum kecil terukir di sudut bibirnya manakala melihat anak dan istrinya meringkuk di tengah kasur, Samudera yang memang tak betah memakai selimut terlihat begitu menggemaskan dengan piyama tidur bermotif beruang coklat, ia begitu lelap terbuai dalam mimpi bersama si Gajah dalam dekapannya.
Berdua ya de', papAy lupa gak bawa pisang.
*****
__ADS_1
Hujan yang berkali-kali membangunkan suaminya nampak bosan terus memanggil. Namun, tak sekalipun Air menjawab sampai akhirnya ia pasrah dan membiarkan sang suami terus terlelap dalam mimpi indahnya.
"Aku gak tanggung jawab ya, kalau sampai papah ngamuk" ucapnya yang duduk di tepi tempat tidur.
Samudera yang sudah bangun dari satu jam lalu tentu sudah rapih dan wangi, kini bayi montok itu sedang menunggu sarapan paginya yang belum matang sempurna.
"Dede udah laper?" tanya Hujan yang duduk di sisi putra pertamanya itu.
"Iyaah, mam yuk" jawabnya sambil mengangguk.
"Tunggu sebentar lagi ya, sayang"
Hujan kembali melirik kearah jarum jam, seharusnya ini sudah saatnya sang suami pergi ke kantor. Tapi tak sedikit pun ada tanda tanda jika Air sudah terbangun dari tidurnya.
"MiMoy ke kamar sebentar ya, panggil papAy untuk sarapan, dede diem sini, awas jatuh ya" pesannya pada Samudera di kursi makan bayi sambil memainkan sendok dan garpu. Bunda yang belum pulang dari pasar membuat ia harus menjaga sendiri anaknya sedari bangun tidur tadi.
"Kak, mau kantor gak? udah siang loh" Hujan mengguncang bahu suaminya yang terlihat begitu sangat mengantuk.
"Kakak mau kerja gak, sih? nanti papa marah"
"Hem, apa?" sahutnya tanpa membuka mata, atau lebih tepatnya sulit untuk membuka mata.
"Udah siang, mau ke kantor gak?" Hujan terus mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali sampai ia sendiri merasa bosan.
"Jam berapa?" tanyanya yang malah memilin ujung belalai boneka gajah milik anaknya.
"Jam delapan, kakak kan belum mandi sama sarapan. Mau sampe jam berapa nanti ke kantor? jangan sampe papa marah terus bikin kakak turun jabatan sebagai direktur"
"Emang papa bilang gitu? mau pecat kakak jadi direktur perusahan?" ujarnya santai tanpa takut apalagi khawatir jika Reza benar benar akan melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Di pecat sih enggak, cuma turun jabatan!" jawab Hujan, Ia memang pernah mendengar ocehah sang papa mertua saat para anak buahnya mengadukan tingkah si sulung yang sering mangkir dari beberapa pertemuan penting karna tertidur di kantor.
"Dari Direktur, terus kakak jadi apa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Kang masak aer sampe mateng!!
πππππππππππ
Cocok kak π€£π€£π€£
Lo kan pinter ngegembel sama pantun π€ͺπ€ͺπ€ͺ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan. ππ