
ππππππππ
"Mampir ke hotel" jawab Bumi sambil membuka tutup toples yang ada di atas meja.
Cek lek..
Dua jagoan Rahardian itu langsung menoleh kearah luar ruang makan menunggu siapa yang akan datang.
"Loh.. itu mama sama papa" seru Air yang kaget melihat kedua orang tuanya.
Reza dan Melisa tentu ikut kaget juga melihat reaksi si Air saat melihat mereka, bahkan keduanya sempat saling pandang.
"Kenapa?" tanya Melisa bingung.
"Kata Bumi mama sama papa ke hotel" ucap si sulung.
"Mana dia orangnya" serunya lagi mencari kembarannya yang ternyata sudah kabur ke kamarnya
Bumiiiiiiiiiiiiiiiiii......
Reza dan Melisa hanya menghela nafas dua anaknya itu masih seringkali saling ejek soal hal sepele.
"Berikan ini pada Hujan, tadi dia telepon Mama minta di belikan manisan bengkuang" ucap Melisa sambil menyodorkan satu bungkusan pada putranya.
"Kok gak minta sama kakak" tanya Air sembari menerima bungkusan berwarna merah tersebut.
"Mungkin karna tahu mama sama papa lagi di luar"
Air hanya mengangguk paham, kemudian naik ke kamarnya membawa satu mangkuk juga sendok guna menjadi wadah manisan yang ia bawa juga.
ceklek..
Air membuka pintu dengan sangat pelan, Ia takut mengaganggu Hujan yang mungkin saja sedang terlelap karna yang ia tahu jika Sang istri kini mudah sekali tidur jika sudah ada bantal di dekatnya.
"Sayang.. "
__ADS_1
"Yang...
" Jan Hujan dereeeeeeeeesssss "
Air terus mengusap kepala istrinya sambil mencuri cium kening selagi Hujan tak sadar karna jika kedua matanya terbuka tentu ibu hamil itu akan marah besar.
"Sayang.. aku bawa bengkuang" bisik Air.
"Eh salah, manisan bengkuang maksudnya" sambung pria tampan itu.
Hujan yang sedikit sadar hanya menggeliat kecil namun malah mengeratkan pelukannnya pada bantal kucing miliknya.
"Enak banget si emon di peluk peluk, untung bukan boneka onyet. Coba kalo si monkey yang ada di sini bisa abis pisang gue" kekeh Air yang masih duduk di sisi ranjang.
Hujan yang tak bangun juga meski sudah di jahili suaminya seakan mejadi kesempatan bagi Air untuk meringsek naik ketempat tidur, ia peluk wanita terbaiknya itu sambil mengelus perut yang kini terlihat buncit meski hanya sedikit.
"Sehat sehat ya kalian" Gumam Air yang kadang masih tak percaya jika ada mahkluk hidup dalam perut istrinya dan itu tentu hasil kerja kerasnya menggarap menanam dan menyiramnya sampai tumpah tumpah dan meluber kemana-mana karna tembakan lahar panasnya.
Hujan yang merasa berat karna air memeluknya bagai bantal guling pun langsung mengerjapkan kedua matanya.
"Ssttttt... diem!" Sentak Air pada Hujan sampai istrinya itu menurut dan akhirnya diam
"Ada apa?" tanya Hujan bingung.
"Ada suami yang lagi kangen istri" goda Air sambil tertawa semakin mengeratkan pelukannya.
Hujan yang masih kesal tentu merengek ingin di lepaskan namun Air tak memperdulikannya, Ia justru mencumbu Hujan tanpa ampun.
"Kak.. aku laper. Awas!"
Air yang sedang sibuk membuat jejak jejak merah di leher sang istri pun akhirnya bangun.
"Mau makan?" Tanya Air yang masih berada di atas sang istri hanya bertumpu pada lututnya.
"Iyalah. Masa mau tidur!" cetus Hujan mendorong wajah suaminya yang mau mendaratkan ciuman.
__ADS_1
Air terkekeh dan benar-benar bangun, ia raih lagi kaosnya yang baru di lepas untuk di kenakan lagi.
"Mau makan dirumah atau makan di luar? "
"Aku mau makan sate ayam, kakak mau apa?" Hujan balik bertanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sate juga tapi SATErusnya sama kamu... "
πππππππππππππ
Ea.... dasar cebong πππππ
Jangan lupa satenya pake tolong ya biar kenyang π€£
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1