
ππππππππ
Air yang sedang bermanja dalam pelukan papanya hanya bisa membuang napas kasar, Lusa Samudera akan mulai bersekolah tapi di hari pertamanya itu Hujan tak bisa mengantar karna bentrok dengan jadwal kuliah paginya.
"Jangan samakan Hujan dengan mamamu, kak" ucap Reza yang paham betul dengan kedilemaan anak sulungnya.
"Aku tahu, pah"
"Kamu dan Hujan sejak awal bertemu sampai menikah jelas ketika kalian kuliah dan sama-sama sedang menimba ilmu untuk masa depan, apalagi Hujan sedari dulu punya Segudang impian yang sejak kecil ingin menjadi dokter, tentu berbeda dengan papa dan mama yang bertemu langsung di depan penghulu." Jelasnya lagi yang memberi pengertian.
"Mamamu terbiasa mengurus apapun sendiri, ia wanita yang sangat mandiri dalam urusan dapur dan keluarga, itu terlihat saat ia mengabdikan dirinya di panti asuhan. Mamamu tak punya Cita-cita setinggi langit ia hanya punya satu impian yaitu memiliki keluarga yang hangat yang bisa ia urus dengan kedua tangannya sendiri "
"Mama yang terbaik, Pah" timpal Air yang memang selalu bangga pada wanita kesayangan papanya itu.
"Tentu, misi dan tujuan kami sama. Papa yang ingin memiliki istri yang cukup dirumah tentu sangat bahagia saat mendapatkan mamamu yang begitu polos tak tahu dunia luar sama sekali keculi anak anak dan para perkakas dapurnya" balas Reza sambil tertawa yang memang tahu jika hobby memasak sang Khumairah sudah sedari sebelum mereka menikah tentunya.
"Kamu tak bisa memaksanya menjadi seperti yang kamu mau, jangan egois dalam suatu hubungan karna kalian membangunnya berdua dan saling berpegang tangan. Biarkan ia kejar mimpinya jangan jadi penghalang untuk ia sukses menjadi dirinya sendiri. Asal Hujan tak bermain api Papa rasa tak ada yang harus kamu khawatirkan."
"Sam, hanya dia yang membuat hatiku terasa terganjal"
"Tutut Jajah anak yang cerdas, dia ingin cepat sekolah karna melihat miMoynya sibuk belajar, bukankah itu suatu panutan yang baik untuk putra kalian jika belajar tak mengenal waktu dan umur juga status" jelas Reza lagi.
"Aku paham, Pah.Tapi selesai kuliahnya masih lama karna Hujan benar-benar ingin menjadi Dokter Bedah"
"Turuti saja dulu, biarkan ia bangga pada dirinya sendiri yang bisa meraih apa yang menjadi tujuannya. Jangan terlalu banyak menuntut karna jika tak ada lagi rasa nyaman dalam suatu hubungan perpisahan adalah jalan yang bisa menghancurkan segalanya" tegas Reza.
__ADS_1
******
Air yang baru saja menyelesaikan aksi luar biasanya saat menjelang pagi harus di kagetkan dengan kedatangan Samudera yang menggedor pintu kamar dengan sangat keras..
TOK.. TOK.. TOK...
"Buta pintu na, ih.."
"Moy.. buta! dede mahu acuk nih"
"Lagi apa oooey? dede butain pintu duyu"
Teriakan Samudera tentu membuat Hujan langsung berlari ke kamar mandi, sedangkan Air hanya terbaring lemas di atas kasur dengan kedua mata terpejam lelah.
Ceklek..
Hujan yang membuka pintu kamar langsung mundur saat Sam berlari masuk ke arah ranjang tanpa menyapa miMoynya lebih dulu.
"Pay, dede mahu ntut Amma ya, boyeh kan?" ucapnya saat sudah berada disisi Air
"Pay, banun"
Tak ada sahutan dari papAynya sama sekali membuat Sam menarik selimut yang menutupi tubuh polos Air.
"Wah besal.... "
__ADS_1
.
.
.
.
.
Moy.. bis iyup etol ba'aya papAy ya?
πππππππππ
Ambyar...
Ges teu beres lah iye si tutut.
Sentil de' di jamin balik lagi ciut mengkeret.
#Eh...
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1