
πππππππ
Reza yang tak sabar menunggu buntut gajahnya pulang sampai rela menunggu di lobby apartemen, ia tak kuasa menahan rindu pada bocah yang selalu menempel padanya itu.
Jerit melengking Sam saat datang mengalihkan semua perhatian orang-orang yang ada di sekitar lobby. Beberapa yang mengenal bocah itu tentu hanya bisa mengulum senyum sambil menahan diri untuk tidak menyentuh, padahal tangan mereka begitu gatal ingin mencubit pipi bulat Putra Mahkota Rahardian tersebut.
Huleeeeee
Appaaa dede.
"Sayangnya Appa, kangen gak?"
Iyyaaaah.
Sam yang sudah berpindah gendongan dari Air ke Reza terus saja berceloteh dalam dekapan kakeknya, Entah apa yang di ceritakan anak itu hanya Reza lah yang mengerti bahkan Air dan Hujan hanya bisa sesekali saling pandang sambil mengangkat bahu tanda tak mengerti.
Sampai di dalam Apartemen ia di sambut kembali oleh Ammanya, Melisa yang sama merindukan cucunya itu pun langsung menciuminya tanpa ampun.
"Mama gak nanya kakak?"
Wanita cantik itu hanya menoleh sambil tersenyum kecil.
"Mama kangen anakmu" goda Melisa yang tahu jika si sulung kini sedang merajuk padanya.
"Mama jahat, gak kangen kakak. Kakak pergi tiga hari loh" rengeknya diatas pangkuan mamanya.
Nono ih..
Sam yang mengusir papAynya langsung mengundang gelak tawa dari yang lain.
"Dede habis jalan-jalan ya"
__ADS_1
Iyyaaah.
"Seneng gak?" tanya Melissa lagi.
Iyyaaah.
Hujan yang datang membawa sebotol susu pun dengan cepat di Terima oleh Samudera, bocah tampan itu nampak haus karna sedari tadi banyak di tanya oleh Appa dan Ammanya.
"Habiskan ya" titah Hujan sambil mengusap kepala Putranya sampai tertidur di sofa.
****
"Kakak besok mulai ke kantor lagi, 'kan?" tanya Hujan saat mengganti baju Sam di atas tempat tidur, bocah itu saking lelapnya sampai tak perduli saat tubuh montoknya di mainkan Hujan.
"Iya, kenapa?"
"Aku sama Adek mau pergi besok, aku mau cerita sama kakak lupa semalam" jelas Hujan.
"Adek mau ke dokter, biasalah cekhup. Katanya Abang gak bisa anterin"
Air hanya mengangguk, memang masih butuh proses panjang untuk Cahaya sembuh total karna nyatanya kini ia malah merasakan efek dari pencakokan jantungnya meski sudah bertahun-tahun lalu.
"Ya sudah, tapi jangan bawa Sam, aku takut dia rewel disana" pesan Air yang mengkhawatirkan putranya itu malah akan membuat rusuh di rumah sakit.
"Iya, nanti aku akan minta Mama buat jaga, Sam"
"Kenapa gak sama Yayang?" tanya Bumi, ia berjalan mendekat kearah istrinya yang duduk di ranjang.
"Dia juga ikut, Kak" kekeh HujanHujan sambil menutup wajahnya karna malu.
"Wah, anak sama mantu Rahardian kayanya bakal borong isi Mall juga nih" goda Air, jika Hujan pergi sendiri atau dengannya, gadis itu tak akan membuang banyak uang tapi lain cerita jika dengan si Bungsu. Cahaya akan terus mengompori semua kakak iparnya itu untuk menghabiskan uang suami mereka.
"Enggak, aku gak belanja banyak, Kak"
__ADS_1
"Banyak juga gak apa-apa, kalo abis ntar nyari lagi. Kalo gak bisa nyari lagi tuh duit Sam juga luber luber" kekeh Air menggoda istrinya.
"Dih, gak pake duit Sam juga kali, kak" oceh Hujan seraya memukul lengan suaminya.
"Aku bercanda sayang. Pergilah dan lakukan hal sesukamu apapun itu yang membuat mu senang, kamu harus punya waktu untuk dirimu sendiri. Jika sebelum mengenalku kamu bahagia maka saat bersamaku kamu harus lebih bahagia" pesan Air, setelahnya ia mencium kening Hujan dengan lembut.
"Terimakasih, kak. Aku mencintaimu" balas Hujan sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya ampun... Kalo senyum gulanya berapa sendok sih?
manis banget!!
ππππππππππ
Udah lama gak denger kakak ngegembelπ€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1