Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 102


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


{ Lain kali kalau ada bab yang sama gak apa-apa gak usah di like atau di komen ya, cukup bab awal nya aja karna itu TANPA DI SENGAJA }


.


.


.


Kepulangan Air dari rumah sakit tentu di sambut baik oleh keluarganya, bahkan ada Oppa dan Omma juga di apartemen sengaja ingin menjenguk cucu kesayangan mereka.


"Istirahatlah, lain kali jangan terlalu lelah" ucap Oppa pada Air yang menyandarkan kepalanya di lengan pria baya Tuan besar Rahardian.


"Aku kehujanan, Oppa. Kenapa di bilang DBD sih!" protes si sulung pada team dokter yang memeriksanya kemarin di rumah sakit.


PapAy didit umak


Celotehan Samudera tentu langsung mengundang gelak tawa semua yang berkumpul di ruang tengah apartemen.


Amuk akal


"Nakal kaya siapa de'?" tanya Bumi yang memeluk istrinya dari samping.


Onty akal


"Loh, kok Aunty sih? cantik begini masa di samain sama nyamuk!" cetus si bungsu tak terima, tau jika istrinya mulai mengomel dan melayangkan bendera perang pada Samudera, Langit langsung merayu Cahaya dengan mencium pipi kirinya.


"Dilarang berantem! tar Buna lempar teplon warna kuningnya lagi, mau?" Langit mencoba memberi peringatan.


Cahaya langsung diam, sebagai anak bungsu tentu musuh terbesarnya adalah si cucu pertama keluarga.


"Biarin! nanti Appanya di ambil, Aunty bawa nginep yang lama" ejek Cahaya yang sepertinya tetap tak mau kalah.

__ADS_1


Mendengar hal itu Samudera langsung turun dari pangkuan Hujan, ia berjalan tergesa-gesa sambil sedikit berlari kearah Reza yang duduk di Sofa single, bocah menggemaskan itu langsung naik keatas paha Appanya meski harus bersusah payah.


Appa dede ya


"Iya, Appa dede" Sahut Reza sembari menangkup wajah bulat sang cucu dengan kedua tangannya.


"Dede gak mau sama Oppung?" tanya Oppa menggoda cicit pertamanya itu.


Nda.


Jajah dede abing Onty


"Ambil. Bukan abing de' kok jadi sama kaya kambing sih" kekeh Reza seraya membenarkan ucapan Samudera.


Abing.


"Suka suka kamu deh"


"Nanti makan malam disini ya" pinta Melisa saat mengurai pelukannya pada Kahyangan.


"Iya, Mah. Nanti malam kami kesini lagi" jawab istri dari pewaris kedua Rahardian itu.


"Ajak Nella juga jika ia masih ada, sudah lama mama tak bertemu dengannya" ucap Melisa lagi.


"Kak Nella cuma anter obat untukku, mungkin gak akan lama karna ia sendiri kesini tanpa membawa anaknya" jawab Yayang.


"Ya sudah, tak apa"


Melisa lalu mengantar anak dan menantunya itu sampai depan pintu apartementnya menatap sendu pasangan suami istri yang masih berdua itu sampai akhirnya hilang perlahan dari pandangannya.


"Dek kamar yuk" ajak Langit pada si bungsu setelah beberapa kali menguap, ia yang semalam bergadang karna pekerjaannya yang menumpuk sungguh ingin memejamkan matanya walau hanya sejenak.


"Yuk, aku juga mau tidur" sahut Cahaya, keduanya bangun dari duduk dan bergegas ke kamar si bungsu di lantai dua.

__ADS_1


"Mama juga akan bawa papa istirahat"


"Ya sudah, aku siapakan kamarnya lebih dulu" ucap Reza yang langsung bangkit setelah ia mendudukan Samudera di kursi kayu.


Melihat Appanya pergi begitu saja meninggalkannya tentu membuat bocah lucu itu merengut kesal bercampur sedih.


.


.


.


.


.


.


.


.


Appaaa.. uwin uwin dede ih



🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Hayo..


Saha nu ngarti cung coba 🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2