Air Hujan

Air Hujan
bab 77


__ADS_3

πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


"Lo lagi ngapain Jan Hujan dereeeeeees?" tanya Air yang kali ini benar-benar kesal pada istrinya.


"Ay, lucu! liat deh" unjuk Hujan sambil tersenyum.


"Kenapa harus senyum sih!" Sentaknya jengkel sambil menghentakkan kaki.


"Kenapa?"


"Kan gue gak bisa marah Jan Hujan dereeeeeees!!" keluhnya masih berdecak pinggang.


Hujan bangun dari jongkoknya sambil menggendong seekor kucing sampai tak memperhatikan raut wajah masam sang suami.


"Ayo pulang!" ajaknya memaksa langsung menarik tangan Hujan.


Hujan yang kaget malah refleks menepis Karna kucingnya mencengkram baju gadis itu.


"Tunggu dulu" ucapnya masih menahan membuat Air menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?"


"Bawa pulang, boleh?" pinta Hujan pelan.


"Gak!" jawab Air singkat padat dan jelas.


"Kenapa,? kasian loh" Hujan malah mengelus si kucing yang masih dalam gendongannya.


"Gue sama papa gak mau liat kucing" sahutnya malas.


Jika hanya Air yang menolak mungkin ia masih bisa memohon dan merayu tapi jika mertuanya yang tak suka ia hanya bisa pasrah dan sadar diri.


"Ya udah, gak jadi" ucapnya dengan kecewa, Air yang tahu hal itu dari perubahan wajah sang istri hanya bisa menghela nafas berat.


"Hayu ih, udah malem!" ajak Air yang kembali menarik tangan Hujan.


"Iya, sabar" Hujan kembali berjongkok dan meletakan lagi si kucing ke jalan, ia mengelus beberapa kali kepalanya dengan begitu lembut.


"Gak di bawa pulang ya, nanti kapan-kapan ketemu lagi" ucapnya sedih.


.


.


Keduanya kini berjalan bergandengan menuju motor yang masih terparkir di dekat kedai Dimsum, Air memakaikan helm di kepala sang istri sebelum ia memakainya juga.

__ADS_1


Selama perjalanan pulang, Air terus mengusap tangan Hujan yang memeluk pinggangnya, masih ada rasa takut terselip di hatinya bagaimana jika ia tak bisa menemukan gadis halalnya itu.


Mungkin dunianya tak akan berwarna lagi.


Sampai di lobby apartemen Air belum juga melepas tangan Hujan, ia benar-benar menggenggamnya dengan begitu lembut tapi erat sampai membuat istrinya kebingungan dengan sikap Air yang diam saja tak berkata apapun padanya.


"Lo marah ya, Ay?" tanya Hujan saat mereka berada didalam lift.


Air hanya menoleh sambil tersenyum lalu menggeleng kan kepalanya.


"Kok diem aja?" tanyanya lagi, ia lebih baik mendengar ocehan Air dibanding harus melihat sang suami diam seribu bahasa.


"Gak apa-apa, ngantuk" balasnya sambil mengelus kepala Hujan.


Saat pintu lift terbuka saat itu juga mereka keluar.


keadaan apartemen yang nampak sepi membuat Air dan Hujan langsung menuju kamar mereka di lantai atas.


"Bersih-bersih dulu ya, banyak bulu kucing" Ucap Hujan saat Air belum juga melepas genggamannya.


"Hem, iya" jawabnya pelan.


Hujan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian, kini ia hanya memakai baju tidur stelan piyama pendek seperti biasanya.


Ia termenung sambil menyisir rambut panjang yang terurai lurus hampir Sepinggang di depan cermin.


"Kamu sekarang seneng main main disini ya, Ay" kekeh Hujan pelan sambil menutup mulutnya, ia benar-benar malu jika mengingat hal-hal menyenangkan yang mereka lakukan jika sedang menyatukan tubuh polos keduanya.


Ada saja permintaan konyol yang di inginkan Air yang membuat Hujan kadang kebingungan tapi akhirnya menuruti semua mau sang suami.


.


.


"Ay... "


Hujan yang duduk diatas sofa langsung mengusap kepala suaminya yang duduk di karpet bulu sedang memainkan ponsel.


"Hem, apa?" jawabnya tanpa menoleh.


"Kenapa diem aja?, masih marah?" tanya Hujan yang tak nyaman dengan diamnya Air.


"Enggak.. kan tadi udah di bilang gak apa-apa" jawabnya masih dengan jawaban yang sama..


"Liat sini dong" pinta Hujan sambil mencoba memegang dagu Air agar menoleh padanya.

__ADS_1


"Mau main-main gak?" tawarnya agar sang suami kembali tersenyum.


"Enggak"


"Kenapa?, biasanya juga gak pernah nolak. Apa mau yang lain?" tanya gadis itu, ia masih berusaha merayu.


Air mengangguk pelan.


"Mau apa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mau nangis, boleh???



🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Boleh kak 🀭🀭


Kecian dari tadi nahan Aer mata ya..


cup cup cup..


sayangnya akoh saking takutnya Hujan ilang taunya di gondol ucing πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kalo cwet gitu jadi gak kuat pengen cium bapaknya.

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan.


vote Sama Hadiahnya juga di tunggu ya


__ADS_2