Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 01.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Eee aaakk... Eeeaaakkkk


Hujan membuang napas kasar setelah ia manariknya dalam-dalam saat mendengar suara tangisan bayi, tubuh yang semula terasa begitu berat kini bagai melayang di udara.


Suster menyerahkan bayi mungil berkulit putih yang masih menangis kencang itu pada Hujan, di letakkan nya langsung si makhluk kecil tersebut ke dada wanita yang kini resmi menyandang status seorang Ibu dari penerus keluarga Rahardian.


"Selamat ya Nona muda, semuanya lengkap dan tampan" ujar sang dokter saat menyerahkan bayi yang baru di lahirkannya itu.


"Tampan?!" seru Air yang masih lemas dengan wajah masih terlihat khawatir dan panik.


"Iya, bayi Tuan Muda adalah laki-laki" jawab dokter itu lagi yang memang sampai batas lahirnya pun tak ada yang tahu apa jenis kelaminnya.


"Anak aku jagoan, ganteng aku berarti tersaingi, Jan!"


Gubraakk..


Tubuh lemasnya ambruk ke lantai hampir tak sadarkan diri, ruang persalinan riuh saat jeritan kaget dari suster, dokter, Hujan serta Melisa.


"Ada apa?" tanya Reza yang akhirnya masuk secara tiba-tiba ketika ia rasa ada yang tak beres di ruang persalinan.


"Mas, kakak pingsan" teriak Melisa panik.


"Belom, Mah. Baru hampir dan ini masih sadar walau cuma sedikit" jawab Air.


Reza langsung menarik tubuh putranya agar cepat bangun dari lantai, menyadarkan ia yang hampir terbang ke alam bawah sadarnya.


"Jangan Pingsan, Kak" tegas Reza sembari menangkup wajah si sulung.


"Adzanin dulu yuk bayinya" titah Pria tampan yang saat ini sudah mulai menyiapkan dirinya untuk menimang sang cucu.


Air hanya mengangguk, ia menoleh kearah Hujan yang terisak haru melihat makhluk kecil yang kini berada di atas dadanya sedang bergeliat.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar ia raih sang buah hati untuk memenuhi kewajibannya melafalkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.


"Ganteng ih, jadi pengen cium banyak banyak" ucapnya setelah melakukan dua hal tersebut.


"Mari, Tuan. Biar saya bersihkan lebih dulu" pinta seorang suster.


"Eh, mau di bawa kemana?" tanya Air saat wanita berbaju khas perawat itu hendak mengambil Baby Bearnya.


"Biar makin ganteng, Tuan"


Air melirik kearah Reza yang mengangguk kan kepalanya sebagai tanda jika ia harus menyerahkan sang putra pada perawat.


"Ya udah nih" ujarnya dengan pasrah seakan tak rela anaknya di ambil oleh suster.


"Pelan pelan ya, BIKINNYA SUSAH ITU!!!"


.


.


.


Raut kesakitan dengan sisa buliran keringat masih jelas terlihat di wajah cantik Hujan.


"Terimakasih ya, sayang." bisik Air sambil mencium kening sang istri lembut dan lama.


"Terima kasih saja rasanya tak cukup setelah apa yang sudah kamu lakukan selama ini terutama hari ini, Jan. Aku mencintaimu dan tetaplah bersamaku" Tambahnya lagi yang kini mulai terisak haru.


"Aku bangga padamu karna bisa sekuat ini, kamu adalah wanita hebat ku!


"Sama-sama, Kak. Aku pun mencintaimu, jangan tinggalkan aku" jawab Hujan seraya menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya agar tak pecah.


Bukan hanya pasangan Air dan Hujan saja yang bahagia atas kelahiran Baby Bear, karna Reza dan Melisa pun merasakan hal yang sama bahkan lebih terharu karna semua kejadian ini bagai dejavu bagi mereka yang pernah mengalaminya puluhan tahun silam.

__ADS_1


"Tua ya kita, Mas" ucap Melisa sambil menghapus air matanya.


"Kamu aja, aku sih enggak soalnya masih ganteng" jawab Reza menggoda seraya terkekeh.


Mendengar kedua orangtuanya sedang berbiak bisik, Air pun segera menoleh dan menghampiri keduanya.


"Selamat ya, Kak" ujar sang Mama saat putra sulungnya itu berhambur memeluknya.


"Iya, Mah. Rasanya seneng dan banyaklah pokonya sampe gak bisa di ungkapin sama kata-kata" sahut Air dalam dekapan Melisa, Reza hanya bisa tersenyum sambil mengusap punggung Anak cengengnya seraya berbisik...


.


.


.


.


.


.


.


.


Inget puasa ya, kak!



🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Fix.. pingsan atau kejer ya si bayi buaya 🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


udah aki aki masih aja iseng 😎😎


Like komennya yuk ramaikan πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2