Air Hujan

Air Hujan
bab 39


__ADS_3

πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Hampir pukul jam sembilan pagi, Air baru bangun dari tidurnya. Ia bergeliat kecil sambil merenggangkan ototnya yang terasa sedikit nyeri.


"Jan... Hujan deres!" panggil Air setelah menguap beberapa kali.


Dirasa sang istri benar-benar tak ada Ia pun bangun dan duduk di tepi tempat tidur, kepalanya sedikit berdenyut karna rasa sakit.


Saat kesadarannya sudah terkumpul, Air bergegas keluar dari kamar dengan langkah gontai.


"Udah bangun?" tanya Bunda saat pemuda itu sudah berada di dapur.


"Hujan mana, Bun?" Bukannya menjawab, ia malah langsung menanyakan keberadaan sang istri.


"Udah berangkat tadi pagi" jawab Bunda.


"Kok gak bangunin kakak sih?"


Bunda mengernyitkan dahinya lalu tersenyum.


"Hujan udah bolak-balik bangunin kamu, tapi kamunya gak bangun bangun, makanya Hujan berangkat sendiri"Jelas bunda.


"Masa sih?, kok kakak gak denger kalo Hujan bangunin" gumam pemuda itu.


"Kamu sarapan dulu ya" Titah Bunda yang sudah menyisakan satu piring nasi goreng lengkap untuk menantunya itu.


"Kakak mau mandi" sahutnya yang lalu kembali kedalam kamar.


Air membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang sederhana, bahkan luasnya tak sebanding dengan kamar mandi miliknya.


.


.


.


"Bun, aku berangkat ya" pamit Air saat Bunda ada halaman rumah.


"Gak sarapan dulu?"


"Enggak, nanti aja" jawabnya setelah mencium punggung tangan Bunda.

__ADS_1


Air pergi dengan menaniki mobil hujan membelah jalan raya, sampai ia harus memarkirkan kereta besi mewahnya itu di area parkiran kampus.


.


.


.


**


Izin peluk istri saya...


Semua tercengang mendengar permintaan Air, anak dari pemberi saham terbesar di kampus mereka.


"Boleh ya, pak" mohonnya tapi sambil berjalan menuju Hujan.


Dosen berkacamata dengan memakai kemeja berwarna coklat itu bagai hilang kesadaran.


Ia terpaku melihat perilaku Air yang melangkah melewatinya dengan begitu santai.


Pemuda itu menarik kursi ke sisi istrinya, memeluk dari samping sambil mencium pipi Hujan.


"Tega banget Lo ninggalin gue!" bisiknya dengan nada kesal lalu pindah menggeser duduknya dengan merubah posisi menjadi saling berhadapan dengan Hujan.


"Saya gak ganggu mata pelajaran bapak, saya cuma ganggu istri saya" Sahutnya setelah menguap.


"Kalau begitu lakukan dirumah! bukan disini"


"Kan istri saya lagi belajar, pak" balas Air tak mau kalah.


Hujan yang panik, malu dan takut menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, setidaknya ia sedang mencoba tak ingin mendengar riuhnya para teman-teman yang meledek saling bersahutan.


"Ay, gak kasian sama gue yang jomblo?


"Ay, sakit banget hati gue"


"Ay, mau dong jadi istri Lo"


"Ay, balikan yuk?"


"Ay, jiwa polos gue sedang meronta-ronta"

__ADS_1


"Ay, kan gue jadi pengen ikutan nikah"


Dan banyak lagi sampai dosen pun akhirnya menggebrak meja.


"STOP!" sentaknya yang langsung membuat isi kela hening seketika.


"Bapak ngajar aja, saya cuma mau lanjut tidur di temenin istri saya " ucap Air yang masih merasa tak melakukan kesalahan.


Hujan yang sudah sangat kesal sampai memerah wajahnya menahan rasa malu luar biasa, entah ia harus marah atau bahagia saat ini.


"Mana tangan Lo" pinta Air.


Hujan mau tak mau mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh sang suami.


Air langsung meraih tangan Hujan kemudian menundukkan kepalanya di atas meja setelah mengatakan...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan pernah ninggalin gue lagi ya..


Gue gak suka saat gue bangun Lo gak ada!


Lo harus jadi orang pertama yang gue liat.

__ADS_1



__ADS_2