
πππππππππ
"Bayi?"
Air mengernyitkan dahinya, ia meyakinkan Hujan dengan apa yang gadis itu tunjuk.
"Kamu mau bayi?" tanya Air lagi masih ragu.
"Aku mau bayi, kita punya bayi" ucapnya sambil menatap kearah sang suami.
"Sayang.. itu gak bisa di beli, melainkan harus bikin sendiri" balas Air sembari menangkup wajah istrinya.
"Emang udah gak takut, Hem?" tanya Air yang lalu menciumi kedua pipi Hujan.
Gadis itu terdiam sejenak lalu ia menutup kedua matanya. Air membiarkan Hujan yang mungkin saja sedang meyakinan dirinya sendiri walau sebenarnya Air pun tak tega saat buliran keringat memulai membasahi keningnya.
"Kita makan kuenya di rumah aja ya" ajaknya yang lalu dijawab anggukan oleh Hujan.
Air meminta Mbak dan Daniel untuk membereskan barang miliknya, Ia memutuskan untuk pulang untuk menenangkan sang istri.
.
.
.
Sampai dirumah, Hujan kembali di bersihkan oleh Air. kini keduanya mandi bersama dalam satu bathup.
"Kakak mau tanya, boleh?"
Hujan langsung menoleh kebelakang karna memang posisinya duduk didepan sang suami, ia menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang Air.
"Tanya apa?,"
"Beneran pengen punya bayi?, Kamu harus hamil terus melahirkan. Apa kamu siap?" Air yang ragu dengan keinginan Hujan mulai meyakinkan lagi, karna ia sendiri sebenarnya belum memikirkan hal itu mengingat kondisi Hujan yang belum stabil dan pulih sepenuhnya.
"Apa itu sakit? sesakit saat..... "
"Sayang, Jangan di ingat lagi" Air menyelak omongan Hujan sebelun gadis itu mengingatnya lebih jauh.
Air langsung menarik tangan Hujan agar bangun, Kini tubuh polos keduanya sudah ada dibawah guyuran air shower yang dingin.
Air mengusap pipi sang istri dengan sangat lembut, turun ke leher dan berakhir di salah satu bukit yang selalu menantangnya.
Selama ini Air hanya menyentuh pada saat mengolesi obat pada bekas luka sayatan, tapi karna luka itu kini telah sembuh ia tak lagi menyentuhnya jika bukan sedang memandikan Hujan.
"Sakit" lirih Hujan saat ia melepas ciumannya.
__ADS_1
"Maaf.. "
"Udahan yuk, Nanti kamu demam"
Air mengambil bathrobe, lalu memakaikannya di tubuh sang istri yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Kamu tunggu disini ya, di temenin sama Mbak, Kakak ambil buah dulu sebentar" Pesan Air setelah mereka sudah merapihkan diri.
"Jangan lama-lama"
"Iya, sayang" kekeh Air sambil mencium kening Hujan.
.
.
.
.
Cek lek..
"Ada apa sih?" tanya Bumi saat baru saja kakaknya itu membuka pintu.
"Pasti galon lagi" ejek Langit.
"Kakak gak suka sama senyumnya Papa" ketus Air menahan jengkel.
"Senyum itu ibadah, Kak" sahut Reza menahan tawa.
Didalam ruangan kerja Reza kini empat pria tampan sedang berkumpul sedang mengadakan rapayt dadakan yang di adakan si sulung.
Ketiganya tentu kini tengah bersiap mendengarkan keluh kesah Air seperti biasanya.
"Mantu papa minta bayi tuh" seru Air yang bersandar lemas di lengan Reza.
"Bikinlah, yang banyak kalo bisa" jawab Langit.
"Banyak gimana, mau bikin satu aja ini mikirnya sampe sakit kepala" cetus Air geram.
"Tinggal tumpanh tindih aja ribet banget sih!" timpal Bumi yang membuat ketiganya nenoleh kearah si tengah.
"Kak.. gak pernah macem-macem, Kan?" tanya Reza dengan sorot mata serius.
"Enggak , Papah. Kakak udah gede kali" Belanya langsung.
Langit yang duduk di sebelah Bumi kini pindah ke sisi adik pertamanya itu, ia menepuk bahu Air dengan pelan.
__ADS_1
"Berarti sekarang saatnya kamu kasih nafkah batin lagi buat Hujan" ujar Langit memberi semangat untuk si sulung.
"Tapi kakak ragu, sekarang malah kakak yang takut bagian udah ON eh Hujan teriak histeris lagi kaya dulu" adunya sedih jika mengingat hal itu.
"Papa tau kan rasanya gimana, udah lama aku gak lakuin itu" rengeknya pada Reza.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enggak.. papa gak tau!
Paling lama cuma seminggu.. tau deh kalo dua tahun, kayanya kamu doang π€£π€£π€£π€£π€£π€£
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Bapaknya minta di cium πππππ
anak curhat di ledek terus
Ini sih trauma 22nya.
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan