
ππππππππ
kreek..
Kali ini Air tak lupa mengunci pintu, jangankan benda besar itu, lampu pun kini sudah ia matikan dan hanya tersisa lampu tidur di sisi kanan dan kiri tempat tidur.
"Masih sore, Kak" ucap Hujan yang duduk bersandar di punggung ranjang setelah keluar dari kamar mandi.
Air terus memfokuskan matanya pada sang istri yang kini sudah mengenakan lingerie hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Sebagai suami Air hafal betul jika memang tak ada cacat sedikit pun di tubuh sang pemilik hati.
"Bagus dong, bisa nambah berkali-kali" Jawab Air sambil membuka kaosnya.
Hujan hanya tersenyum kecil, di usianya yang semakin dewasa sang suami malah lebih sering menyentuhnya tak perduli meski pulang kantor saat menjelang makan malam. Seperti tak ada lelah dan bosannya mereka terus menggali kenikmatan dunia sampai titik tertinggi mendapatkan pelepasan.
Air mulai naik keatas ranjang yang sebentar lagi akan mengeluarkan hawa panas, semua sudah ia singkirkan seperti biasa. Tak ada bantal dan selimut yang akan membuatnya risih saat bertarung, karna mereka akan melakukan banyak hal yang menyenangkan dan itu tak cukup sekali.
__ADS_1
Kain tipis yang dipakai Hujan sudah ia buka dengan perlahan, padahal sang istri baru memakainya dalam hitungan menit. Hal yang sebenarnya malas dilakukan oleh Hujan tapi Air begitu senang melihat wanita itu tampil seksi di hadapannya terlebih saat memiliki anak, tubuh Hujan kian berisi terutama di bagian dada, area yang paling menjadi favoritnya.
Awal sentuhan, Air melakukannya dengan sangat lembut. Setiap inci tubuh polos Hujan ia nikmati tanpa ada yang terlewat, bagian leher dan pundak adalah singgahan pertama sebelum ia menyesap puncak gunung kesukaannya, bagaimana ia tak suka, jika suara des Ahan Hujan yang lolos begitu saja langsung membakar gelora kelelakiannya.
Air takan mengalah dalam hal ini, telinganya seakan tertutup saat mendengar jeritan lelah wanita halalnya.
Hujan yang tak kuat saat mendapat serangan bibir di tubuhnya hanya bisa meng erang dan menggigit bibir bawahnya, rasanya masih terlalu malu untuk ia men des Ah terlalu keras walau sangat ingin.
Puas berjelajah diarea atas, kini saatnya memasuki kebun kecil yang sudah sangat lembab karna permainan jari dan lidahnya barusan.
Tangan pria tampan itu pun tak tinggal diam, ia terus menyentuh dua gundukan daging kenyal yang teramat menantang seolah meminta untuk terus di jamah.
"Pelan-pelan, kak" lirih Hujan saat hentakan si ekor buaya terasa begitu dalam.
"Dikit lagi, Moy..."
__ADS_1
Dan...
Air menarik tangan istrinya agar lekas bangun, tanpa permintaan dan kode, Hujan pun langsung paham dengan apa yang di inginkan suaminya itu, Jadilah ia yang kini memegang kendali diatas ranjang yang semakin panas.
Pergulatan dan saling serang itu terus berjalan tanpa ada yang mau mengalah, malah Justru membuat keduanya seakan berlomba siapa yang akan lebih dulu sampai di puncak surga dunia sampai tak tahu jika di kamar lain sang buah hati justru sedang menangis sesegukan.
.
.
.
.
Huaaaaaa.... papAy sama Moy dede hilang mana Oey, Kamal nya delap banet itu.
__ADS_1