Air Hujan

Air Hujan
bab 111


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tapi kuping kakak panas!!!


Hujan dan Melisa langsung saling pandang keduanya belum mengerti dengan apa yang dikatakan Air saat ia baru saja membuka matanya.


"Kok bisa?" tanya Melisa.


"Gak tau, panas terus bunyi" jawab si sulung.


"Sini aku tiup" tawar Hujan yang mulai mendekat.


Air reflek menahan tubuh sang istri sampai ia akhirnya meringis kesakitan.


"Kenapa?" tanya Hujan.


"Kamu kan tau, kuping kakak gak bisa di deketin!"


Hujan tersenyum simpul, ia memang tahu kelemahan suaminya itu ada di telinga . Pernah Air sampai menangis pasrah saat Hujan tanpa sadar memainkannya saat mereka sedang melakukan hal yang menyenangkan.


"Tiup doang, gak ngapa ngapain, kak!" jelas Hujan lagi dengan wajah begitu merah menahan malunya sendiri.


"Gak! "


Melisa tersenyum kecil, ia begitu lega melihat anak kesayangannya itu kini sudah kembali sadar karna menurutnya hal yang paling menakutkan itu adalah sebuah kecelakaan. Cukup baginya pernah berpisah dengan sang suami dua puluh tahun silam karna musibah itu.


Antara cacat dan hilang ingatan dua hal itu menjadi momok menyeramkan bagi semua orang.


"Mah, mama nangis ya? " tanya si sulung saat melihat Melisa menghapus air matanya.


"Mama nangis karna seneng kamu udah sadar ,tadi mama takut. kakak janji gak boleh gitu lagi ya" pinta Melisa mencium kening sang putra.

__ADS_1


"Aw.. sakit, Mah" seru si sulung meringis.


"Ups, Maaf! " kekeh wanita cantik itu yang membuat Air merengut.


"Mama keluar sebentar yaya, mau cari Papa, Bumi sama Abang. kok beli minum lama banget! " pamitnya pada sang putra yang hanya di balas anggukkan, Melisa sengaja membuat alasan agar pasangan suami istri itu bisa berbicara berdua untuk mengungkapkan isi hati mereka terlebih Hujan yang terlihat sangat shock karna tak hentinya menangis sedari tadi.


"Udah, ah! jelek banget sih" ucap Air sambil menghapus kebasahan di wajah cantik sang istri, ia melakukannya meski harus menahan sakit luar biasa di bagian bahu.


"Aku takut" lirih Hujan. Tangan gadis itu masih bergetar hebat menandakan bagaimana ia sangat ketakutan dan kebingungan saat ini.


"Masa calon dokter begini aja panik" godanya lagi. Air sangat menikmati raut wajahnya sang istri meski sangat berantakan.


"Ini tuh suami aku yang kecelakaan! gak ada hubungannya sama calon dokter" elak Hujan yang kembali menangis.


"Ya ampun! apa tadi?, suami? " kekeh Air dengan senyum manis di ujung bibirnya.


"Kok seneng ya di bilang suami! jadi pengen di cium kan"


Hujan tertawa kecil, dalam rasa sakitnya saja Air tak hentinya menggoda dan malah ia yang merasa sedang di peluk dunianya kembali setelah tadi merasakan hancur bagai di tertimpah.


"Mana aja, yang penting banyak banget biar cepet sembuh terus pulang" jawab pemuda itu, raut wajahnya sedikit sedih ia sedang membayangkan betapa tak enaknya tinggal di rumah sakit terlebih ada sang istri yang menemani, Air tak ingin Hujan merasa tak nyaman.


Hujan bangun dari kursi yang ada di sisi brankar lalu ia duduk atas ranjang tepat di sebelah sang suami yang kini terbaring lemah merasakan nyeri di seluruh tubuhnya.


Gadis cantik itu megusap lembut pipi Air yang terlihat sedikit membiru karna memar.


"Sakit ya? " Tanya Hujan dengan perasaan berdesir hebat dalam hatinya.


"Kalo di liatin aja sakit, kalo di cium enggak"


"Lagi begini aja nih otak masih mesum ya! " keluh Hujan tak habis pikir.

__ADS_1


"Itu obat alami Jan Hujan dereeeeeeeeees! "


Hujan tertawa kecil, ia usap pelan wajah tampan sang suami lalu mendekatkan bibirnya ke arah dekat luka di kening Air yang terbalut perban.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalian mau apa???


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Tukang minta sumbangan ganggu aja ya 😏😏😏


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2