Air Hujan

Air Hujan
Laporan.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Cek lek..


Air masuk kedalam kamar saat sudah lewat dari tengah malam. Hujan yang sebenarnya belum tidur tetap memejamkan kedua matanya, ia tak Ingin Samudera bangun karna mendengar obrolan keduanya.


Air yang susah membersihkan diri langsung naik ke atas ranjang. Ia nampak bingung saat melihat putranya tidur tanpa baju dan hanya mengenakan celana piyama. Tak ingin Sam sakit ia pun turun kembali untuk mengambil baju lalu di pakaikan pada Sam.


"Laganya bocah kecil tidur gak pake baju, nanti ya kalo udah ada yang ngelonin baru deh buka bukaan, Ok" kekeh pelan Air.


Hujan yang mendengar ingin sekali menimpali tapi ia takut Sam bangun dan urusan pun jadi panjang. Jadi Hujan memilih membiarkan suaminya cepat untuk tidur.


.


.


Pagi hari Hujan menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Bangun dan mengurus Sam jika anak itu sedang ingin dengannya karna biasanya Melisa atau Reza lah yang akan merapihkan sang putra mahkota sampai terlihat rapi dan tampan sebelum berangkat ke sekolahnya.


"PapAy bangun, dede udah ganteng. Ayo anter" teriak Sam di telinga kanan Air yang masih mendengkur halus.


"Hem, pergi sama supir aja" gumam pria yang nampak sulit sekali membuka matanya.


"Dede mau anter papAy. Dede gigit ya"

__ADS_1


" Aw... " teriak Air yang langsung bangun dari tidurnya.


"Dede belom gigit Oey"


"Oh, belom. Kirain udah" sahut Air yang langsung memeluk anaknya.


Hujan yang melihat dan mendengar drama receh Sam dan suaminya tak bisa menahan tawa. Dua pria tampan itu benar-benar sangat menggemaskan.


"Moy senyum senyum aja, pengen ikutan tuh" ledek Air dengan kedua mata mengarah pada istrinya yang sudah terlihat cantik.


"Sini Moy, dede lagi bicikin papAy loh"


"PapAy bilang apa?" tanya Hujan yang berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


"Siapa bilang?"


"PapAy nih, bicikin dede" kekeh Sam, ia senang jika melihat Air tegang saat Hujan bersiap mengomelinya.


"Enggak, Moy. Aku mana ngomong gitu sih" elak Air sambil bangun dari baring nya. Ia sibakkan selimut lalu turun dari ranjang.


"Dede gak mungkin bohong" cetus Hujan dengan tangan melipat di dada.


"Tapi, Moy. Meskipun kamu ileran juga tetep cantik kok. Hatiku tetap berdebar pas liat kamu. Wangi mawar pun rasanya kalah dengan ilermu, Sayang"

__ADS_1


Plak..


Hujan memukul dada suaminya yang polos tak memakai baju. Air tertawa dan langsung memeluk Hujan yang tersenyum simpul di balik rasa kesalnya.


"Aku mencintaimu, Moy"


"Aku tahu, dan ada yang harus kamu tahu, kak" kata Hujan yang kini sudah mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Aku sudah mendapat kan hatimu, berada di sisimu dan satu-satunya dalam hidupmu. Aku bangga akan pencapaian itu"


"Wow, udah bisa rayu suami terus. Harus di bikin mende sah hebat nih kalo begini" goda Air. Kedua kening mereka saling menempel bahkan nyaris berciuman.


.


.


.


Ya ampun! Moy sama papAy nda inget sama dede apa? dede harus laporan dulu sama Gajah..



Lapor Tut, biar di grebek sama Gajah beserta pawangnya. Siap dukung di belakang Appa 🀣🀣🀣

__ADS_1


__ADS_2