
πππππππππ
Godaan Air dan Rengekannya tak mempan bagi Hujan, ini sudah terlalu siang dan bukan lagi saatnya untuk ingin bermain-main seperti semalam.
"Dikiiiiiiiiit aja!" Rayu air sambil menarik tali bathrobe istrinya.
"Kemarin janji kan, buat gak ganggu jam kuliah gue!"
Air mendengus kesal, dan memilih memeluk pinggang ramping Hujan, gadis itupun langsung mengusap kepalanya.
"Mandi sana, kita sarapan ya"
"Janji ntar malem lagi, ya" pintanya dengan wajah begitu polos.
"Emang harus tiap malem?" tanya Hujan.
"Iya, harusnya sehari tiga kali Jan Hujan dereeeeeees!"
Hujan hanya tertawa, lalu melepaskan pelukan sang suami dari pinggangnya.
Air yang baru selesai mandi kini sudah ikut sarapan bersama Bunda juga Hujan, hanya obrolan ringan yang mereka bicarakan sambil mendengar nasihat dari bunda untuk pasangan pengantin baru itu.
Begitu panjang petuah yang di berikan sampai tak semuanya masuk kedalam otaknya, dua manik mata milik Air fokus pada baju bagian dada yang di pakai istrinya saat ini.
"Kalian mau langsung berangkat?" tanya Bunda saat piring ketiganya sudah kosong.
"Iya, Bun"
Keduanya bangkit dari duduk dan bersiap tapi Air lebih dulu menarik tangan istrinya masuk kedalam kamar.
"Ada apa?" tanya gadis itu bingung.
"Ganti baju" titah Air dengan tangan sudah ia lipat didada.
"Kenapa?, ada yang salah sama baju aku?" Hujan melihat dirinya sendiri yang nampak Kebingungan.
"Ganti pake kaos, jangan pake kemeja"
Hujan mengernyitkan dahinya, ia masih belum mengerti dengan perintah suaminya.
"Ini udah rapih banget, Ay. aku juga pake dalem an" kata Hujan meyakinkan bahwa yang ia pakai sudah sangat sopan.
"Nanti kancingnya kebuka, gimana?, kalau punya aku ada yang liat gimana?" protes pemuda Posesif itu.
Waktu yang sudah tak memungkinkan untuk berdebat membuat Hujan menurut walau ia sempat mengumpat kesal
"Liat gue sini buka bajunya" ucap sang suami dengan santainya.
"Gak mau!" sentak Hujan.
__ADS_1
Air memutar bahu Hujan agar gadis itu menghadapnya, dengan senyum menggoda ia terus menikmati tubuh langsing sang istri meski hanya sebatas bahu putih nya saja.
"Gini?" kata Hujan dengan kesal.
"Sip!"
Keduanya kini keluar kamar setelah Hujan mengganti pakaiannya, tak hanya kaos karna Air pun memberikan switernya untuk lebih menutupi tubuh gadis halalnya.
"Kok gue kaya orang lagi meriang gini sih , Ay" keluh Hujan.
" Yang penting aman dari mata mata para lelaki Jan Hujan dereeeeeees" Jawab Air.
"Termasuk mata Lo!" dengus Hujan kesal.
.
.
.
Mereka yang berbeda jurusan dan fakultas tentu jam belajar pun jarang sekali sama, tapi Hujan sudah pasti selalu masuk pagi dan pulang sore, itu ia lakukan hampir setiap hari.
"Nanti kita pulang kayanya gak sama, Lo tunggu gue sebentar gak apa-apa ya" pinta pemuda tampan itu setelah menyalakan mesin mobilnya.
"Gue tunggu di perpus kalo gitu" jawabnya yang sudah duduk senyaman mungkin.
"Lo gak mau gue anter?" Air menoleh sambil menautkan kedua alisnya.
Hujan menggeleng kan kepalanya dan membenarkan posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Air
"Kamu kan gak sepagi aku kuliahnya, kamu masih bisa tidur sampe siang, kan?" jelas Hujan.
"Tapi gue mau nganterin Lo sampe kampus!"
"Ya udahlah terserah Lo"
Perdebatan kecil yang selalu mereka lakukan tapi dua hari ini Hujan lebih sering mengalah dari pada ia meladeni dan akhirat berujung keributan.
Keduanya kembali diam sampai mobil berhenti di area parkiran gedung megah bertaraf internasional.
Sebuah kampus paling mewah di ibu kota yang tentu mahasiswanya bukan dari kalangan biasa.
"Jan, tunggu"
Hujan yang sudah ingin membuka pintu akhirnya menoleh.
"Ada apalagi, gue cuma punya waktu Lima belas menit buat sampe kelas"
"Gue minta no telepon bunda"
__ADS_1
"No bunda?, buat apa?" tanya Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cuma mau bilang makasih sama bunda..
Udah jagain jodoh gue yang cantik ini Meskipun GALAK banget
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Ada yang meleleh tapi bukan hati..
lilin ya?
salah woy...
Es Mambo π€π€π€π€π€
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1