Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 133


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Duh.. Dede apek banet nih puwang tekoyah, pucing benel oey" jawaban Samudera tentu membuat Reza dan Melisa yang baru datang ikut tercengang.


"Abis ngapain capek?" tanya pasangan baya itu berbarengan.


Belum sempat Samudera menjawab ternyata Hujan datang dan langsung menyodorkan botol susu besar pada putranya yang lemas itu, Sam langsung meraihnya sambil bangun dan pindah ke pangkuan Reza.


"Dede mahu bobo" pintanya manja pada sang gajah.


Reza yang sangat kasihan akhirnya membawa cucunya itu ke dalam kamarnya, akan ia peluk Tututnya sampai jauh terbang ke alam mimpi.


Kini tinggal Melisa, Hujan dan Air di ruang tengah sepeninggal Tutut Gajah.


"Emang tadi ngapain aja sih? sekolah begitu sampe bikin dede lemes, kan kasihan!" oceh Melisa, jiwa Keibuannya mulai kembali meronta seperti saat si kembar balita dulu.


"Kakak juga gak tahu, kan tadi nunggunya gak depan kelas" jawab Air saat kedua wanita istimewanya itu menatap penuh selidik ke arahnya.


"Kalo berantem atau apapun itu pasti Miss nya ngomong tadi, iya kan?" timpal Hujan yang di rasa tak ada yang harus di curigai.


"Mungkin kaget karna baru pertama kali, besok besok udah biasa pasti semangat" balas Air, ia yang mau pergi ke kantor akhirnya berlalu ke kamarnya untuk berganti pakaian yang di susul Hujan juga.


.


.


Pasangan suami istri itu kini sedang saling memeluk setelah Hujan memakaikan dasi di leher suaminya yang sudah memakai stelan jas berwarna hitam.


"Besok aku yang anter Dede, aku penasaran banget"


"Luangkan lebih banyak waktumu untuknya jika jadwal kuliahmu kosong. Jangan pernah mengabaikannya, Paham?!"

__ADS_1


"Iya, kak. Ini aku aja sampe bolos loh. Tapi besok aku bisa kok" jawab Hujan yang malah mengeratkan pelukannya pada pria yang lebih tinggi darinya itu.


Permintaan sederhana tapi kadang sulit Hujan wujudkan, dimana kadang untuk dirinya sendiri pun ia tak punya banyak waktu tapi ia harus memprioritaskan Suami dan anaknya lebih dulu. Itulah resiko yang harus Hujan jalani saat merengek pada Air ingin melanjutkan kuliahnya lagi setahun silam.


"Aku berangkat ke kantor dulu, kalau pekerjaanku banyak mungkin akan pulang malam" pamit Air seraya mengurai pelukannya lalu menangkup wajah Hujan untuk di ciumi seluruhnya.


"Love you Jan Hujan Deres yang takut petir" goda Air sambil terkekeh.


"Love you to Aer Galon si bayi buaya cengengku" Balas Hujan yang begitu gemas dengan tingkah suaminya itu.


****


Samudera tidur setelah berganti baju dan menghabiskan susunya juga. Ia mendengkur pelan dalam pelukan Appanya yang terus mengusap punggung dan kepala Sam penuh kasih sayang.


"Capek banget ya kayanya, kasihan loh Mas" tutur Melisa yang masih tak tega.


"Kita coba satu Minggu, kalau masih begini aja aku akan minta kakak untuk tidak melanjutkannya lagi, Sam bisa sekolah nanti di umur Empat atau lima tahun saja" Tukas Reza yang merasakan hal yang sama dengan Khumairahnya.


"Tutut Appa udah bangun, lama banget bobonya" Ujar Reza seraya mencium kening sang cucu.


"Dede antuk benel, apek ih" jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Emang dede sekolahnya ngapain? kok dari tadi bilangnya ngatuk sama capek terus" tanya Reza penuh selidik.


"Nani ama walna walna" jawab Sam polos menceritakan kegiatan dikelasnya yang hanya bernyanyi dan mewarnai.


"Masa begitu aja capek? kan udah biasa main sama Appa" kata Melisa masih tak percaya.


"Kaki Dede injek emeun pelempuan tadi, atit benel Oey" Sam mulai bercerita, Appa dan Ammanya tentu sudah bersiap menjadi pendengar yang baik.


"Loh, kok bisa? tapi temen perempuannya sudah minta maaf belum?" tanya Reza.

__ADS_1


"Iyaah, Dede mapin tapi dede tejal dia ampe jauh jauh" balasnya lagi.


"Kenapa? kan udah minta maaf atas kesalahannya karna injek kaki dede" kata Melisa bingung.


"Iya, kenapa harus di kejar?" timpal Reza lagi.


.


.


.


.


.


.


.


Dede mahu tium tium Oey!!!



Modus!!!


Dasar Tutut jajah..


Mak othor mau atuh tium Appa juga ya 😘😘😘


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2