
ππππππππ
"Dede tanya sama MiMoy ya, kenapa tinggalin PapAy sendiri. Kalau marah harusnya bilang karna PapAy gak punya BASKOM AJAIB!" ucap Air yang merasa kesal sendiri, ia yang tak tahu apa-apa tiba-tiba di tinggalkan tanpa kabar.
Lamunannya buyar saat mendengar ketukan pintu, ia hanya menoleh sekilas sambiil menghapus cairan bening di ujung matanya.
"Masuk" titahnya yang ia yakini itu adalah Daniel.
"Permisi, Tuan"
Air hanya mengangguk sekali saat sekertarisnya itu meletakan makan siangnya yang ia pesan di salah satu resto milik tuan mudanya yang terletak tak jauh dari kantor.
"Terima kasih, oh ya, apa hari masih ada pekerjaan lain?" tanya Air pada Daniiel sebelum pria itu kembali pergi untuk menikmati makan siangnya juga.
"Ada beberapa, tapi bisa di kerjakan besok atau lusa, Tuan" jawab Daniel yang berdiri tepat dihadapan Air yang hanya terhalang oleh meja kerja kacanya.
"Baiiklah, kita kerjakan hari ini sampai selesai, katakan pada yang lain jika sore ini kita akan lembur" titah Air yang langsung membuat Daniel melongo tak percaya.
HAH...
**********
Hujan yang sudah berada dirumah Bunda hanya berbincang di ruang tamu sambil menjaga Samudera yang masih kebingungan, bahkan bocah tampan itu belum berani merangkak jauh dari Hujan maupun Bunda, Samudera memang dekat juga dengan wanita yang membesarkan ibu nya itu meski jarang sekali bertemu.
__ADS_1
"PapAy na?" tanya si Baby bear yang hari ini belum bertemu dengan buaya kesayangannya.
"PapAy, kerja ya, nanti malem baru kita telepon, ok" sahut Hujan sambil menyodorkan botol susu.
"Memang suamimu tak pulang kemari?' tanya Bunda, ia sedikit curiga dengan Hujan yang seakan menyembunyikan sesuatu darinya, karna sedari datang Hujan selalu menghindar saat ia menanyakan tentang Air.
"Kakak sibuk, akhir akhir ini sering pulang terlambat" jawab Hujan yang tak berani menatap Bunda.
"Sampai larut malam?" tanya wanita berkaca mata itu lagi.
"Enggak, paling sehabis makan malam atau saat makan malam, tak pernah lebih dari jam delapan malam kok, bun"
Bunda hanya mengangguk paham, masalah keluarga tentu masalah yang sangat pribadi dan sensitif, ia tak akan bertanya lebih jauh jika bukan putrinya sendiri yang menceritakannya.
"Aku titip Sam, aku mau kekamar dulu sebentar" pinta Hujan, karna bayi montok itu sedang asik menyusu di ruang tamu.
"Hanya segini rasa khawatirmu, kak?' rutuknya kesal karna di jam makan siang seperti ini sang suami tak mencoba menghubunginya lagi.
Hujan yang kesal akhirnya mematikan ponselnya, ia masukkan lagi benda pipih itu kedalam tas sebelum keluar dari dalam kamar menuju dapur, ia berniat akan membuat makan siang untuk Samudera dan juga Bunda.
Apapun ia lakukan untuk menyibukkan dirinya sendiri, mulai terus menjaga putranya yang hari ini begitu menempel padanya karna ini di tempat yang jarang ia kunjungi, hingga berbincang dengan tetangga yang kebetulan ia temui di depan pagar rumah bunda.
__ADS_1
"Jan, sudah sore, mandikan Samudera dulu" teriak Bunda dari ambang pintu.
"Iya, Bun." sahut Hujan yang langsung menggendong anaknya kembali masuk kedalam rumah.
Hujan menghela nafas berat saat ia melihat jam di dinding baru menujukan pukul empat sore.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa hari ini begitu lama sekali"
ππππππππ
Kan kalo lagi berantem dunia berasa bukan milik berdua Jan Hujan dereeeeeeees!!!!!π€£π€£π€£π€£π€£
__ADS_1
Di tunggu sebelum jam 12 malem ya sajennya, bilang sama laki lo!!!!πππππ
like komennya yu ramaikan.ππππ