Air Hujan

Air Hujan
bab 102


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•



Air menarik Hujan untuk duduk kembali, ia membuka kan obat dan menyodorkan segelas teh hangat untuk sang istri yang terlihat pucat dan tak tenang.


Pemuda tampan itu memperlakukan Hujan seperti biasanya penuh perhatian dan kelembutan.


"kangen ya, sampe pucet begini" bisiknya setelah mencium pipi sang istri.


Diandra yang masih disana tentu semakin muak melihat drama pasangan itu di depan umum.


"Lo beneran udah nikah , Ay?" tanya Diandra lebih memastikan.


"Udahlah, buktinya gue gak apa-apa mesum di kampus, kan udah halal" jawabnya sambil memeluk Hujan dari samping.


"Masih kecil udah nikah, kenapa?" Sindirnya pasangan itu.


"Gile aja kali cewek cakep begini gak gue kawinin buru-buru. Nanti di ambil orang bisa tamat hidup gue. Ilang ngikutin kucing aja gue nangis kejeeeeeerr" kekehnya di bahu sang istri.


Hujan tersenyum simpul, ia yakin wajahnya sangat merah saat ini.


"Nikah muda tuh rawan pisah, emang gak bakalan bosen kalo nanti ketemu yang baru?" ucap Diandra sambil menyesap minumannya.


"Gue gak akan oleng dari satu wanita yang udah sabar banget selama setahun ini demi satu wanita yang baru gue kenal kemarin, Dee" balas Air dengan serius.


Diandra tak juga terpengaruh dengan jawaban Air yang seharusnya itu bisa menekan mentalnya, ia tetap disana meski harus melihat pasangan yang sedang meluapkan rasa rindu bercumbu depan mata.


"Gue ada kelas, Lo mau kemana?" tanya Air pada Hujan saat Bumi mengirim pesan untuknya.


"Hem, ke perpus aja deh" jawabnya pasrah.

__ADS_1


"Gak bawa mobil?" tanya pemuda itu lagi.


"Enggak. Tadi bareng mama kesini sekalian mau kerumah utama" Hujan menghela nafasnya saat mengingat betapa takutnya ia tadi di mobil bersama mertuanya. Ia takut wanita Kesayangan suaminya itu banyak bertanya tentang masalah ia dan Air.


"Cie... si cantik gak cuma di sayang Suami tapi juga di sayang mertua!" goda Air sambil mengacak-acak pucuk rambut sang istri.


Uhuk...Uhuk.. uhuk..


Pasangan suami istri menoleh pada Diandra yang tersedak oleh minumannya sendri.


"Lo kenapa?" tanya Air dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.


"Gak apa-apa" jawab gadis itu yang sembari memegang dadanya yang perih dan sesak.


" Kita pergi ya, gue ada kelas. Oh iya! itu makanan sama minuman udah gue bayar semua, lain kali jangan cuma di pesan doang ya" Sindir Air pada wanita berjaket hitam itu dengan rambut panjang terurai Sepinggang.


Hujan Langsung mencubit perut suaminya saat melihat wajah Diandra yang merah padam menahan kesal dan malu tentunya, wanita itu tak berkutik sama sekali di hadapan pasangan bucin yang sudah sangat terkenal seantero kampus.


"Mentang-mentang dia gak punya malu malah sekalian di bikin malu sih Ay! kan percuma gak akan sadar juga" kekeh Hujan yang malah memeluk suaminya saat mereka sudah berdiri.


Sepeninggal Diandra. keduanya langsung keluar dari kantin menuju kelas Air.


Mereka hanya diam tak berkata apapun, berbeda ketika tadi di depan Diandra. Ada perasaan Canggung, kesal dan rindu yang mereka rasakan saat ini namun malu untuk di ungkapkan.


"Kok kesini?" tanya Hujan saat mereka justru berada di salah satu kelas yang kosong.


"Gue ngantuk, semalem gak bisa tidur gak ada Lo" cetusnya sambil menarik kursi untuknya dan untuk Hujan.


"Terus?" tanya gadis itu lagi, bingung.


"Lo kan abis minum obat, ada waktu dua jam lagi kita tidur yuk" ajaknya dengan senyum menggoda.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya...



Molor di situ mah gak bisa ada bonusan kak πŸ˜‚πŸ˜‚


Punya hotel sama kos'an buat apa ganteng?πŸ™„πŸ™„

__ADS_1


Tar di gigit nyumak loh!!


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️


__ADS_2