
πππππππ
" Ups. Maaf!"
Ameera yang baru datang dengan satu paperbag di tangannya hanya bisa tersenyum kecil, Ia menganggukan kepalanya sekali saat pandangan matanya bertemu dengan tatapan Anna.
"Adek kesini mau anterin makanan buat kakak" ucapnya memberi alasan sebelum Reza bertanya.
"Mama gak kesini?"
"Nanti sore kayanya, Kak. Bareng sama Daddy. " jawab si bungsu yang kemudian duduk disisi kakak kesayangannya setelah bersalaman dengan mertua keponakan cengengnya itu.
Reza hanya mengangguk paham, Obrolan pun akhirnya di dominasi oleh kakak beradik itu sedang Anna cukup menjadi pendengar sambil mencerna apa yang mereka bicarakan.
.
.
Air yang duduk di sisi ranjang terus menggenggam tangan Hujan yang perlahan menutup matanya.
Sesekali ia juga menghapus buliran cairan bening di ujung mata sang istri.
"Harus gimana lagi buat balikin kamu kaya dulu?, kakak kangen kamu, Jan!"
Pemuda tampan itu ingin sekali berteriak untuk melepas rasa sesak dalam dadanya, hatinya begitu hancur melihat Hujan yang sama sekali tak merespon kehadirannya.
Bahkan permintaan maafnya pun bagai angin lalu yang tak di dengar ataupun di gubris
******
Tiga hari berselang tak banyak kemajuan yang di alami oleh Hujan, ia memang tak lagi menjerit histeris ketakutan namun keadaannya kini justru lebih parah yakni melamun sepanjang hari sambil bergumam dan menangis. Hujan tenggelam dalam dunianya sendiri tak menganggap siapapun yang ada di dekatnya.
Tentu itu semakin menambah luka orang orang yang melihatnya. Reza yang sudah mendatangkan beberapa dokter dan psikiater hanya diminta sabar untuk kasus menantunya itu. Trauma yang cukup parah tentu membutuhkan waktu yang tak sebentar dan rasa sabar yang tak sedikit.
"Suasana rumah sakit tak terlalu baik untuknya, Anna minta izin untuk membawa Hujan pulang, Bang" pinta wanita berkaca mata itu saat keduanya keluar dari ruangan dokter..
__ADS_1
"Air suaminya, Mintalah izin padanya" jawab Reza tanpa menoleh.
Anna menghela nafas, ia yang sangat terpukul kadang merasa tak nyaman dengan banyaknya keluarga Rahardian yang datang silih berganti menjenguk Hujan.
Maka itu timbulah niat untuk mengurus putrinya sendiri.
.
.
.
"Ay.. bisa kita bicara?"
Air menoleh sambil menautkan kedua alisnya.
"Bicara aja, aku denger kok" sahutnya yang kembali menatap ke arah sang istri
"Kita bicara di kantin, bagaimana?" ajak Anna.
"Jangan lama-lama ya"
Anna mengangguk lalu berjalan lebih dulu setelah berpamitan pada Langit yang kebetulan ada disana.
Kini Air dan Anna sudah duduk saling berhadapan, Ada dua cangkir kopi di di hadapan mereka yang belum tersentuh sama sekali.
"Bunda mau ngomong apa?" tanya Air.
"Bunda mau bawa pulang Hujan kerumah" jawabnya tanpa basa basi lagi.
"Kerumah mana?" tanya Air dengan mengernyit kan dahinya.
"Kerumah Bunda, Bunda ingin mengurus Hujan"
Air bangkit dari duduknya langsung meninggalkan Anna tanpa bicara apapun lagi.
__ADS_1
Ia geram bercampur sesak dengan permintaan wanita berkacamata itu.
Aku gak mau ditinggalin kamu, aku akan selalu sama sama kamu, Jan!
Air terus bergumam dalam hatinya, ia meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap tinggal bersama sang istri apapun yang terjadi. Tak ada niatan dalam hatinya untuk pergi atau menoleh kearah lain saat keadaan Hujan kini berada di titik terendahnya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuan. Nona muda kembali mengamuk
πππππππππ
Gue siap jadi cadangan kok Ay π€π€π€
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.