
ππππππππ
"Sepi ya Moy gak ada si Tutut" lirih Air sambil memeluk Hujan dari belakang yang sedang sibuk dengan tugas kedokterannya.
"Biasanya juga seneng kalo Dede gak ada, bisa garap tanem siram gak berenti berenti, iya kan?" cibir Hujan.
"No, Sayang. Aku beneran kesepian gak ada temen debat loh ini. Aku bingung mau ngapain gada si Tutut markentut"
"Tuh kan! sama anak sendiri aja gitu" cetus Hujan dengan nada kesal. Air dan Sam benar-benar bagai kucing dan tikus, jarang akur dan sering saling menjahili. Keduanya lebih cocok sebagai adik dan kakak di banding ayah dan anak.
Air yang mulai jenuh hanya bisa menunggu istinya menyelesaikan semua tugasnya yang menumpuk. Air sampai ingin muntah jika sudah melihat tumpukan buku di atas meja belajar Hujan.
"Moy, emang gak bosen?"
__ADS_1
"Apa?" tanya Hujan meski tau apa maksud dari pertanyaan suaminya itu.
"Kuliah sampe sebelas tahun. Itu sekola apa kredit rumah?" kekeh Air sambil menggulung gulung rambut panjang Hujan.
"Ya emang segituan kalo mau jadi dokter spesialis, Kak."
"Kalo udah gak sanggup lambaikan tangan ya, Cantik" ucap Air dengan nada bicara sedikit serius.
"Kamu pikir kuliah aku tuh Uka uka uji nyali?" Jawab Hujan tak kalah terkekeh lalu sekilas mencium bibir suaminya.
Drama garap, tanam dan siram pun keduanya lakukan di sofa, Hujan merasa kebun kecilnya begitu sesak saat si ekor buaya terus melayangkan aksinya. Des ahan terus saling menyahut diantara dua insan yang sedang sibuk menggapai puncak surga dunia. Pelepasan bersama yang di inginkan pun akhirnya mereka rasakan dengan keringat yang membanjiri tubuh polos pasangan suami istri tersebut.
Rasa nikmat yang dirasa jauh berkali kali lipat karena keduanya tak hanya mengandalkan napsu semata melainkan cinta dan kasih sayang.
__ADS_1
Hujan yang membersihkan diri lebih dulu hanya bisa tersenyum kecil saat melihat suami sudah terkapar dengan tubuh polos. Tak ingin membangunkan, Hujan pun memilih memberi selimut agar tak kedinginan.
"Cape ya abis kejar target pengen punya bayi lagi?" ucap Hujan pelan sambil mengusap sisa keringat di wajah tampan suaminya.
Entah apa yang di mimpikan Air, sampai senyum terulas di ujung bibirnya yang menggoda.
"Maaf ya, Ay. Aku tahu mungkin cita cita ku ini membuat mu selalu khawatir. Aku hanya ingin mensejajarkan diri di sampingmu. Aku ingin kamu bangga saat memperkenalkan ku pada semua orang di dunia. Begitu pun dengan putra kita, aku ingin Samudera percaya diri saat ia menyebut ibunya adalah seorang dokter bedah dan ayahnya seorang presiden direktur Rahardian Group. Karna aku adalah wanita paling cantik di antara kalian"
Hujan terus mengembangkan senyum di wajah cantik alaminya yang selalu membuat Air terus jatuh cinta padanya setiap detik.
.
.
__ADS_1
Aku bangga karna saat ini aku sedang berada dalam fase di cintai oleh pria hebat sepertimu, disayangi dengan begitu tulus tanpa memandang masa laluku. Kamu yang seorang pekerja keras namun masih sempat memberi kabar padaku di sela kesibukanmu. Denganmu aku merasa aman dan nyaman sampai akhirnya aku bisa berbangga diri karna menjadi pelabuhan terakhirmu...