
π»π»π»π»π»π»π»π»
Air yang masuk lebih dulu ke kamar Hujan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, hal yang paling ia benci jika di rumah bunda, ia akan terkurung dalam ruangan sempit itu tanpa melakukan apapun sedangkan sang istri sibuk di luar bersama keluarganya.
"Punya istri banyak saudara ribet, tapi yang gak punya saudara kasian juga kaya si papa ya" gumamnya sambil menutup kedua matanya.
"Itu juga nenek-nenek, siapa sih!"
Air membuang nafas kasar, mimpinya saja kadang masih membuat ia takut sendiri, kenapa harus di tambah dengan perkataan bibi Nur.
CEKLEK
"Ay... "
Hujan masuk kedalam kamar dengan membuka pelan, ia berikan senyum terbaiknya untuk sang suami yang kini sedang berwajah masam.
"Hayu pulang" ajak Air.
Setahun menikah ternyata tak juga membuat ia nyaman dirumah sang istri.
"Iya, Ay," jawab Hujan yang kini sudah duduk disisi ranjang Sambil mengusap kepala suaminya.
Lima menit Air merasakan sentuhan lembut Hujan sampai ia hampir saja terlelap jika tak mendengar suara ketukan pintu.
"Tunggu bentar ya, Ay"
Tak menunggu jawaban dari sang suami, Hujan langsung keluar lagi dari kamar membuat Air mengeram Kesal
"Kenapa buru-buru?, gak nginep aja ?" tanya bunda saat keduanya berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Enggak, Bun" jawab Air dan Hujan berbarengan.
"Nanti aja, kalo kita libur jadi bisa sedikit lama disini nya" tambah Hujan yang lalu mencium punggung tangan bunda dengan takzim begitu pun dengan Air yang juga melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, lain kali saja kalau begitu. Malam ini ada Bibi Nur yang nemenin Bunda" ucap wanita berkaca mata itu sambil mengusap kepala Hujan.
"Bibinya kemana?"
"Lagi kebelakang, tunggu sebentar ya" pinta Bunda, lalu menarik Hujan ke kursi ke teras.
Belum ketiganya keluar rumah ternyata Bibi Nur sudah datang menghampiri mereka.
"Hujan dan Air mau kemana?" tanya wanita paruh baya itu sambil berjalan mendekat.
"Mau pulang, Bi" sahut Hujan.
"Bibi kira mau nginep, masih kepengen ngobrol sama kamu, Nak"
Hujan hanya tersenyum simpul.
"Lain kali kalau bertemu lagi ya, Bu" balas Hujan.
Pasangan suami istri itu kemudian berpamitan kepada Bibi Nur, mencium punggung tangannya kemudian Hujan juga memeluknya sekilas.
Tapi Bibi Nur langsung mengusap bagian perut gadis itu, ada seulas senyum di ujung bibirnya.
"Jika kamu hamil nanti, semoga kalian bisa menjaganya agar menjadi anak yang baik dalam segala hal"
Sontak ucapan Bibi Nur di Amiin kan oleh Air, Hujan dan Bunda.
Sampai di apartemen Hujan langsung masuk kedalam kamarnya tapi tidak dengan sang suami yang memilih masuk kedalam kamar orang tuanya lebih dulu.
__ADS_1
"Ngapain sih, kak" dengus Reza kesal, Pria yang masih saja tampan meski tak lagi muda itu menggerutu sebal sambil duduk bersandar di punggung ranjang.
Ia yang sudah tak memakai baju bagian atasnya menatap jengah si sulung yang sedang merengek pada sang istri.
"Gak apa-apa, udah sana masuk kamar" rayu Melisa saat Air menceritakan ketidaksukaannya pada saudara Hujan yang tadi ia temui.
"Harusnya seneng kalau di nasehatin, kak" tambah Melisa lagi sembari mengusap kepala anak pertamanya itu.
"Serem, Mah. kakak takut" rengeknya lagi dalam dekapan mamanya.
"Kamu tuh, ini takut itu takut, penakut banget sih, kak" Sindir Reza yang sudah berdecak pinggang di depan anak dan istrinya.
"Tapi kakak paling takut kehilangan Hujan" lirihnya sedih.
"Takut kehilangan tapi sekarang ditinggal, nanti Hujan kabur kamu gak tau" kata Reza sedikit emosi.
Air langsung mengurai pelukannya.
BRAAAAAAAAAAAKKKKK....
Secepat kilat anak itu keluar dari kamar orang tuanya menuju kamarnya sendiri.
"Hahaha, Alhamdulillah pergi juga si cebong"
ππππππππππ
Tua tua gak tau diri... untung gue cinta sama Lo bangπ€£π€£π€£π€£
Ngusir secara halus tuh π
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ
__ADS_1