
ππππππππππ
"Ay atau Bu?" tanya sorang gadis di hadapan Air saat ia baru keluar dari kelasnya.
"Ay, lo gak liat gue lebih ganteng!" ketus Air yang memang sedang merasa kesal karna Hujan belum juga membalas pesannya.
"Oh, Iya. Lebih nyebelin juga pastinya" jawab si gadis dengan terkekeh.
Air tak menimpali lagi karna matanya fokus pada benda yang di bawa gadis itu, setelah di rasa yakin Air langsung merampas nya dengan sangat kasar.
"Heh, pelan pelan dong. Kaget gue!"
"Ini kan tas istri gue, Hujannya kemana?", tanya Air dengan nada sedikit keras, ia yang merasa tak enak hati semakin di buat kacau saat barang istrinya di bawa orang lain.
"Gak tau, terakhir sih anak-anak bilang ke toilet, tapi sampe sekarang gak balik lagi ke kelas. Makanya gue kasih ini ke lo soalnya ponsel di dalem tasnya bunyi terus" jelas teman Hujan yang duduk tepat di hadapannya.
Air langsung merogoh isi tas kemudian mengecek ponsel Hujan, cuma ada pesan dan panggilan darinya, karna memang Hujan jarang berinteraksi secara intens dengan orang lain kecuali kepada keluarga, bahkan menantu Rahardian itu tak memiliki sahabat yang terlalu dekat.
Semua orang sama bagi Hujan, tak perlu tahu semua tentangnya, hidupnya bahkan masalahnya.
Kamu dimana ?
Air langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih pada gadis tersebut, otaknya mulai berpikiran yang macam macam. Hatinya mulai tak enak dengan detak jantung yang berdegup kencang lebih dari biasanya.
Sampai di parkiran Air mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok yang pasti ada di sekelilingnya.
__ADS_1
"Papa gak mungkin gak ngawasin kita, tapi orangnya yang mana!" dengusnya kesal sambil meremat tas Hujan.
Air langsung menghubungi papanya untuk tahu lebih jelas tentang keberadaan Hujan, istrinya yang kini entah dimana.
"Hallo, Papa" sapa Ay saat teleponnya di angkat.
"Ada apa kak? " tanya Reza pelan, karna ia sedang berada di ruangan meeting.
"Hujan kemana, Pah?" Air balik bertanya yang langsung membuat Reza mengernyitkan dahinya.
"Kok nanya papa?, kalian kan kuliah" sahut Reza, ia yang tak menerima laporan apapun mulai khawatir.
"Kalo Hujan ada sama kakak, gak mungkin kakak tanya sama papa!" seru si sulung semakin panik.
"Ya udah, kamu jangan berbuat hal macam-macam, tunggu kabar dari papa" titah Reza yang lalu menutup sambungan teleponnya dengan Air.
Reza meletakkan lagi benda pipih miliknya ke saku jas, ia menghela nafas sesat sebelum berdiri dari duduknya.
"Rapat kita undur sampai lusa, selamat siang" ucap Reza yang terpaksa mengakhiri rapatnya.
Langkah kaki panjangnya berjalan cepat menuju ruangannya, semua yang menyapa hanya di balas senyum dan anggukan kepala, ia sedang tak ingin berbasa-basi di saat sang menantu hilang tanpa kabar.
"Kalian dimana?" tanya Reza pada seseorang melalui sambungan telepon.
"Di kampus, Tuan. Hanya ada tuan muda Air di parkiran motor" jawab orang itu.
__ADS_1
"Hujan hilang, kerahkan orang untuk mencarinya sampai dapat dan cek semua CCTV di kampus!" titah Reza pada orang yang bertugas menjaga anak dan menantunya.
Pria tampan yang usianya tak lagi muda itu memang hanya menugaskan penjagaan hanya sampai di luar gedung kampus, karna menurutnya universitas tempat di mana anak-anaknya menimba ilmu sudah sangat terjamin keamanan dan juga penjagaannya, Setiap sudut ruangan terdapat CCTV yang dipantau langsung oleh puluhan orang selama dua puluh empat jam tanpa libur.
Belum lagi dengan status dan kuasanya disana yang Reza fikir jika tak ada satupun yang akan berani menyentuh Air Bumi dan Hujan, semua yang di rasa aman ternyata kali ini terusik dengan sangat mendadak.
,
,
Ada apa ini?
Selama dua puluh tahun, baru hari ini ada yang mau bermain dengan anakku!!
ππππππππππ
Bang, yuk sini maen petak umpet sama neng πππ
Tapi abang gak usah jauh-jauh karna selama ini udah ada di hati neng..
Cium ya bang π€π€π€
Tar gue kasih tahu tu mantu lo dimana πππ
Like komennya yuk. ramaikan.
__ADS_1