
π»π»π»π»π»π»π»
Hujan yang sedang membaringkan dirinya di tengah kasur langsung menoleh saat Air membuka pintu, tubuh tinggi itu berjalan semakin mendekat.
"Rapat orang ganteng lagi?" tanya hujan saat suaminya duduk di tepi ranjang meletakkan ponsel juga kunci mobil.
" Iya dong" jawab si bayi buaya cengeng
"Mama sama adek kemana?, kok gak ada?" tanya Hujan yang merasa rumah begitu sepi tanpa mertua dan adik iparnya itu.
"Lagi belanja, kan menantunya dateng" goda Air yang ikut berbaring bersama sang istri.
"Nanti nginep dirumah bunda, boleh?" pinta Hujan pelan.
"Lo kuliah pagi ya?" Air balik bertanya, esok keduanya akan kembali pada aktivitas dan rutinitas masing masing menjadi seorang mahasiswa setelah pengajuan cuti mereka berakhir.
"Ya udah, abis anter lo ke kampus gue pulang ya" kata Air.
"Lo masuk siang?"
" Iya, tapi gue mau ke bengkel dulu"
Hujan hanya mengangguk paham, kemudian bangun dari tidurnya saat tangan suaminya sudah berkeliaran tak jelas dia tubuhnya yang masih terbalut dress dan
cardigan sebagai luaran.
"Lo mau kemana?"
"Keluar ah, lagi males nampung" ejek Hujan sambil sedikit berlari kearah pintu.
Air tersenyum kecil, tingkah sang istri yang selalu menantangnya membuat ia selalu ingin terus menggoda di setiap kesempatan saat sedang berdua.
__ADS_1
"Untung belom ON banget" Gumam pemuda itu sambil terkekeh. Ia sampai bingung dengan miliknya yang beberapa hari ini sangat sensitif.
********
Hujan yang menuruni tangga sempat berhenti sejenak saat berpapasan dengan Bumi, adik kembar suaminya, wajah mereka memang begitu mirip tapi memiliki sikap dan tingkah yang jauh berbeda, jadi tak salah jika Hujan bisa dengan cepat membedakan keduanya.
"Moga betah ya" ucap Bumi.
"Ya, gue betah kok" jawab gadis itu yang langsung meneruskan lagi langkahnya.
Sampai di lantai bawah, ia langsung menuju dapur. Niat hati ingin mengambil minuman ternyata sudah ada mama mertuanya disana, dan Cahaya juga Langit di ruang tengah.
"Mah.." sapa Hujan, wanita cantik itu langsung menoleh dan mengulurkan tangannya, ia memeluk sang menantu dengan begitu hangat.
"Udah dari tadi ya?" tanya Melisa
" Enggak kok mah" jawab Hujan setelah mengurai pelukan .
Meski awalnya ia sempat menentang pernikahan Air dan Hujan tapi akhirnya saat sudah mengenal sosok Hujan ia malah yang justru lebih antusias.
"Kakak baru dateng apa udah dari tadi?"
"Udah dari tadi, dek" Sahut Hujan, ia harus tetap memanggil anak bungsu itu dengan sebutan adek mski umur Hujan lebih muda.
"Hujan mau bantuin mama masak, boleh?" pintanya pada Melisa yang kembali memberesekan barang belanjaannya tadi.
" boleh, kamu bisa masak apa?"
Hujan tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya malu.
" Gak bisa, mah. aku sama bunda sering beli masakan mateng. kita cuma berdua dan jarang dirumah" jelas Hujan sambil menunduk.
__ADS_1
" Gak apa-apa, tapi disini biasa makan dirumah dan makan bersama" ucap Melisa memberitahukan kebiasaan keluarganya.
"Iya, mah. aku tahu itu"
Cahaya yang kembali ke ruang tengah bersama Langit memang tak pernah di izinkan untuk memegang peralatan dapur oleh calon suaminya itu, Cahaya yang hidup bagai seorang ratu hanya tau rasa kenyang tanpa tahu cara dan bahan apapun yang dimakan olehnya.
"Mama harap kamu bisa menerima kami semua, kamu yang mungkin terbiasa hanya tinggal berdua kini harus ada di kelurga yang ramai dan selalu bersama setiap hari. dengan karakter dan sifat kami yang berbeda. jangan pernah malu untuk bertanya apapun itu karna kamu sekarang bukan hanya tanggung jawab Air, tapi tangung jawab mama dan papa"
"Iya, mah. Hujan senang bisa ada di dalam keluarga ini, kalian bisa menerimaku dengan tangan terbuka tak perduli seperti apa latar belakangku."
.
.
.
.
.
.
.
Apapun masa lalumu, yang penting adalah masa depanmu bersama putra Mama...
πππππππππππ
mertua hasil nemu di lampu merah hasilnya gini nih π€ͺπ€ͺ
like komennya yuk ramaikan β₯οΈ
__ADS_1