Air Hujan

Air Hujan
Tembak!


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Ukuran bahagia bagi tiap tiap manusia sungguh berbeda beda porsinya. Ada yang bahagia cukup makan tiga kali sehari, ada yang bahagia dengan hanya di beri kesehatan. Ada pula rasa bahagia yang paling sederhana yaitu bisa menikamati senyum manis dari pasangan halal setiap membuka mata ketika pagi menjelang.


Begitupun yang kini di rasakan Air dan Hujan, berbaring dengan posisi saling berhadapan adalah salah satu bentuk bahagia dan rasa syukur mereka karna masih bersama dengan orang yang tepat sampai detik ini setelah hampir saja menterah dengan lika liku kisah cinta mereka yang cukup tragis beberapa tahun lalu.


"Kamu mau tahu gak, profesi paling enak itu apa?" canda Air mulai menggoda.


"Apa?" sahut Hujan, tahu tak tahu ia akan tetap pura pura tak tahu asal suaminya itu senang karna berhasil melayangkan gombalan recehnya yang bagai tak habis habis meski sudah memiliki dua anak yang salah satunya telah pergi meninggalkan mereka.


"Kang peluk, mau aku contohin gak, buat tester deh, kalau nyaman lanjut ya" kekehnya sambil menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya.


Rasa hangat pun langsung menjalar di jiwa dan ragan Hujan karna memang ia tak pernah merasakan hal itu sebelumnya dari pria manapun kecualo dari suaminya, Air arameza Rahardian Wijaya.


.


.


Puas berpelukan, kini saatnya mereka membersihkan dan merapihkan diri, tak ada siapapun di rumah utama membuat keduanya malas untuk keluar, maka itu Hujan meminta pelayan untuk mengantar kan sarapan ke kamar saja.


"Sepi banget, mau apa kita hari ini, kak?' tanya Hujan.


"Entah, kamu maunya apa"


"Susulin dede yuk, kok aku kangen banget ya"


Ya, si tutut jajah memang sedang tak ada di rumah utama ia dia ajak Reza dan Melisa mengadiri hotel baru milik Bumi sejak kemarin sore. Ketiganya pun berencana langsung menginap disana selama satu malam.


"Ntar juga pulang, biarin aja" sahut Air yang matanya tak lepas dari layar ponsel yang sedang ia pegang saat ini.


Air dan Hujan tentu langsung menggunakan kesempatan itu untuk melakukan hal yang menyenangkan berkali kali. Dan pagi ini Air akan berencana menghabiskan waktu siangnya untuk tidur dengan lelap tanpa gangguan sang tutut.

__ADS_1


Dan sesuai rencana, Sam pulang bersama Appa serta Ammanya saat sore hari. ketiganya yang baru tiba langsung di sambut Hujan yang sudah menunggu di ruang tamu dengan perasaan tak sabar ingin cepat memelik Samudera.


"Moy kangen banget sama dede, dede rewel gak?tanya Hujan saat anak kesayangannya itu sudah ada dalam dekapannya.


"Nda, dede main main. bobo sama Appa di ayunan." jawabnya.


Celoteh polosnya terus saja di dengarkan oleh Hujan sampai bocah tampan itu akhirnya ingat sesuatu.


"PapAy mana?" tanya yang bingung sambil mengedarkan pandangan.


"Iya, si kakak kemana, Jan?" tanya Melisa juga yang ikut mencari keberadaan anak kembar sulungnya.


"Ada di kamar lagi tidur gak bangun bangun, malah belum makan siang" sahut Hujan dengan sangat jujur.


"Loh kok bisa, begadang lagi?" tanya Melisa.


Hujan tak menjawab, mana mungkin ia mengakatan jika semalam ia dan Air habis berpetualang ke puncak surga dunia sampai beberapa kali.


"Hem, boleh. kalau gitu kita kekamar sekarang ya"


Dengan di tuntun Hujan, Sam melangkah menaiki tangga satu persatu sambil bernyanyi lagu yang di ajarkan di sekolahnya selama ini.


Ceklek


Hujan yang membuka pintu hanya bisa tersenyum saat melihat Sam masuk sambil berlari yang kemudian naik keatas tempat tidur.


"Papay dede pulang oey" teriak Sam di teling Air yang tidur dengan sangat lelapnya.


Pria itu tetap tak bangun meski Sam terus berteriak dan menggoyang bahu dan memencet hidung sang bayi buaya cengeng.


"Hem, apa?" jawab Air yang akhirnya mengerjapkan mata. Ia bangun karna tersentak kaget, semua itu terlihat begitu jelas dari netranya yang merah serta suaranya yang serak khas bangun tidur.

__ADS_1


"Dede pulang oey, lihat nih dede pakai apa?"


"Pakai apa?" Air malah balik bertanya sambil mempertajam penglihatannya.


"Nih dede pakai baju pulici, ganteng gak?"


Sam tersenyum dengan bangganya, memperlihatkan betapa gagahnya ia dengan seragam yang melekat di tubuhnya kini.


"Iya, Anak papAy ganteng banget, emang dede udah besar mau jadi polisi?" tanya Air sambil mengusap kepala putra semata wayangnya itu.


"Hem, boleh?" Ucapnya ragu.


"Boleh, kok. Asal kasih lihat papAy dulu ya gimana caranya nembak, Ok?" tawar Air.


"Ok, dengelin ya" jawabnya sedikit berdehem.


.


.


.


Hey.. mahu nda jadi pacal Dede??



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Astaghfirullah...


Bukan gitu wey Bocah!

__ADS_1


Sepupu si Om wowo ngajak silaturahmi bibir kayanya nih πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ€­


__ADS_2