
ππππππ
" Bunda tadi telepon" ujar Hujan saat keduanya menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Ada apa?, emang udah pulang?" tanya Air sembari membuka pintu.
Hujan hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya yang selalu berubah dingin jika sedang membahas masalah Bunda.
"Kesana saat akhir pekan, jangan ngebantah!" ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi meninggalkan istrinya yang berdiri di tengah kamar.
Gadis cantik itu memilih duduk di sofa menunggu Air yang sedang membersihkan diri, pikirannya melayang jauh pada masa lalunya.
"Jan, kenapa?"
Suara Air langsung membuyarkan lamunannya.
"Gak apa-apa, aku mau makan" pinta Hujan dengan senyum kecil tersungging di ujung bibir mungilnya.
"Kita makan di luar gimana?, udah lama gak jajan, Kan" ajak Air, pemuda itu rindu kebersamaan mereka yang dulu.
"Enggak. Aku mau makan dirumah, Tadi udah bantu mama masak buat kamu" tolak Hujan yang masih enggan keluar rumah.
Air langsung memeluk istrinya, ia benamkan kepala Hujan dalam dadanya yang bidang.
"Aku kangen kita yang dulu, kangen keras kepalanya kamu yang kalo mau apa-apa selalu maksa, Jan" lirih Air sambil mengusap punggung pemilk hatinya itu
"Kamu harus kenal dunia luar lagi, biar punya banyak temen"
Hujan masih diam, baginya tak ada tempat yang aman kecuali dalam rumah dan tak ada orang yang baik selain Suami dan keluarganya. Ia tak lagi percaya perkataan siapapun kecuali perkataan Air.
******
Dunia bagai berubah semenjak dirinya sudah mengemban tanggung jawab sebagian presiden direktur.
Paginya kini penuh aktifas, otaknya di peras dengan setumpuk pekerjaan yang tak ada habisnya.
Bahkan ia harus pintar menyisihkan sedikit waktu hanya untuk bertanya kabar pada istrinya dirumah.
"Sayang, satu jam lagi kamu kesini ya diantar supir" ucap Air saat ia menghubungi Hujan lewat sambungan telepon.
"Ngapain?, aku lagi nonton sama adek" jawabnya memberi alasan
"Kita kerumah sakit, obat kamu habis kan buat besok"
"Kan biasanya di antar kerumah, aku gak mau kesana" selaknya tetap menolak.
"Ada yang mau aku obrolin sama dokter, Jan"
Hujan diam sejenak lalu menoleh kearah si bungsu yang mengangguk kearahnya.
"Iya, Aku siap-siap" sambung Hujan pasrah.
Air tersenyum kecil sebelum ia menutup teleponnya, rumah sakit hanya alasan yang ia buat agar sang istri mau keluar menikmati malam bersamanya setelah dari pagi hingga sore Air harus kuat bergelut dengan pekerjaannya.
__ADS_1
.
.
Hujan yang di bantu Cahaya mulai merias dirinya, Rambut panjangnya itu dibiarkan tergerai begitu saja karna si bungsu tahu jika kembarannya tak suka leher jenjang kakak iparnya itu menjadi pusat perhatian pria lain.
"Kakak udah cantik" ucap Cahaya saat keduanya berdiri di depan cermin.
"Kamu lebih cantik, kulitmu lebih halus dan bercahaya" balas Hujan mengusap lengan Adik iparnya itu.
"Hahahaha, aku kan Rapunzel yang gak pernah di izinin abang keluar" kekeh si bungsu
Cahaya langsung menarik tangan Hujan keluar kamar lalu mengantarnya sampai pintu utama.
"Hati-hati dijalan ya, jangan takut" pesan Cahaya yang sebenarnya tak tega membiarkan Hujan pergi berdua dengan supir mengingat gadis itu kini mudah panik.
.
.
Mobil berhenti di area parkir perusahaan, disana sudah ada Air yang menunggu di dekat kendaraan pribadinya sendiri.
Sambil tersenyum ia berjalan mendekat.
"Harus di cium nih sekarang karna udah berani kesini sendiri" godanya langsung menarik pinggang ramping Hujan.
Tiga ciuman mendarat sempurna di wajahnya.
"Yuk, berangkat sekarang"
Hampir tiga puluh menit akhirnya kereta besi mewah Air pun berhenti di lobby rumah sakit.
.
"Bagaimana?" tanya Air saat berbicara berdua dengan dokter yang selama ini menangani istrinya.
"Jika traumanya pulih, semua akan kembali pada dirinya yang semula. Bersabarlah untuk terus memberi semangat padanya. Semua akan baik baik saja"
Air hanya mengangguk paham, ia yakin jika Hujan akan sembuh total seperti sedia kala.
Setelah Konsultasi panjang lebar akhirnya keduanya memilih untuk pamit. Air dan Hujan keluar dari ruangan dokter secara beriringan.
"Aku mau ke toilet" pintanya saat menarik tangan sang suami sebelum masuk kedalam lift.
"Tapi aku gak bisa ikut, sendiri gak apa apa ya"
Hujan diam dengan raut wajah bingung.
"Aku tunggu di luar, kamu masuk sendiri, ok" sambung Air lagi. Ini juga salah satu caranya agar Hujan bisa lebih berani.
Gadis cantik itu akhirnya mengangguk pasrah.
"Tunggu disini ya, awas jangan tinggalin aku" ancam Hujan yang langsung membuat Air terkekeh.
__ADS_1
"Iya sayang"
Hujan masuk kedalam dengan hati berdebar namun siapa sangka ia justru di senggol oleh seseorang
"Maaf.. aku gak sengaja" ucap orang itu pada Hujan yang langsung mundur beberapa langkah.
"Maaf.. sungguh aku minta maaf" tambahnya lagi yang aneh melihat reaksi Hujan.
"Pergi.. pergi sana" usir Hujan yang merasa sangat ketakutan.
"Ya, ampun. Aku minta maaf" ia mengulurkan tangannya pada Hujan sambil tersenyum simpul.
"Aku gak jahat, cuma mau minta maaf"
Hujan yang ketakutan bisa sedikit tenang saat melihat teduhnya sorot mata orang itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alena...
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Mohon maaf buat kemarin yang up double
itu bukan sengaja atau ngeprank..
Karna hujan dan gak ada sinyal berkali-kali mau up susah banget.. akhirnya malah ke up semua.
Tolong lain kali harap bijak berkomentar ya..
jangan asal tuduh sampe bilang.
OTHORNYA GADA IDE LAGI
OTHORNYA KEHABISAN KATA-KATA.
__ADS_1
makasih banyak yang justru gak mempermasalahkannya karna mungkin tau namanya manusia pasti ada khilaf nya.
Kalo mau protes sama sinyal... Ok..