Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 72


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


cek lek


Reza membuka pintu kamar anaknya dengan pelan, ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan untuk mencari buntut gajah kesayangannya.


"Mana?' tanya Reza dengan suara pelan.


"Ngumpet" jawab si sulung sambil menunjuk kearah dus berwarna hijau dekat tumpukan mainan putranya yang berserakan.


"Tutut jajah Appa, na yah?' ucap Reza pura pura mencari dengan memakai bahasa Samudera yang menggemaskan.


Upet.


Jawaban yang keluar dari mulut mungil Sam tentu membuat Reza dan Air harus kuat menahan tawa seraya menutup mulut mereka dengan telapak tangan.


"Upet na, sih? nda liatan nih" ujar Reza lagi.


Satu detik dua detik hingga lima detik tak ada jawaban dari Samudera, Air dan Reza pun diam tak lagi bersuara membuat si bayi montok itu akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya di dalam kardus.


DOOOOOORRR..


Dadet agih dede.


Reza langsung menggendong buntut gajahnya itu lalu menciuminya dengan sangat gemas, ia rindu Samudera yang di tinggalkan dari kemari pagi, karna saat ia dan istrinya pamit cucu kesayanangannya itu sedang terlelap terbuai mimipi.


"Dede upet ya, emang gak kangen sama Appa"


Nda.


"Marah sama Appa?" tanya Reza lagi merasa sangat bersalah pada Samudera yang sudah menangus karnanya semalam.


Nda.


"Maafin Appa ya, nanti besok kita jalan-jalan liat dinasaurus, ok"

__ADS_1


Keh.


Reza langsung menoleh kearah si sulung yang masih berdiri di tempatnya menyaksikan betapa dekatnya hubungan antara papa dan anaknya itu.


"Hubungi om Axel, bilang padanya untuk menutup wahana bermain miliknya karna besok papa akan mengajak Sam kesana" titah Reza.


"Siap, bos"


******


Hari ini Hujan pergi kerumah sakit miliknya di temani oleh Kahyangan, karna ada beberapa hal yang harus ia urus disana, Hujan meminta adik iparnya itu untuk menjaga baby bear saat ia pergi rapat nanti.


"Maaf merepotkanmu" ucap Hujan saat keduanya sudah berada dalam rangan Hujan.


"Aku justru senang bisa keluar, kakak tau kan bagaimana selama ini Bumi menjagaku" kekeh Yayang, menantu kedua keluarga Rahardian itu.


"Hahaha, kamu lebih parah dariku, yang" ledek Hujan.


Tubuh semampainya itu kini telah keluar dari ruangannya menuju ruang meeting, ia bersama Devan sudah bersiap melaukkan rapat yang biasa di lakukan para petinggi rumah sakit dan juga beberapa team dokter pilihan.


Cek lek.


Hujan membuka pintu dengan sedikit pelan, ia tersenyum saat melihat Kahyangan dan Bumi sedang asik bercanda dengan putranya, pemandangan yang sungguh sangat menyesakkan dadanya.


"Kak.. " sapa Bumi saat sadar jika kakak iparnya itu sedang berdiri di ambang pintu.


"Sudah lama?" tanya Hujan berbasa-basi.


"Lumayan, mungkin sekitar tiga puluh menit" jawab Bumi dengan samudera ada di atas pangkuannya.


Belum juga Hujan duduk, ternyata suaminya datang secara tiba-tiba membuat empat orang di dalam ruangan Hujan termasuk putranya menatap si sulung bingung.


"Kakak ngapain?" tanya Hujan.


"Kangen" sahut Air sambil memeluk tubuh mungil sang istri.

__ADS_1


Empat orang dewasa itu mengobrol sebentar sebelum akhirnya Kahyangan dan Bumi pamit untuk pulang.


"Hati-hati di jalan dan Terima kasih banyak" ucap Hujan saat ia melepas pelukannya dari Yayang


"Sama-sama, jangan sungkan jika butuh teman untuk menjaga Sam"


Hujan hanya mengangguk sambil tersenyum.


selepas kepergian pasangan paling santai dan kalem itu, kini tinggal Air, Hujan dan Sam yang tertinggal.


"Aku udah tanggung pulang, kita jalan-jalan yuk"


Yuk


"Emang papAy ngajak dede" ledek Air.


Mooooooy.


"Dasar tukang becak, eh salah tukang ngadu!" kekehnya yang langsung mendapatkan cubitan seperti biasa.


"Kita mau kemana?" tanya Hujan yang sepertinya setuju dengan ide suaminya.


"Ke mall yuk, belanja cemilan.


.


.


.


.


Yuk...


__ADS_1



__ADS_2