
ππππππ
Sepuluh hari berlalu, Air pulang dengan raut wajah dingin dan tatapan mata sulit di artikan. Langkah kakinya begitu tergesa menuju mobil yang sudah menunggunya di bandara.
"Aku aja yang bawa" ucap Hujan saat suaminya membuka pintu bagian kemudi.
Air hanya tersenyum kecil, ia berjalan memutari bagian depan mobilnya menuju bagian kiri.
Braaak...
Air menutup pintu kereta besinya itu dengan cukup keras, ia menarik tengkuk Hujan agar mendekat kearahnya. Di lu matnya bibir ranum sang istri penuh luapan napsu. Sepuluh hari berpisah tentu sangat menyiksa bathin Air yang tak pernah bisa jauh dari pelukan pemilik hatinya.
"Kak..." des Ahan Hujan seolah menambah gejolak dalam diri Air, apalagi saat tangannya sudah menyusup kedalam dress yang di kenakan Hujan.
"Kita ke apartemen" ucap Air dengan suara berat karna menahan sesuatu.
"Tapi, kita jemput dede dulu" jawab Hujan, ia yang sudah berjanji tentu pasti akan di amuk Samudera jika mengingkari.
"Nanti biar Gajahnya yang jemput, aman!"
__ADS_1
Hujan membuang napas kasar, jika sudah begini ia tak mungkin bisa lagi mengelak. Ia tahu apa yang akan di lakukan sang suami nanti di apartemen.
.
.
Hujan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali keduanya saling pandang dan tersenyum bersama, dari sorot mata pasangan suami istri itu jelas terlihat kerinduan yang amat mendalam.
Mobil masuk ke area apartemen milik Air dan Hujan, tempat yang jarang mereka datangi kecuali saat sedang ingin berdua saja tanpa gangguan si Tutut.
Keduanya turun dan berjalan beringan, Hujan di rangkul begitu mesra menuju lift membuat siapapun yang melihat akan merasa iri dengan pasangan tersebut. Hampir sepuluh tahun bersama benar-benar tak mengurangi rasa cinta keduanya, justru saling menguatkan dan saling bergantung satu sama lain. Mereka yang saling melengkapi seolah menyempurnakan pernikahan.
Pintu utama terbuka, semua nampak rapih seperti biasa karna ada yang mengurusnya setiap tiga kali perminggunya.
"Mandi yuk, Moy" ajak Air saat ia menarik pinggang ramping istrinya.
Sesuatu yang mengeras sudah bisa dirasakan Hujan saat tubuh mereka bersentuhan. Wanita cantik itupun mengangguk setuju dengan apa yang di inginkan sang suami, bohong rasanya jika Hujan tak merindukan setiap sentuhan pria terbaiknya itu.
Tubuh polos Air dan Hujan yang tanpa benang sehelai pun kini saling berhadapan di bawah guyuran air shower, saling berciuman seraya mengusap, meraba dan mere Mas mereka lakukan untuk merang Sang sebelum ke permainan inti.
__ADS_1
Selesai membersihkan diri, kini saatnya penyatuan tubuh di atas ranjang yang masih nampak bersih dan rapih, tapi itu hanya akan berlaku sesaat saja karna buktinya Air sudah melempar semua bantal, guling dan selimut ke lantai. Kebiasaan yang tak pernah berubah sejak pertama kali mereka melakukannya. Pria tampan dan gagah itu tak pernah mau ada apapun yang menghalangi aksi luar biasanya.
Desah An dan Eran gan kenikmatan terus menggema ke seisi kamar luas mereka. Tak ada yang mau mengalah untuk cepat sampai di puncak surga dunia yang sedang mereka gali bersama. Dari yang awalnya hanya sentuhan lembut dan pelan kini semua berubah menjadi cepat dan semakin liar sampai keduanya pun berhasil mereguk manisnya saat mendapat pelepasan.
"Cape ya?" kekeh Air sambil mengusap buliran keringat di wajah sang istri yang masih memejamkan mata. Sisa sisa kenikmatan itu masih di rasakan oleh Hujan yang selalu bertekuk lutut dengan aksi suaminya.
"Hem, banget" sahut Hujan dengan dada yang masih naik turun.
"Moy... "
"Iya, kak. Kenapa?" tanya Hujan, ia tatap mata sang suami yang begitu teduh dan hangat.
.
.
.
.
__ADS_1
Entah kenapa, Rasanya aku selalu jatuh cinta padamu...