Air Hujan

Air Hujan
Bab 180


__ADS_3

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾


"Kalian diem dan hati-hati dirumah, jangan ada yang berantem" pesan Reza pada anak dan menantunya di bandara.


Ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Reza untuk bisa pergi jalan-jalan ke berbagai belahan dunia bersama Khumairahnya, rencana yang sudah sangat matang ia siapkan dari jauh-jauh hari bahkan belasah tahun silam.


"Siap, Pah" jawab tiga jagoan Rahardian dengan serentak.


"Papa sama Mama nanti pulang gak boleh bawa adek ya buat kakak!" ancam Air yang memang sudah mewanti wanti hal tersebut sejak dulu.


"Namanya honeymoon ya pulang bawa oleh-oleh lah"


"Papah......!!!!" pekik Air yang langsung mengeluarkan taring dan tanduk, di usia dewasanya tentu ia tak ingin kedua orang tuanya itu memberikan adik kecil untuknya.


"Kamu tuh harusnya kejar setoran sana, jangan sampe Papa pulang nuntun anak lagi tapi kamunya masih gitu gitu aja" ledek Reza lagi semakin membuat Air kesal.


"Papa awas ya, adeknya kakak cuma Bumi sama Cahaya" selak sisulung, Rengekannya tentu membuat kepala yang lain berdenyut menahan kesal dan gemas padanya.


"Mas, udah dong! kakaknya jangan di ledekin terus. Aku gak jadi pergi nih" ancam Melisa sambil mengusap punggung anak kesayangannya itu yang merengek manja dalam pelukan sang mama.


Sedewasa apapun Air, tetap saja akan menjadi dirinya sendiri jika di hadapan kedua orangtuanya.


"Kakak gak mau punya adek lagi takut kalah saing nanti dirumah kalo nangis" ejek Bumi yang akhirnya angkat bicara.


"Masih jadi bayi buaya cengeng kah?" timpal Langit.


Melisa mencubit kedua anak laki-lakinya itu secara bergantian, bukan merayu malah justru memperkeruh.


"Kalian kalau begini terus, mama gak usah pergi deh!"


"Eh, jangan! enak aja kamu, Ra" protes Reza sambil memohon.


Air mengurai pelukannya saat Melisa mengusap ujung mata si sulung, Anak pertama yang ia lahirkan penuh perjuangan sebelum Bumi dan Cahaya.

__ADS_1


"Mama baik-baik ya disana, kalo Papa nakal iket aja terus lempar yang jauh " ujarnya pada sang mama yang berhasil membuat Reza membulatkan kedua matanya.


"Ngapain ribet-ribet, tinggal tutup pintu aja juga papamu diem, kak" kekeh Melisa sambil melirik kearah suaminya.


"Gak usah bukan kartu, kita juga udah tau, Bun" sambung Langit yang tertawa di balik punggung Bumi


"Hey.. kalian!" Cetus reza sembari berdecak pinggang.


.


.


.


Reza dan Melisa sesekali menoleh kearah tiga jagoannya itu yang masih melambaikan tangan, bahkan Air masih menangis dalam pelukan Abang angkatnya.


Si sulung yang tak pernah ditinggal lama oleh mamanya tentu tak bisa menyembunyikan rasa sedih.


"Cih, Itu Mama masih keliatan, kak" ketus Bumi, si tengah yang memiliki lidah setajam silet.


"Mama sama Papa pulangnya entah kapan, loh. Bisa bayangin kan gimana kangennya kakak nanti" ucapnya di sela isakan tangis kecil.


"Gak usah dibayangin!" sahut Bumi lagi sambil melengos pergi.


"Kakak jadi deh minta adek lagi ke Papa, buat gantiin kamu, Bu. Mulai hari ini kamu di pecat jadi kembaran kakak" teriak Air kesal pada si tengah.


Bumi yang cuek tetap saja berjalan menuju mobil meninggalkan kakak dan Abangnya yang akhirna menyusul di belakangnya.


"Nyebelin banget tuh orang!" rutuk Air semakin kesal.


Langit yang sedari balita selalu menjadi Panengah si kembar hanya bisa merayu Air agar bisa berhenti mengomel dan memeberi nasihat pada Bumi agar berhenti menggoda.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ooooeekkkk....


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Nah loh!!!!


siapa dan kenapa??


like komennya yuk ramaikan 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2