
πππππππ
Main main Air Hujan, kita basah basahan!
Gadis itu diam sejenak lalu menoleh kearah jendela besar tepat disisi ia berdiri saat ini.
"Cerah! gak Hujan" gumamnya bingung.
"Gak usah banyak mikir!" timpal Air yang langsung menarik tangan sang istri.
Keduanya turun ke lantai bawah, sebelum pergi Air berpamitan pada pria tadi dan beberapa orang lainnya yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Kakak pulang ya" ucapnya sedikit berteriak.
"Sip, kak Bos"
"Tiati, kak"
"Awas nabrak, hahaha"
Air yang tadinya tersenyum dan mengangguk Langsung mendengus kesal, tapi perubahan sikapnya itu justru mengundang gelak tawa yang lainnnya.
Manisnya...
Hujan menarik tangan Air saat sampai di depan mobilnya membuat langkah pemuda tinggi itu berhenti lalu menoleh.
"Apa?" tanya Air.
"Laper! makan yuk" ajak gadis itu dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Jangan senyum senyum" ketus Air yang membuat Hujan bingung dan aneh.
"Kenapa?, senyum kan ibadah" ucap Hujan.
"Lo yang senyum, gue yang luber" timpalnya yang dengan cepat langsung mencium pipi kiri sang istri.
"Gue mau ibadah yang lain aja, boleh?" bisiknya, Hujan yang sedikit peka langsung mendorong tubuh Air hingga pemuda itu mundur dua langkah sambil tertawa.
.
.
.
Niat hati ingin mengulang rasa yang sama harus Air urungkan Karna Hujan mengeluh lapar meski itu hanya sebuah alasan.
__ADS_1
Gadis itu tak ingin bolos di kelas keduanya, karna ia tak percaya saat Air merayunya akan melakukan hal yang menyenangkan itu dengan cepat.
"Mau makan apa?" tanya Hujan pada suaminya yang masih memeluknya dari samping, sikap manjanya sudah kembali jika sedang berdua, Air yang sedari tadi sudah meletakan dagunya di atas bahu sang istri hanya menggeleng.
"Gak mau makan?" tanya Hujan lagi.
"Mau itu..." gumamnya pelan
"Apa?" Hujan berpura-pura tak tahu.
"Abis dari sini ya?" pintanya setelah menarik kepalanya dari ceruk leher Hujan.
"Gue masih ada kelas, Ay" ujar Hujan dengan alasan yang sama sambil sibuk memilih menu makan siang mereka.
Setelah memesan makanan pada pelayan, obrolan pun kembali berlanjut.
"Besok lagi kuliahnya"
"Ay! gue paling gak suka jam belajar gue di ganggu, Paham!" ucap Hujan tegas tak ingin di bantah.
Ambisinya untuk sukses karna ia sadar betapa lelahnya ia berjuang sampai ke detik ini membuat ia selalu fokus dalam belajar.
Air hanya mendengus kesal, rasa lapar tak ia rasakan sama sekali padahal perutnya belum terisi apapun sedari bangun tidur.
"Buka mulut Lo" titah Hujan pada suaminya yang menekuk wajah tampannya.
"Tadi pagi gak sarapan, kan?" tanya Gadis itu yang di balas anggukan kepala.
"Ayo makan dulu" ucap Hujan dengan tangan memegang sendok di hadapan mulut Air.
Pemuda itu menurut, ia menikmati makanan yang di sodorkan gadis halalnya itu, Hujan menyuapinya dengan rasa sabar luar biasa, ia sedikit paham jika Air adalah tipe orang yang tak akan mengerti jika di perlakukan dengan keras, menghadapinya tak bisa dengan emosi justru sebaliknya semakin lembut kita menyentuh hati pria itu tentu semakin mudah hatinya luluh, jadi tak salah jika ia tumbuh menjadi anak yang begitu manja karna kedua orangtuanya tak pernah menarik urat saat berbicara dengan si sulung, terutama papanya. Pria dewasa itu akan merangkul anak kesayangannya sambil mengobrol, memberikan perumpamaan yang lucu tapi mudah untuk di pahami karna ada candaan di sela obrolan mereka.
Usai makan siang keduanya kembali ke kampus, tinggal dua puluh menit waktu yang dimiliki Hujan sebelum kelas keduanya di mulai.
.
.
"Nanti gue jemput ya" ucap Air setelah mobil berhenti.
"Iya,"
"Gue mau ke kantor papa, ada mama disana" izin Air pada sang istri, ia tak pernah menunggu Hujan bertanya karna ia akan memberitahunya lebih dulu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Kangen lah gue sama mama!" jawab Air.
Hujan hanya tersenyum simpul, Ia tahu jika suaminya itu tak pernah jauh dari orangtuanya.
"Ya udah, tiati di jalan ya" pesan Hujan sambil membuka setbelt.
"Tunggu, Jan!"
" Apalagi sih, Ay?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sini bibirnya gue cium dulu...
ππππππππππππ
Yakin itu doang π
Tangannya aman kan?
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ