
πππππππππ
Acara peresmian di gedung kesehatan tengah usai, Air dan Hujan berpamitan pada semua yang masih ada disana termasuk team dokter pilihan yang dibawa langsung dari kota untuk mengabdi di sini.
"Kita makan dulu yuk, aku laper banget" ajak Hujan saat keduanya berada di mobil.
"Mau makan apa? akun kepengen yang pedes"
"Apa aja sekalian aku mau ganti baju Sam"
Baby bear berkostum beruang itu sedang asik menyusu di kursi belakang, tak perduli dengan obrolan orangtuanya, ia yang nampak lelah dan kenyang akhirnya tertidur dengan dot yang jatuh ke bawah.
"Beruang ngorok" kekeh Air, ia yang tadi melirik sekilas kebelakang langsung tertawa saat melihat anaknya terlelap dengan pulasnya.
"Lucu banget ya, aku gak tega kalo sampe cepet gede" kata Hujan, ia menatap Samudera dengan perasaan sayang luar biasa.
"Biarin cepet gede, nanti kita bikin adiknya Sam yang banyak"
Hujan mengalihkan pandangannya, tak pernah terbersit dalam hatinya untuk hamil dan memiliki anak lagi setelah Insiden Embun beberapa bulan lalu, ia yang masih merasa sangat bersalah terus saja merutuk dirinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Air saat dirasa istrinya justru malah melamun.
"Kamu mau punya anak lagi?" Hujan balik bertanya.
"Aku gak mau bilang iya atau enggak, Keputusan semua di kamu, Sayang"
Hujan mengatur lagi duduknya agar lebih nyaman, ia sandarkan punggungnya hingga sedikit berbaring.
__ADS_1
"Aku takut nanti pergi lagi kaya kemarin, sakitnya luar biasa banget, Ay" ucap Hujan dengan suara tercekat.
"Maaf, aku tak bermaksud mengingat kembali luka itu"
Air yang merasa bersalah langsung menepikan mobilnya, ia raih tubuh mungil Hujan masuk kedalam dekapannya, Air menciumi seluruh wajah cantik sang istri dengan rasa cinta yang begitu tulus.
"Sudahlah, hanya aku yang merasa belum ikhlas melepas putri kecil kita, tapi aku tak sanggup jika menggantinya, Ay"
"Embun selalu ada di hati kita, sayang. Dia punya tempat tersendiri. Bukankan ia hadir setelah Air Hujan?"
.
.
.
"Yuk ganteng kita makan siang dulu ya" ucap Hujan sambil turun dari mobil.
Yuk ateng mam yuyu yuyu yuk
Air dan Hujan tertawa, Sam tentu belum bisa mengucapkan apa yang ia dengar sempurna, ada saja yang salah entah itu dikurangi atau di lebihkan olehnya tapi itu tak mengurasi rasa gemas siapapun yang melihat dan mendengar.
Air dan Hujan menuntun Samudera kedalam kedai yang nyatanya cukup ramai, mereka memesan dua porsi makan khas kota tersebut sebagai menu utama.
Samudera yang lumayan tertidur lama kini bagai ponsel yang baru dicash, aktif dan tak mau diam. Ia terus menarik tangan Air keluar dari kedai menuju jalan yang terdapat beberapa tanaman dan bunga.
"Mainnya nanti ya habis makan" ujar Hujan pada Sam yang merengek.
__ADS_1
Nda. ayuuuuk ih.
Air yang pasrah akhirnya menuruti keinginan putranya keluar, anak itu begitu senang berjalan sendiri meski masih sering jatuh dan menabrak.
"De' jangan jauh jauh"
Nda.
Namun siapa sangka bocah menggemaskan itu malah duduk sambil tertawa kearah papAynya yang berjalan mendekat
"Kenapa?"
.
.
.
.
.
.
Apek ih...
__ADS_1