Air Hujan

Air Hujan
Bukan awal tapi Akhir.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Ini banak banet, papAy nda lagi nakal, kan?" ucapan bocah bawel. tersebut sontak membuat semua mata tertuju padanya. Air yang sadar menjadi pusat perhatian hanya bisa menelan salinannya kuat kuat.


"Nakal apa?"


"PapAy nda makan sama dede, kan?" sambung Sam lagi.


"Kan papAy udah bilang sama Moy kalo akan makan malem sama temen kerja papAy" jawab Air jujur dalam garis besar.


"Lama lama banet"


Air melirik kearah istrinya, Hujan menggeser piring yang masih terisi tiga dimsum kesukaannya. Sungguh ini di luar kebiasaan Hujan yang selalu melahap habis makanan tersebut.


"Kenapa?"


"Aku kenyang" jawab Hujan sambil menyeka ujung bibirnya dengan tisue, wanita itu mendekat kearah sang putra untuk membantu membelah kue dan beberapa potong buah strawberry.


Air yang peka dengan berubahnya sikap si pemilik hati tak lagi bertanya terlebih ada orang tua mereka disana. Masalah Air dan Hujan cukup di selesai kan di kamar nanti.


"Udah ah, simpen buat salapan ya" Sam yang bangun dari duduknya di karpet langsung naik keatas panggkuan gajah kesayangannya.


"Sikat gigi dulu sebelum bobo" titah Reza mengingatkan.

__ADS_1


"Siap, Appa"


Sam yang menarik tangan Reza untuk masuk kedalam kamarnya, jika melihat benda penunjuk waktu memang ini saatnya sangat putra mahkota Rahardian itu untuk tidur.


"Dede mau bobo sama Appa juga Amma ya, Moy" pamitnya pada Hujan. Anak laki laki yang bersekolah di taman kanak-kanak itu tak bisa di paksa atau di prediksi akan mengarungi mimpinya dengan siapa.


"Gak bobo sama, Moy?"


"Nda, besyok aja ya" sahutnya masih tak mau melepas tangan dari Reza.


"Sini cium dulu" Hujan melambaikan tangan pada putra semata wayangnya. Ia ciumi seluruh wajah tampan Samudera yang jika tersenyum mirip sekali dengan sang suami.


"Gili ih, Moy"


"Huaaa.... sakit banet Oey" adunya pada Reza, Air pun langsung mendapat cubitan kecil dari Melisa. Wanita yang sedari tadi diam itu akan berubah galak jika ada yang mengganggu cicit pertamanya itu.


"Kakak juga sakit, Mah"


.


.


Cek lek

__ADS_1


Air yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Hujan yang duduk di tepi ranjang. Wajahnya wanita itu sangat lain karna tak ada senyum sedikit pun saat melihatnya.


"Lebih tiga puluh menit" ucap Hujan langsung tanpa basa basi.


"Ish, kamu tuh udah kaya mbah dukun"


"Ceritakan sendiri atau aku yang cari tahu" tegas si wanita pintar tersebut.


Hujan yang memiliki suami mantan playboy yang deretan kekasihnya dari senin hingga minggu harus kuat hati jika di setiap sudut kota ataupun kemana mereka pergi ada saja si masalalu yang menyapa. Meski di respon dingin oleh Air tapi Hujan tetap lah istri yang pecemburu.


"Ada hal yang memang menurutku sepele namun bagimu itu penting untuk kita bahas, iya kan?" tanya Air yang di balas anggukan kepala oleh istrinya yang ia tahu sedang merajuk.


"Moy, aku gak mau terus terusan bahas masalah ini, maafin aku ya. Aku gak akan berpaling dari kamu, kamu percaya itu, kan? kamu yang terhebat yang bisa menaklukan hatiku. Kamu selalu ada untukku, Sayang." rayu si bayi buaya cengeng.


"Kak, aku gak perduli selama apa kita bersama, karna aku gak akan bilang kalau aku adalah wanita yang nemenin kamu dari awal." tegas Hujan masih menundukkan pandangan.


"Lalu kamu apa, Moy?"


.


.


Aku cuma orang yang kebetulan bertemu denganmu di tengah jalan yang kini ikut serta bersamamu melewati segalanya. Maka itu aku lebih suka di katakan kalau AKU ADALAH WANITA YANG MENEMANIMU HINGGA AKHIR...

__ADS_1


__ADS_2