Air Hujan

Air Hujan
bab 214


__ADS_3

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘



"Jan, cepet dong" teriak Air dari sofa sambil memainkan ponselnya menunggu Hujan keluar dari kamar mandi.


"Iya.. sabar, Ay " jawab si ibu hamil tak kalah berteriak.


Air menyandarkan lagi tubuhnya sembari melirik kearah jam.


Hari ini adalah jadwal periksa kandungan Hujan di usia kehamilan yang sudah memasuki usia dua puluh empat minggu, Setelah mengundur waktu yang seharusnya dua hari lalu tapi karna Air begitu sibuk maka jadwal pun di rubah sesuai permintaannya.


Tentu pihak rumah sakit dan team dokter menyanggupi mengingat tempat mereka mengais rejeki adalah milik Hujan, si ibu hamil yang akan mereka periksa.


"Huft.." Hujan membuang nafas kasar, ia mendekat kearah Air sambil memegangi perutnya.


"Sakit ya?" tanya sang suami.


Hujan mengangguk seraya memeluk Air, Dan pria itu pun langsung menyeka buliran keringat yang ada di kening si cantik yang kini memiliki pipi bulat sama dengannya.


"Udah dibilang udah tapi nekat mau nambah" sindir Air saat istrinya tak mendengar larangannya tadi.


"Enak banget, seger, Ay" jawab Hujan yang masih tak terima di salahkan.


"Iya, deh. Kamu ini yang akhirnya ngerasain"


Hujan semakin mengeratkan pelukannya sebagai tanda permintaan maaf karna jika ia bicara pasti tak akan ada habisnya.


"Ya udah ayo, nanti kesorean"


Keduanya bangkit dari sofa dan langsung keluar dari kamar, tak ada siapapun di apartemen membuat mereka tak perlu berpamitan pada siapa-siapa.


.


.


.

__ADS_1


"Aku tiap mau periksa selalu deh degan kenapa ya?" keluh Hujan sambil memegangi dadanya.


"Kan mau liat hasil siramanku, Jan"


"Moga kali ini dia gak ngumpet ya" Serunya lagi sembari mengusap perutnya sendiri yang langsung di timpali juga oleh Air yang ikut mengelus nya juga.


"Iya, Aku penasaran banget" balas Air mengehela nafasnya berat. Sebagai calon ayah ia juga merasakan hal yang Hujan rasakan tentang kondisi malaikat kecilnya itu.


Jika saja ia bisa, tentu Air ingin anaknya cepat lahir tanpa harus menunggu sampai sembilan bulan lamanya


***


"Babynya masih ngumpet," kekeh dokter yang selama ini memeriksa Hujan, tangannya masih sibuk mengedarkan alat di perut sang pemilik rumah sakit.


"Tapi kondisinya baik, Kan?" tanya Air, hanya itu yang terpenting baginya.


"Alhamdulillah, semua baik"


Air mencium kening Hujan saat perasaan lega kini menyelimuti hati keduanya.


Hujan yang selesai di periksa dibantu satu perawat untuk bangun setelah merapihkan baju atasannya.


Usai pemeriksaan, Air dan Hujan memilih mampir sebentar ke salah satu restoran cepat saji, Ada yang di inginkan mendadak oleh ibu hamil tersebut untuk ia makan.


"Rame banget, Ay" ucap Hujan saat ia keluar dari mobil.


"Iya, apa mau cari lagi resto yang sepi?" tawar Air yang takut Hujan akan marah menunggu lama pesanan mereka.


"Enggak, aku udah laper banget"


Air hanya mengangguk paham lalu menggandeng istrinya masuk kedalam Resto tersebut dengan bergandengan tangan.


"Kamun duduk disini ya, aku yang pesen" titah Air sambil menarik satu kursi di meja paling ujung.


"Hem, Iya" jawab Hujan pasrah dan tahu jika suaminya itu akan banyak memesan makanaa seperti biasa.


Air datang dan duduk di hadapan Hujan, ia langsung meraih tangan sang istri untuk di genggam lembut.

__ADS_1


"Kalian harus sehat ya"


"Pasti, aku akan jaga anak ini apapun yang terjadi" sahut Hujan.


Keduanya mengobrol sampai pesanan mereka datang dan siap di santap, Hujan membelalak kan matanya saat begitu banyak makanan terhidang di atas meja.


"Kebiasaan!"


Air hanya tertawa kecil, ia merasa gemas dengan raut wajah Hujan yang mengembangkan pipinya.


"Tau gak perbedaan kamu sama pizza?"


"Enggak!" sahutnya singkat.


.


.


.


.


.


.


Pizza itu buat dibagi-bagi.. sedangkan kamu cuma buat aku seorang diri



🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Novel ini cuma hiburan ya..


makasih banget buat yang udah bilang lebay dan gak jelas


silahkan skip dan cari novel yang berat konfliknya.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2