Air Hujan

Air Hujan
Bab 116


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Air merengut di sofa panjang dengan mata tak lepas dari sang istri yang sedang membereskan baju bajunya, rencananya sore ini pasangan suami istri aku akan pulang kerumah bunda dan menginap dua malam disana.


Sudah hampir satu bulan Hujan sama sekali tak menginjakkan kakinya dirumah wanita yang sudah mengurusnya selama hampir dua puluh tahun itu.


Ada saja halangan yang akhirnya membuat ia dan sang suami tak jadi kesana ditambah kecelakaan yang menimpa Air menjadi salah satu alasan Hujan sampai saat ini belum bisa menemani Bundanya.


"Gak usah cemberut gitu" goda Hujan sembari menangkup wajah tampan suaminya.


"Aku tuh gak betah disana" keluh Air seperti biasa.


"Ya udah, Aku aja deh kalo gitu. Gak apa-apa ya" pinta Hujan yang memang tahu Air tak pernah nyaman disana.


"Gak, tar kakak tidur peluk siapa?"


"Pisang!!" jawab Hujan cepat.


Hujan semakin terkekeh melihat raut kesal Air yang nampak sangat menggemaskan. Perdebatan panjang dan negoisasi rayu merayu dengan berbagai alasan yang sedikit tak masuk akal akhirnya bisa di selesaikan keduanya di jam lima sore.


"Yuk.. " Hujan menarik tangan Air yang masih ia lipat di dada.


"Udah janji loh. Gak boleh gitu" tegas gadis itu lagi berusaha tak terpancing emosinya karna si tampan masih enggan bangun dari duduknya.


"Iya.. iya! tapi kamu juga janji ya kalo nanti malem kakak mau Terima beres! " si tampan akhirnya bangun meski pasrah sambil mengingatkan perjanjian mereka tadi.


"Iya bawel! " sahut Hujan dengan tangan masih mencoba menarik tangan suaminya.


"Berkerja keraslah nanti malem sampe kasur basah" Godanya sambil berbisik di telinga kanan sang istri.


.


.


.


.


Pasangan suami istri itu kini berjalan beriringan keluar dari kamar menuju lantai bawah apartemen kedua orangtuanya.


Tangan kanan Air menjinjing tas berisi baju dan perlengkapan Kuliah mereka esok sedang kan tangan kirinya mendekap pisang kesayangannya yang pasti dan wajib ikut kemana pun.

__ADS_1


"Duh yang mau mudik ribet amat sih? " goda Reza yang duduk di meja makan, pria tampan itu baru saja pulang dari kantornya.


"Iya dong, emangnya papa gak pernah mudik, kesian deh! " balas Air, Anak sulung itu masih saja senang mengejek papanya yang tak memiliki mertua seumur pernikahannya dengan sang istri.


"Awas ya! kalo papa tiba-tiba punya mertua" jawab Reza tak mau kalah.


"Dih, mana bisa? gimana caranya?" tanya Air, kini dua pria tampan itu saling berbisik.


"Kawin lagi, hahaha" tawa dan jawaban Reza langsung membuat Air memukulinya dengan sangat ganas.


"Bercanda, Kak"


Usai menganiaya papanya, ia dan Hujan langsung berpamitan kepada Reza dan Melisa bahkan keduanya sampai mengantar ke dapan pintu.


"Hati-hati dijalan, kabari jika sudah disana dan sampaika salam dari mama untuk bunda" pesan Melisa pada anak dan menantunya itu.


"Dari papa,, engga? " tanya Air polos.


"Ini salam dari para ibu ibu, Kak" jelas Melisa.


Air dah Hujan hanya mengangguk paham tapi tidak dengan Reza yang peka serta tahu ada maksud lain dari ucapan sanhg istri barusan.


Selama perjalanan menuju rumah Bunda hanya obrolan kecil yang mengirngi untuk teman bosan.


Air berkali-kali harus menepikan mobilnya karena begitu banyaknya yang ingin di beli Hujan sebagai buah tangan.


"Yuk" Ujar gadis cantik itu saat masuk kedalam mobil dengan satu bungkusan kecil di tanganya


"Mau beli apa lagi? "


"Hem, ini udah cukup, kak" jawab Hujan yakin.


Air kembali menyalakan mesin mobilnya, kini ia lebih fokus pada jalan yang memebentang di hadapnnya.


Lebih dari sepuluh menit. Akhirnyaa keduanya sampai di rumah bunda, Air langsung memasukkan mobil sang istri kedalam garasi.


Sedangakan Hujan sibuk mengambil barang-barang dibagasi.


Tas yang di bawa dari apartemen, bantal pisang, dan beberapa paperbag lainnya siap untuk di bawa masuom kedalam.


"Perlu bantuan? " Suara yang Hujan sangat kenal tiba-tiba membuat Ia dan Air langsung menoleh.

__ADS_1


"Fajar! " balas Hujan sedikit terkejut saat melihat pemuda itu. ada ada dirumah bunda.


"Oh, gak apa-apa. Kita bisa bawa semua sendiri. Gak ada yang berat kok" jawab Hujan sekaligus menolak penawaran Fajar.


"Gak apa-apa, sini aku bantu" balas Fajar lagi.


Air yang kesal langsung mendorong tubuh pemuda itu sampai ia harus mundur tiga langkah.


"Kak.. " pekik Hujan mulai panik.


"Apa?" tanya Fajar santai.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gak usah sok spesial..


Lo kira ini drama makan indomie?


🦞🦞🦞🦞🦞🦞🦞🦞🦞🦞


Pake karet gak, kak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Wih kalian knp galak galak banget sih, 😘😘


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2