Air Hujan

Air Hujan
bab 107


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Diandra...


"Saya Reza, ayah Air " balasnya sambil menerima uluran teman anaknya itu.


"Terima kasih banyak, sudah menolong dan membawa anak saya kemari" ucap Reza lagi.


"Sama-sama, Om. kebetulan saya ada disana"


Reza membalasnya hanya dengan seulas senyuman kecil karna ada yang sepertinya belum ia ketahui tentang kronologi kecelakaan putra sulungnya itu.


"Baiklah, saya akan menemui dokter lebih dulu" pamit Reza yang langsung meninggalkan Air bersama Diandra.


Gadis itu mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, ia tatap punggung Reza sampai akhirnya menghilang dari balik pintu.


.


.


.


"Jelaskan yang sebenarnya terjadi nanti, saya akan temui dokter dulu" Ujarnya pada dua orang yang selama ini bertugas mengawasi anaknya.


Reza terus berjalan menuju ruangan dokter yang tadi menangani kecelakaan Air, kini ia dan sang dokter tengah duduk saling berhadapan.


"Bagaimana? Apa ada luka yang serius yang di alami putra saya?" tanya Reza dengan sangat khawatir.


"Tidak, Tuan. Hanya luka di bagian kening, lebam di pelipis dan kaki yang terkilir " jawab sang dokter.


"Kepalanya?" tanya Reza lagi, ia sedang benar-benar takut.


" Tidak ada masalah, cuma di bagian bahu ada sedikit luka, Sepertinya saat kecelakaan helm tak sampai lepas"' dokter kembali menjelaskan.


"Baiklah, terima kasih. Saya akan Pindahkan anak saya jika sudah siuman" tutur pria tampan itu sambil bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Akan kami persiapkan segala sesuatunya, Tuan"


.


.


Reza keluar dengan perasaan sedikit lega, setidaknya ia bisa mengabari istrinya pelan-pelan nanti.


Tapi Reza akan lebih dulu menghubungi Langit dan Bumi setidaknya dia tidak akan sendiri menghadapi KHUMAIRAHnya yang mungkin akan histeris seperti yang sudah sudah, ditambah kini ada Hujan!


*Reza


[ Bang, Kakak kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit x. Kamu jemput Buna sekalian ya ]


Reza mengirim pesan pada Langit karna takut mengganggu pekerjaan anak angkatnya itu ditambah ini hampir jam makan siang, biasanya Langit tak pernah berada di kantornya pada jam jam segini.


Tak lupa ia juga mengirim pesan pada si tengah agar bisa datang bersama menantunya.


.


.


.


"Kerja bagus. Tetap awasi!" titahnya sambil menepuk bahu orang kepercayaannya itu.


****


Di kampus, Bumi langsung membereskan barangnya saat mendapat pesan dari papanya yang mengatakan jika Air kecelakaan dan ia ia di minta untuk segera datang membawa Hujan, ia yang baru saja delapan menit lalu selesai di jam pertama langsung bergegas ke gedung fakultas kedokteran menjemput kakak iparnya.


"Jan..." Panggil Bumi saat melihat Hujan berjalan ke arah perpustakaan


Gadis cantik itu menoleh, meski sama rupa tapi Hujan sudah sangat tau jika yang memanggilnya itu tentu bukan sang suami.


"Apa?" tanya Hujan bingung saat Bumi menghampirinya dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"Ikut gue yuk" ajaknya dan langsung meraih tangan Hujan agar cepat pergi bersamanya.


"Kemana?"


"Rumah sakit!" jawab Bumi sambil terus menyeret pergelangan tangan Hujan.


"Ngapain?, siapa yang sakit?" tanya gadis itu semakin berteriak, bukan hanya kesal karna di paksa tapi ia juga merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Suami Lo kecelakaan!" Bumi mengucapkannya setelah ia membalikkan badan, kini keduanya sudah saling berhadapan dengan tangan saling menggenggam.


"Kakak..." lirih Hujan seakan tak percaya dengan yang di dengarnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Please, Jangan pingsan disini...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


Gak laki gak bini.. bikin repot aja 🀭🀭🀭


Like komen nya yuk ramai kan ❀️


__ADS_2