Air Hujan

Air Hujan
Bab 194


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan tersenyum meski dalam hatinya ia menggerutu kesal bercampur aneh, Ia juga hanya ikut saja saat Sang suami menggandengnya ke salah satu kedai makanan lokal, menu berat yang mengenyangkan lagi lagi di pilih pria itu untuk memanjakan perutnya.


"Gak pake nasi?" tanya Hujan saat pelayan hanya membawa dia porsi sate bandeng berukuran besar.


"Enggak" jawabnya sambil mencicipi lebih dulu.


"Kenapa?, nanti gak kenyang" ejek Hujan dengan tawa kecil.


"Sebelum pulang tadi udah makan dia bungkus nasi padang, jadi masih kenyang.


Glek...


Hujan menahan nafas lalu menelan salivanya kuat kuat, satu bungkus saja ia tak pernah habis saking banyaknya lalu bagaimana jika dua bungkus, bathin istri direktur itu.


" kakak laper, sampe harus makan dua bungkus?"


"Enggak" jawab Air dengan santainya sembari menikmati makanan yang kini berada tepat di depannya.


"Lalu?" tanya Hujan dengan menautkan kedua alisnya.


"Kakak bingung, mau makan sama rawon ternyata gak ada, makin bingung lagi saat di kasih pilihan antara ayam bakar sama rendang dari pada pusing ya udah di beli semuanya" ucap Air menceritakan kejadian usai rapat saat perutnya mendadak keroncongan.


"Terus abis tuh?"


"Abis dong, kan kata mama gak boleh buang makanan" cetusnya sambil terkekeh


"Itu perut apa karung sih sekarang?"


Hujan yang hanya menikmati jus buah bahkan tak sampai habis satu gelas pun menggeleng kan kepalanya saat melihat es campur datang dengan porsi besar padahal sang suami baru saja menghabiskan satu botol air mineral.


"Muntah awas ya" ancam Hujan sambil memicingkan matanya sedangkan Air hanya tersenyum simpul, ia tak mempan dengan segala ejekan dan ancaman yang di layangkan istri atau keluarganya yang penting perutnya kenyang hatinya pun senang.

__ADS_1


Drrrttt.... drrrtttt...


Ponsel yang bergetar di atas meja mengalihkan fokus kedua mata Air dan Hujan.


"Hallo, Mah" sapa Air saat ia menganggkat telepon dari bidadari hatinya itu.


"Sayang, kamu dimana?" tanya Melisa pelan.


"Hah?" Suasana yang cukup ramai membuat ia sulit mendengar


"Kakak dimana?, Papa baru aja tidur. Mama gak bisa terlalu keras bicaranya" ujar Melisa lagi, ia mengelus lembut kepala suaminya yang terlelap dalam pelukannya.


"Oh, kakak di taman jajan, lagi makan sama Hujan" jawab Air.


"Bohong, Mah. Aku gak makan. Cuma kakak yang makan" protes gadis cantik itu sambil berteriak, ia yang menjadi pusat perhatian tentu membuat Air tertawa.


"Kalian ini, ribut terus!" decak Melisa saat mendengar gelak tawa dan jeritan yang seakan saling bersahutan antara anak dan menantunya.


"Maaf, Mah. Ada apa?" tanya Air lagi yang kini dengan suara lembut.


"Malem begini mana ada, Mah harusnya tengah hari" ujar Air.


"Kan pengennya sekarang, ini baru tidur loh, kak. Kasian hari ini cuma minum air lemon aja" adu Melisa yang akhirnya membuat Air merasa kasihan pada sosok pria kesayangannya itu.


"Iya deh, nanti kakak cari ya"


"Terimakasih ya sayang." ujar sang mama sebelum menutup teleponnya.


Air tersenyum ke arah sang istri seperti bertanya kenapa dan ada apa padanya lewat sorot matanya, ia meraih tangan Hujan untuk di genggam dengan sangat lembut.


"Papa pengen rujak serut, kita cari dulu ya abis dari sini"


"Iya" Jawab Hujan mengangguk paham, keduanya tak bisa mengelak apapun yang di inginkan Reza.

__ADS_1


"Tapi aku ke toilet sebentar ya, kamu tunggu disini"


Air bangun dari duduknya, berjalan santai menuju ujung kedai yang terdapat toilet umum khusus para pengunjung.


Ia masuk kedalam salah satu bilik untuk membuang air kecil namun rasa panik langsung menghinggapinya, ia yang panik hanya bisa menggerutu kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mampus.. gak bisa di kancingin lagi!!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gue bilang apa kak..


Lo jangan gendut gendut.. jebol kan tuh celana 🀣


Masa direktur ganteng make kokolor πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Diet ya sayang, tar gue minta cium ke bapak lo 🀭🀭

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2