
"Kuaci?" kata Yayang bingung, ia yang tak tinggal serumah tentu tak banyak paham bahasa planet Sam.
***Iyyaah
Kuaci ci ci anyak***.
"Baju kurcacinya warna apa sih? kok Amma gak tau ya" timpal Melissa, ia yang sudah membereskan semua keperluan cucunya langsung mendekat kearah Sam dan Kahyangan.
Glin.
"Apa, Mah?" tanya Yayang.
"Green"
Kahyangan mengangguk paham, ia rasanya semakin gemas dengan ponakannya yang berpipi bulat itu.
"Kalau celananya warna apa?" kini gantian Yayang bertanya.
Totet.
Melisa dan Kahyangan saling pandang, kedua menantu Rahadian itu sama-sama tak paham dengan apa yang di katakan Baby Bear.
"Totet? kok totet sih" keduanya tertawa. Namun, Sam malah merengut kesal.
"Tar kita tanya Papa, papa pasti ngerti apa yang di omong Sam barusan" kata Melisa sambil mengulurkan tangan agar cucunya itu bangun dari duduknya.
"Ayo, mau ke Moy gak?"
Nda..
"Kok enggak? ayo cepetan" ajak Melisa lagi.
"Mau gendong?" tawarnya lagi tapi di jawab gelengan kepala.
"Dede mau apa?"
Onty nyang nyang ih.
"Oh, mau sama Auntu? bilang dong" jawab wanita berhijab panjang itu.
Kahyangan yang menuntun Sam terus berjalan pelan menuju lantai bawah, keduanya melangkah dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Tutuuuuuuuut" panggil Reza saat cucunya sudah ada di tangga paling bawah.
"Yeee..... Appanya ambil" goda Cahaya, ia yang sedang nyaman dalam pelukan suaminya langsung pindah ke sisi papanya saat melihat Sam datang.
Onty akal.. akal.. akal.. ih!
"Siapa yang nakal?" tanya Reza saat Sam sudah berada dalam gendongannya.
Onty..
"Ontynya cium boleh ya?" Reza malah ikut menimpali malah dapat cubitan panas di perutnya.
Nda ih.
********
Selama perjalan menuju rumah sakit, Sam benar-benar tak turun dari atas pangkuannya Appanya, ia merengek saat Reza dan Melisa ikut dengan mobil Langit.
"Musuh bebuyutan banget nih sama Adek" goda Melisa sambil menciumi pipi bulat Sam sampai anak itu harus terkekeh geli.
"Anak bungsunya Appa ini sih, ya de'?"
Sampai di rumah sakit milik Hujan, semuanya langsung naik kelantai yang dikhususkan untuk keluarga. Tak ada siapapun disana jika bukan anggota keluarga Rahardian yang datang karna Satu lantai selalu di steril kan setiap hari.
cek lek.
Pintu di buka oleh Bumi yang memang berjalan lebih dulu dengan menggandeng Kahyangan di tangan kanannya.
Hujan yang duduk di tepi ranjang pun sontak menoleh.
"Gimana kakak?" tanya Bumi.
"Baru tidur, kecapean abis nangis" sahut Hujan lemas.
Cahaya dan Langit yang baru masuk pun hanya melihat sebentar kemudian duduk di sofa yang di ikuti oleh Kahyangan.
"Masih tidur?" Melisa yang kini sudah berada di sisi putra sulungnya langsung memegangi kening Air.
"Baru tidur, nangis terus minta pulang" adu Hujan, untung saja wanita cantik ini memiliki rasa sabar luar biasa, jika tidak mungkin Suaminya sudah di tinggal sedari bertahun-tahun lalu.
Samudera yang seakan tahu PapAynya sedang sakit tak banyak bicara dan bertepuk tangan saat melihat Hujan, bocah tampan itu hanya mencium kedua pipi Hujan secara bergantian dan itu sontak membuat mata miMoynya berkaca-kaca karna Haru.
__ADS_1
"Moy, kangen dede ih" ucap Hujan dengan suara serak
Nanen Moy ih.
Hujan langsung memeluk tubuh putra semata wayangnya dengan erat dan penuh kerinduan.
"Ini pake baju kurcaci, emang masih muat?"
"Pengen pake itu, kuaci kuaci katanya, mama sampe sakit kepala" timpal Melisa yang memang sempat di buat pusing oleh cucunya itu.
Kuaci Glin.
"Iya, kurcaci Green, sayang"
"Terus tadi Totet apa?" tanya Khayangan yang masih penasaran.
Semua mata kini beralih pada Reza, ia yang tahu menjadi pusat perhatian hanya mengulum senyum sambil mengusap tengkuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Harusnya sih TOTAT, biar nyambung ke Coklat. tapi bukan anak cebong namanya kalo gak di bolak balik, 'kan?
ππππππππππ
Gak sekalian Telolet de' ππππ
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1