
π»π»π»π»π»π»π»
"Ganteng gak?" tanya Air di depan kaca meja rias istrinya.
Dulu ia tak memiliki barang itu, tapi semenjak menikah banyak barang tambahan di kamarnya, lemarinya bertambah besar, satu meja belajar dan dua rak buku milik Hujan memenuhi ruang tidurnya.
"Gantenglah, kalo gak ganteng gue gak mau" kekeh hujan sambil mencubit pipi suaminya.
"Jan, lo mau pindah gak?" tanya Air tiba-tiba membuat Hujan langsung mengernyitkan dahinya apalagi saat ini Air sudah mengubah posisi duduknya berhadapan dengan gadis halalnya itu.
"Pindah kemana?"
"Ya kali lo mau kita misah, kita mandiri gitu" tanya air lagi namun hanya di jawab senyuman oleh hujan.
Pemuda itu ingat perbincangan Nisa dan kak Aish yang menolak keras untuk tinggal dengan mertua saat menikah nanti, julukan nenek sihir sampa ibu tiri kejam tak luput dari cerita mereka mengisyratkan betapa mengerikannya tinggal dengan keluarga suami jika sudah menikah nanti.
Bagai pengalaman pribadinya sendiri yang ia pun tak pernah betah jika menginap di rumah bunda, tapi Air tak bisa mengelak karna itu adalah perjanjian mereka sebelum menikah.
"Enggak, gue betah kok disini. Apalagi masakan mama tuh enak banget" kekeh Hujan, ia memang sangat mengidolakan sosok mama mertuanya itu yang bisa mengurus segala hal dengan kedua tangnnya sendiri.
"Jadi mau disini aja, gak apa-apa?" Tanya Air memastiikan karna ia baru saja mendapat satu rumah hadiah dari Oppanya.
"Nanti aja, Ay. kita masih sama-sama sibuk kuliah"
.
.
.
Jatah weekend kali ini mereka habiskan dengan berjalan-jalan di taman bunga dan danau untuk sekedar melepas lelah dan penat karna hampir satu minggu selalu bekutat dengan laptop dan buku dari pagi hingga menjelang sore.
Air berjanji dalam hatinya untuk banyak meluangkan waktu berduaan dengan sang istri jika ia sedang tak Sibuk.
__ADS_1
"Kalo lulus kuliah nanti, kita kerja apa masih bisa Begini?" tanya Air sambil membuang nafas kasar.
"Kenapa?, kan masih ada weekend" jawab Hujan sambil terus merapihkan rambutnya.
"Gue pasti sibuk di kantor dan Lo juga mulai jadi KOAS. kalo nanti Lo di tempatin di luar kota apalagi pelosok jangan mau ya, Awas aja sih!" ancam Air yang membuat Hujan tertawa.
"Hahaha, justru itu yang seru karna ada pengalamannya"
"Eh, gue udah kasih Lo rumah sakit, gak usah macem-macem" Air mengingatkan lagi.
"Gak seru ah. Gue mau menjalankan prosedur yang berlaku, Ay" goda Hujan, ia senang jika melihat wajah panik suaminya.
"Lo diem aja deh dirumah!" Titahnya kesal.
Hujan hanya menyunggingkan senyumnya, ia belum tahu apa yang terjadi nanti dalam hidupnya dan juga rumah tangganya, Hujan tak mau bermimpi terlalu jauh Ia takut di hadapkan dengan takdir Tuhan yang mendadak lagi seperti pernikahannya yang tak pernah sedikit pun terbersit dalam benaknya.
"Gue mau sama Lo aja" bisik Air yang kini sudah memiringkan tubuhnya.
"Gak bosen? kan gue galak" ejek Hujan dengan nada di buat ketus.
"Enggak, pokonya sama Lo aja dari kemarin, hari ini, besok dan seterusnya." ucap Air lagi meyakinkan sang istri jika keinginannya tak main main.
Menjadikan ia begitu bergantung dan sulit lepas.
Istrinya itu selalu memberi ia rasa nyaman yang luar biasa, pelukannya adalah tempat teraman selama ini.
Semakin hari Hujan semakin mengerti dirinya dan semua kemauannya.
"Seberharga apa gue buat Lo, Ay?" tanya Hujan dengan rona wajah merah merona.
"Lo mau tau?" goda Air.
Gadis itu mengangguk dengan sorot mata begitu sendu namun penuh kasih sayang.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Lo itu berharga banget.
Lo cuek gue nangis
Lo sakit gue nangis
Lo gak ada kabar gue nangis
Lo gak bales chat gue, gue nangis
Lo gak angkat telepon gue,.gue nangis
Lo gak nyariin gue, gue nangis
Sampe Lo Dateng bulan pun gue yang nangis
Secengeng ini gue kalo sama Lo!!!
ππππππ
Kan Lo emang cengeng, Kak πππ
__ADS_1
Tapi Hujan emang berharga sih, buktinya Lo sampe miskin dadakan π€π€π€
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ